Makan Nasi Kapau di Los Lambuang

Ke Bukittinggi  kurang lengkap jika tak mampir ke Los Lambuang ( perut) yang terletek di tepi Pasar Lereng yang sering longsor itu. Di lahan yang mengantong dari Bukit Kubangan Kabau  ini berdiri puluhan kios yang spesialisasinya menjual Nasi Kapau. Mereka menempati petak-petak segi empat, tak berdinding, bercat biru dengan meja dan bangku-bangku kayu merupakan rumah bagi amai-amai (ibu-ibu) penjual nasi Kapau asli. Melangkah ke dalam kita disambut dengan sapaan-sapaan ramah khas Minangkabau. Maklumlah jualan masakan dengan menu yang sama, citra yang sama dan mungkin juga rasa yang kurang lebih  sama membuka persaingan amat ketat. ” Cari apa Buk? Singgah minum … Continue reading

# Lampung 4 : Menikmati Kopi Liwa di Pasar Liwa

Bagi yang berkunjung ke Lampung gak lengkap jika tak mencicipi Kopi yang tumbuh dari atas tanah Sumatera paling selatan ini. Saya  tidak ahli dalam mengapresiasi cita rasa kopi, namun tiap berkunjung ke sini, sebagai “pembutuh kopi” saya selalu mencarinya. Di negeri penghasil kopi tak sulit menemukannya. Bertemu mereka di rumah kerabat, hotel, restoran, tempat jual oleh-oleh maupun di warung tepi jalan. Lidah kita selalu di dikte oleh pikiran. Itu sebabnya perbedaan tempat penyajian akan mempengaruhi rasa. Namun  bagi saya kopi adalah zat paling ampuh untuk membangkitkan mood, tak termasuk dalam gaya hidup, jadi dimanapun menikmatinya hasil akhirnya akan tercapai. Kegembiraan! … Continue reading

Berburu Pengkang ke Siantan

Pondok Pengkang di jalan raya peniti, kecamatan Siantan, tampaknya sudah jadi ikon makan kota Pontianak. Kalau googling Pengkang, refrensinya hampir semua menuju ke resto yang terletak di tepi jalan raya ke arah kota Singkawang dari Pontianak. Katanya sih rumah makan ini  sudah ada sejak 1934, seperti tertulis pada sign board dan ditegaskan lagi dalam lukisan yang tergantung di dinding. Benar atau tidak, sepertinya pengusaha di Pontianak  senang sejarah. Buktinya di posting saya tentang mie tiau Apollo, mereka juga membubuhkan tahun berdiri pada papan nama yaitu 1968. Pengkang itu rasanya tidak jauh dari lemper. Gurih dan cepat mengenyangkan. Boleh jadi sebab … Continue reading

Jengkol dan Rahasianya

Saya suka jengkol sejak dulu. Di rendang, di kalio, di semur atau digoreng cabe merah, boleh bawa semua ke hadapan saya. Namun tidak seperti mengkonsumsi jenis buah polong-polongan lain, makan jengkol bagi seorang gadis merupakan aib. Kalau ada yang tahu komentarnya akan begini: ” Idiiihhhh cakep-cakep doyan jengkol!!” Atau ” Wadow amit-amit cewek kok doyan kancing levis!” Setelah itu mereka berlalu dengan meninggalkan luka hati. Setelah beberapa kali mendengar komentar yang sama dan tak hanya dialamatkan pada saya, ketimbang diam-diam membiarkan orang lain berdoasa lebih baik hal itu di rahasiakan dengan segala cara. Dan saya punya dilema:  Ibu pintar memasak … Continue reading

Cumi Asam Manis

Sebagai penggemar cumi, saya suka makhluk laut bersayap ini dimasak apa saja. Dibakar ok, di goreng ok, apa lagi kalau dibuat asam manis seperti ini, tambah ok. Rasa gurih dari cumi segar kok ya nemu banget dengan kesegaran asam yang terdapat dalam saus sambel yang menggelimanginya. Cabe besar yang digunakan saya pikir hanya utk menambahkan rasa sengit sedikit saja pada tengah lidah. Jahe dan saus sambel lah yang paling berperan aktif membangkit selera. Cumi asem manis ini entah digolongkan dalam kuliner etnis apa. Murni chinese food rasanya gak mungkin, ada konten indonesia di dalamnya seperti warnanya yang meriah mengigatkan orang … Continue reading