Glodok yang Merah Menjelang Imlek

Sehari menjelang Imlek, aku jalan-jalan ke Glodok. Pecinan terbesar di Jakarta dan masuk kawasan kota tua Batavia ini  riuh rendah dalam terik matahari yang menggigit. Penjual, pembeli maupun mereka yang cuci mata sepertiku berhimpit-himpit memperebutkan ruang. Betapa berarti kalau saja bertubuh lebih tinggi. Tidak seperti sekarang, berkali-kali suami mencariku yang terbenam di keramain karena asyik saja memainkan camera pocket sehingga gak nyadar terbawa arus orang. Saking jengkelnya cameranya diambil dan dikantongi. Dikembalikan lagi ketika sudah masuk ke pertokoan dimana arus manusia sedikit lengang. Glodok yang biasanya kelabu, menjelang imlek berubah jadi lautan merah. Dimana-mana tampak orang menjual angpao, lampion, hiasan … Continue reading

Makan Nasi Kapau di Los Lambuang

Ke Bukittinggi  kurang lengkap jika tak mampir ke Los Lambuang ( perut) yang terletek di tepi Pasar Lereng yang sering longsor itu. Di lahan yang mengantong dari Bukit Kubangan Kabau  ini berdiri puluhan kios yang spesialisasinya menjual Nasi Kapau. Mereka menempati petak-petak segi empat, tak berdinding, bercat biru dengan meja dan bangku-bangku kayu merupakan rumah bagi amai-amai (ibu-ibu) penjual nasi Kapau asli. Melangkah ke dalam kita disambut dengan sapaan-sapaan ramah khas Minangkabau. Maklumlah jualan masakan dengan menu yang sama, citra yang sama dan mungkin juga rasa yang kurang lebih  sama membuka persaingan amat ketat. ” Cari apa Buk? Singgah minum … Continue reading

Kampu/Kempu Durian

Kempu durian

Walau cerita tentang Lampung masih banyak, hari ini di tunda karena saya mau menceritakan tentang Kampu atau Kempu Durian yang saya temukan di Pasar Pusat Sovenir Pontianak beberapa waktu lalu. Ukiran buah durian dari kayu ini ada beberapa buah mejeng diatas lemari kaca pada sebuah toko. Bentuknya yang unik menarik perhatian saya. Karena sudah membeli beberapa kalung dan gelang etnis Dayak disini, bapak si pemilik toko tak keberatan saya minta ceritakan soal benda-benda etnografi yang banyak dijual di tokonya. Kampu durian di gunakan suku Melayu Mempawah Kalimantan Barat sebagai wadah uang asap yaitu uang yang diserahkan calon pengantin lelaki kepada … Continue reading

#Lampung 5 : Menikmati Pagi di Desa Nelayan Kuala Stabas

Pagi saya di Krui disambut hujan yang berlangsung dari subuh. Duduk di beranda Hotel Mulia Krui memandang sisa gerimis sambil memotret beberapa kuntum kamboja jepang dan bougenville  yang kuyup, samar-samar tercium aroma laut tak jauh dari sana. Rupanya angin pagi yang lembut membawanya kesana. Di seberang jalan terlihat bangunan tua compang-camping, tak punya pintu dan tembok belakang.  Itu memperlihatkan sejumput laut dari tempat saya berdiri. Walau masih gerimis, saya menyeberangi jalan meninggalkan suami dan anak-anak yang masih tidur, mencari tahu pantai yang sore kemarin tak tampak dari sana. Setiba di tempat itu  mata  disergap hamparan laut dengan perahu-perahu yang bersandar, … Continue reading

# Lampung 3: Mengamati Krui di Pesisir Tengah, Lampung Barat

Sekitar pukul empat sore, setelah meninggalkan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan kami sampai di Pasar Krui, ibu kota Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Lampung Barat. Matahari pukul empat yang memancar searah kami datang, membuat kota kecil ini ditelungkupi bayang redup di bawah langit biru dan sedikit temaran warna jingga. Tampak tenterman di kejauhan. Sesaat melewati Jalan Merdeka dan masuk Jalan Jaya Wijaya mata saya di sergap oleh sisa kegiatan pasar di sebelah kiri. Terlihat beberapa orang Bapak tengah melakukan transaksi ikan. Mungkin sisa tadi pagi atau baru naik dari laut, saya gak tahu  pasti. Krui merupakan kota pesisir yang menghadap langsung … Continue reading