Tari Rejang Shanti yang Membius

Tari Rejang Shanti

Udara tanpa angin, langit biru pekat bergurat awan putih, Tugu api Taman Mini Indonesia yang berlapis emas berkilat di bawah cahaya matahari sore. Sekumpulan perempuan dari anak-anak sampai usia agak lanjut berbaris,  berjalan ritmis dari sebelah kanan pelataran sambil menari menuju bawah kaki tugu.  Dengan hisasan kepala berbentuk bunga yang terbuat dari daun lontar, kebaya putih, tenun endek warna-warni, selendang putih panjang tersampir di pinggang, mereka seperti sekumpulan bidadari yang baru turun dari langit. Air mancur yang memancar sebagai latar belakang tidak membuat mereka tampak seseorang yang baru saja kehilangan selendang. Perhiasan terindah mereka tersungging di bibir. Sebaik-baiknya perhiasan perempuan … Continue reading

Sesaat Sebelum Malam Jatuh

Saat menjelang adzan magrib berkumandang tadi, jalanan begitu sepi. Orang-orang sudah berkumpul di rumah dan beberapa berjalan menuju  surau. Tapi aku menyelinap keluar, berdiri di pematang sawah menghirup aroma senja yang akan segera berakhir. Lagi pula aku sedang galau melihat kondisi kesehatan ibu, disamping tak tahan melewatkan senja merah di ujung langit begitu saja. Ini dia hasilnya : Bagaimana denganmu teman. Pernah ngegalau bersama senja di pematang sawah juga? Salam, — Evi

Kenalan dengan Fangsheng Tradisi Agama Buddha

Sub judul blogku ini : ” All journeys have secret destinations of wich the traveller is unware “ sebuah kutipan yang ditemukan di internet tapi lupa kucantumkan nama penulisnya. Nantilah akan dicari. Yang jelas seiring berjalannya waktu mulai sadar bahwa kebenaran dari ucapan tersebut tak terbantahkan. Dengan kata lain aku mulai membangun kepercayaan atas beberapa fakta kebetulan yang ditemukan selama mendalami hobbi jalan-jalan. Sama seperti Sabtu pagi tanggal 28 Januari ketika ke Tangerang untuk sebuah keperluan lalu melihat kerumunan orang  ramai di seberang sungai Cisadane, yang membuatku berhenti sejenak. Apa lagi dari seberang satu lagi, yakni dari tepi jalan yang … Continue reading

Pulau Cangkir yang Merana

Sekitar pukul dua belas bus yang ditumpangi ibu-ibu Majelis Ta’lim Baitul Makmur Cimanggis-Depok, sampai di Desa Kronjo-Tangerang Utara. Di alun-alun terapat patung cangkir besar  sebagai maskot dari kecamatan Kronjo yakni  Pulau Cangkir, tempat yang kami tuju. Namun dari sana kami harus berganti kendaraan lebih kecil karena kondisi jalan dan lahan di Pulau tak memungkinkan menampung kendaraan besar. Dengan menyewa mini van (kijang kapsul) Rp. 150.000/trip, memaksakan muatan 10 orang ibu-ibu berbadan subur, dimulailah perjalanan penuh bantingan. Gimana lagi. Para ibu ini ingin hemat ongkos. Walau kondisi jalan sempit dan banyak yang berlubang, guncangan-guncangan itu dinikmati dengan canda dan tawa. Jarak … Continue reading

Mewek Dibawah Masjid Pintu Seribu

Kemarin piknik lagi. Namun kali ini sedikit berbeda, ada sampiran  kata dibelakangnya: Piknik Spiritual :).  Itu bermula dari cerita  my sista  yang bersama teman-teman majelis taklimnya hendak memperingati maulid nabi dengan ziarah. Pilihan mereka dua tempat di Tangerang: Masjid Pintu Seribu dan Pulau Cangkir. Karena masih satu kabupaten dengan rumahku, walaupun dilakukan pada hari kerja, tidak ikut rasanya gimana gituh 🙂 Dengan satu bus, pukul setengah tujuh rombongan 30 orang berangkat dari Cimanggis-Jakarti Timur dengan tujuan utama Masjid Pintu Seribu. Karena ada tausiah selama perjalanan maka aku memutus bergabung dari sana. Sesampai di halaman masjid baru sadar bahwa  tidak membawa … Continue reading