Hujannya masih sama, masih rintik air berteman udara sejuk. Yang tak sama lokasi aku melihatnya, di tengah laut Derawan, di atas speedboat yang melaju kencang. Menuju pulang setelah seharian bermain dengan ikan dan terumbu karang, badan letih minta istirahat. Tapi sepertinya pengemudi kapal cepat ini tidak membawa ke dermaga, malah ia seolah lari menuju matahari terbenan.
Bersama titik-titik gerimis pada kaca speedboat, kubiarkan imajinasi melayang liar. Bersama tatapan kepada awan padat tak ada yang terpikir kecuali rumah tua dengan genangan air di depannya. Rumah yang kulewati pulang dan pergi sekolah. Pada wanita tua penghuni di dalamnya. Pada sumpah serapahnya. Pada kebenciannya pada hujan. Kami tak pernah bertegur sapa namun aku mengenalnya seolah nenek sendiri. Mungkin karena kami sering bersitatap sekalipun saling acuh. Begitu rintik pertama menimpa atap rumahnya ia langsung mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat aku ingin berlari sekencang-kencangnya. Entah kepada siapa api kalimat itu tertuju.
Pertama mendengar aku takut. Berprasangka bahwa ia marah karena aku melewati rumahnya setiap hari. Tapi ibu menjelaskan bahwa ia tak marah kepadaku. Ia marah pada nasib. Aku tak mengerti. Lalu ibu menyuruhku memperhatikan atap rumahnya yang bocor, langsung tergenang walau hujan turun sebentar, pada sampah-sampah yang dihanyutkan ke dalam, pada bau busuk setelah air berlalu. Dan pada keadaannya yang tinggal sendiri di rumah itu.
Berarti hujan adalah nasib. Nasib berarti rumah kita kena banjir. Kena banjir berarti kita boleh menyumpah, pikirku.
Sementara hujan untukku adalah lepas dari pengawasan ibu. Berlari dengan payung di tangan dari rumah langsung menutupnya begitu di luar pandangan. Sama dengan ketidak mengertian tentang kemarahan wanita tua itu terhadap hujan, aku juga tak mengerti mengapa kakiku mudah di bawa menari bersama kucuran air yang menjalar dari kepala, turun merembes ke dalam baju lalu turun ke kaki lewat pakaian dalam. Airnya terasa hangat.
Aku memikirkan sungai-sungai dari gurun jauh kala membiarkan bulir air hujan membasuh wajah. Air itu datang dari suatu tempat yang tak kukenal, mungkin pernah melewati kuntum bunga kuning yang hidup terpencil di padang savana. Aku mungkin tak bisa datang ke tempat itu tapi aku bisa membaui aromanya. Tak ada lagi yang kuinginkan.
Hujan di laut Derawan suatu senja juga membongkar kenangan pada luka-luka kecil. Kepada kemarahan ibu karena merasa dikhianati dengan pakaian basahku. Pada rasa sakit ketika badan meriang keesokan hari. Pada hangat bubur ayam yang disajikan untuk setiap anak sakit di rumah kami. Kadang ibu menyuapi tapi tentu tak lupa dengan seribu nasihat membuat perutku bertambah mual.
Aku suka hujan. Pada kenangannya. Pada airnya. Pada “genangan air” kehidupan yang mungkin tak berhubungan dengan hujan.
2 comments
Subhanallah.. Hujan memang rejeki yang tumpah dari langit uniii
Iya banget Mbak Tanti. Kenangannya lebih dominan tapi 🙂