Tarian Balon Udara Dalam Pesona Pagi

Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari kota Yangon akhirnya kami sampai di Bagan. Masih berbalut kantuk, subuh telah lewat, dengan tertatih-tatih saya turun dari mobil travel yang menjemput dari terminal bus. Kegelapan masih sempurna tapi aroma fajar sudah membahana dan menyesak di hidung. Iya pagi ini saya akan naik ke atas Shwesandaw Pagoda untuk menyaksikan matahari terbit. Mungkin pancaran sinar pertama dari mentari yang muncul dari ufuk timur sama di mana saja. Namun tempat kita menyaksikan membuat biasnya  terasa berbeda. Nah dari pelataran tertinggi Shwesandow yang berdiri di tengah lembah, dikelilingi kabut yang tersangkut di pucuk pucuk pohon, hanya … Continue reading

Hujan dan Cerita Sesudahnya

Sudah tahu kan bagaimana terjadinya hujan? Panas matahari menyebabkan air di permukaan bumi –bahkan dari tubuh kita  — menguap ke udara. Uap ini kemudian berubah jadi partikel embun, memadat (kondensasi) yang kemudian disebut awan. Awan-awan baru terbentuk, volume masih kecil, kemudian diterbangkan angin untuk  berkumpul bersama kawan-kawannya sampai akhirnya tebal (langit mendung). Pada suatu ketika, butiran air ini terlalu berat. Akhirnya mereka rontok,  kembali ke bumi sebagai hujan. Hujan hanyalah fenomena alam akibat hukum semesta dari sebab-akibat. Takkan ada hujan bila tak terdapat sumber air di bumi. Takan ada hujan jika matahari menolak bersinar. Begitu pun hujan takan terjadi jika … Continue reading

Bungkus Di Atas Paran

Dulu nenek sering memandangku dengan ekspresi putus asa. Wajahnya tampak nano-nano. Antara marah, kesal dan luruhan kasih sayang. Perkaranya sepele: Ia menganggap aku tak mengerti maksud baiknya. Bahwa ia memerintahkan ini itu tentu bermuatan pendidikan agar aku kelak jadi perempuan yang bisa mengerjakan tugas-tugas rumah. Tapi aku tak melihat ada kebaikan dari perintah-perintah seperti ini. Mengabaikan adalah opsi terbaik. Begitu pun telingaku tak cukup didesain dengan baik untuk menerima segala petuah, nasihat, atau wejangan mengenai konsep anak-anak yang baik. Jadi apa yang harus kulakukan selain memberi wajah lempang sambil mengangguk-angguk berjanji bahwa aku berusaha semampuku agar tak mengulangi lagi.  Tapi … Continue reading

Aku Kembali Ke Tempat Ini Untuk Menangis

“Apanya yang indah?” Tanyamu sesaat aku mendesis mengagumi bulatan besar dari bunga matahari yang sudah menghadap ke barat mengikuti sinar panutannya. Aku berpaling memandang semburat jingga di kaki langit. Aku ingin bertanya balik, tentu dengan nada yang ditajam-tajamkan: “Jika kamu bisa mendeskripkan satu kata saja mengapa bunga ini tidak indah, mungkin aku bisa menjelaskan!” Tapi saat memandang ke dalam matamu yang dibingkai kaca mata dengan indah itu, pipiku malah terasa hangat, dan jantung ini mulai berdetak-detak. Sungguh tak sopan, ia bertalu-talu tanpa bisa dikendalikan. Aneh mengapa pandangan geli dari matamu mampu menggelegakan seluruh darah di pembuluh dan syaraf-syarafku? Kembali berpaling … Continue reading

Ke Bukitinggi pada Kamis Pagi

Tersebutlah  beberapa orang Pahlawan Nasional dari Minangkabau. Diantaranya  Buya Hamka, Sutan Syahrir, Tan Malaka dan Mohammad Hatta. Mereka semua jadi kebanggan orang di kampung saya. Nama yang selalu disebut  saat membanggakan peran penting mereka di masa lalu. Namun sependek pengetahuan saya, monumen yang banyak didirikan dalam mengenang jasa-jasa pahlawan tersebut hanya Bung Hatta. Di Bukittinggi setidaknya ada tiga monumen bagi Si Bung Kecil. Pertama Istana Bung Hatta, replika bekas tempat tinggal yang sekarang di jadikan museum. Satu lagi sebuah gedung arsip yang terletak di belakang Jam Gadang. Masih di belakang Jam Gadang bersisian dengan gedung arsip, terhampar  Taman Monumen Mohammad … Continue reading