Indonesia Authentic Diversity

Indonesia Authentic Diversity – Branding Indonesia Saya beruntung terlahir sebagai orang Minang yang terkenal sebagai suku perantau dan berkarakter egaliter. Itu salah satu alasan mengapa Bapak saya enteng saja membawa keluarganya pindah  ke berbagai tempat. Kebiasaan yang secara tak sadar mengekpos saya kontak dengan berbagai etnis Indonesia lainnya . Pernah bertetangga dengan orang Sunda, Jawa, Batak, Ambon, Timor, Tionghoa, Aceh, Arab dan lain-lain. Kulit teman main saya dimulai  dari putih, kuning sampai legam. Mata mereka dari belok, sedang sampai sipit. Begitu pun rambut dari lurus, ikal sampai keriting. Dan tak ketinggalan bahwa bahwa mereka juga  memeluk berbagai kepercayaan. Singkatnya saya … Continue reading

Salam dari Kampung Halamanku

Saat ini sedang berada di kampung, melepas rindu pada ayah-bunda. Tadi sore meniti pematang dan menyusuri jalan kenangan. Menghirup aroma lumpur dari sawah dan melihat ikan-ikan kecil bergerimit di bawah airnya. Disini rasanya sebagian besar sejarah terlipat dan aku kembali jadi gadis kecil penyuka orang-orangan sawah yang tengah kembali pada kehangatan perlindungan dari ke-2 orang tua Ini pemandangan sawah di kampungku, di Magek-Bukittinggi : Bagaimana denganmu teman-teman. Punya cerita dengan kampung halaman juga? Salam, –Evi  

Pulau Cangkir yang Merana

Sekitar pukul dua belas bus yang ditumpangi ibu-ibu Majelis Ta’lim Baitul Makmur Cimanggis-Depok, sampai di Desa Kronjo-Tangerang Utara. Di alun-alun terapat patung cangkir besar  sebagai maskot dari kecamatan Kronjo yakni  Pulau Cangkir, tempat yang kami tuju. Namun dari sana kami harus berganti kendaraan lebih kecil karena kondisi jalan dan lahan di Pulau tak memungkinkan menampung kendaraan besar. Dengan menyewa mini van (kijang kapsul) Rp. 150.000/trip, memaksakan muatan 10 orang ibu-ibu berbadan subur, dimulailah perjalanan penuh bantingan. Gimana lagi. Para ibu ini ingin hemat ongkos. Walau kondisi jalan sempit dan banyak yang berlubang, guncangan-guncangan itu dinikmati dengan canda dan tawa. Jarak … Continue reading

Mewek Dibawah Masjid Pintu Seribu

Kemarin piknik lagi. Namun kali ini sedikit berbeda, ada sampiran  kata dibelakangnya: Piknik Spiritual :).  Itu bermula dari cerita  my sista  yang bersama teman-teman majelis taklimnya hendak memperingati maulid nabi dengan ziarah. Pilihan mereka dua tempat di Tangerang: Masjid Pintu Seribu dan Pulau Cangkir. Karena masih satu kabupaten dengan rumahku, walaupun dilakukan pada hari kerja, tidak ikut rasanya gimana gituh 🙂 Dengan satu bus, pukul setengah tujuh rombongan 30 orang berangkat dari Cimanggis-Jakarti Timur dengan tujuan utama Masjid Pintu Seribu. Karena ada tausiah selama perjalanan maka aku memutus bergabung dari sana. Sesampai di halaman masjid baru sadar bahwa  tidak membawa … Continue reading

Mencoba Mengakrabi Tradisi

Saat kemarin Mbak Dani menulis tentang arak-arakan pengantin Bugis, aku ingat pada tradisi serupa yang terjadi di Minangkabau.  Kalau tuliskan seluruh rangkaian acara ribet banget. Lagi pula sudah ada yang menuliskan lengkap disitus lain. Yang kutulis berikut  dua arakan wajib saja yaitu : Garis keturunan di Minangkabau di tarik lewat garis  ibu (matrilineal) dan sistem perkawinan yang berlaku adalah  matri-lokal atau uxori-local. Artinya setelah menikah pria akan pindah ke rumah istrinya. Tapi walau sudah mengucapkan ijab-kabul yang dilakukan entah di Mesji, di Balai Adat atau di KUA, pengantin pria (disebut marapulai) tak boleh langsung pulang ke rumah istri. Dia akan … Continue reading