Mencoba Mengakrabi Tradisi

Saat kemarin Mbak Dani menulis tentang arak-arakan pengantin Bugis, aku ingat pada tradisi serupa yang terjadi di Minangkabau.  Kalau tuliskan seluruh rangkaian acara ribet banget. Lagi pula sudah ada yang menuliskan lengkap disitus lain. Yang kutulis berikut  dua arakan wajib saja yaitu : Garis keturunan di Minangkabau di tarik lewat garis  ibu (matrilineal) dan sistem perkawinan yang berlaku adalah  matri-lokal atau uxori-local. Artinya setelah menikah pria akan pindah ke rumah istrinya. Tapi walau sudah mengucapkan ijab-kabul yang dilakukan entah di Mesji, di Balai Adat atau di KUA, pengantin pria (disebut marapulai) tak boleh langsung pulang ke rumah istri. Dia akan … Continue reading

Calliandra Emarginata Aku Cinta Padamu

Kalaulah bunga-bunga bisa ngomong dan mengidap narsisme akut seperti diriku, mereka pasti akan melonjak kegirangan tiap kali melihatku mendekat dengan camera. Pasti ngomong begini : ” Ibu..Ibu… foto kita dunk..Mohon lihat bentuk kami dari posisi  terbaik ya..” Dan aku akan menjawab, ”  Beres. Kalau tak cantik kalian tak disebut bunga, tapi coba perlihatkan padaku posisi paling cantik itu seperti apa..” Beberapa waktu lalu berpapasan dengan bunga berbentuk sikat kamar mandi ini. Di halaman perajin petani aren di Jawa Barat. Awalnya pengen motret seekor ayam jago yg berlindung di bawah pohon. Tapi sulur-sulur merah berujung bulat putih seperti sisir rambut dari … Continue reading

Glodok yang Merah Menjelang Imlek

Sehari menjelang Imlek, aku jalan-jalan ke Glodok. Pecinan terbesar di Jakarta dan masuk kawasan kota tua Batavia ini  riuh rendah dalam terik matahari yang menggigit. Penjual, pembeli maupun mereka yang cuci mata sepertiku berhimpit-himpit memperebutkan ruang. Betapa berarti kalau saja bertubuh lebih tinggi. Tidak seperti sekarang, berkali-kali suami mencariku yang terbenam di keramain karena asyik saja memainkan camera pocket sehingga gak nyadar terbawa arus orang. Saking jengkelnya cameranya diambil dan dikantongi. Dikembalikan lagi ketika sudah masuk ke pertokoan dimana arus manusia sedikit lengang. Glodok yang biasanya kelabu, menjelang imlek berubah jadi lautan merah. Dimana-mana tampak orang menjual angpao, lampion, hiasan … Continue reading

#Lampung 6 : Mari Main Kelereng

Ketika berada di kampung nelayan Kuala Stabas di Krui Lampung Barat kemarin, kami juga melihat sekelompok anak-anak main kelereng di sebuah sudut dermaga. Walau masih pagi dan kampung itu disiram hujan sejak malam, tak mengurangi derai  gelak mereka saat adu kepandaian diatas tanah berpasir. Aku yang  sudah lupa bagaimana aturan main kelereng sampai perlu mengamati dari atas batu yang tak jauh dari situ. Mengumpulkan ingatan, memahami bagaimana cara main gundu di masa lalu. Tentu saja tak lupa menceritakan kebanggaan kepada anggota rombongan bahwa aku  juga pernah memainkan permainan itu. ” Kalah mulu dong…” Ada yang tega nyeletuk seperti itu… Tadinya … Continue reading

Pelangi di Atas Genteng

Sore tadi halaman rumah saya terlihat memerah tembaga. Padahal sejak pagi suasananya mellow, panas-mendung tak beraturan.  Saat keluar,  di langit barat  tampak semburat pelangi. Kuning kemerahan yang membias di sekeliling halaman dan jalanan ternyata datang dari spektrum merah dan kuning pelangi itu yang menyeruak dari beberapa gumpalan  awan gelap. Sementara di belakangnya langit tetap berwarna biru. Melihat itu saya balik kedalam mencari camera. Pelangi di depan rumah ini cuma terjadi dalam hitungan jari sejak saya menempati rumah ini  17 tahun lalu. Jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja. Sayangnya  karena camera diistirahatkan dalam tasnya, butuh beberapa waktu untuk menyatukan lensa dan … Continue reading