Tari Rejang Shanti yang Membius

Tari Rejang Shanti

Udara tanpa angin, langit biru pekat bergurat awan putih, Tugu api Taman Mini Indonesia yang berlapis emas berkilat di bawah cahaya matahari sore. Sekumpulan perempuan dari anak-anak sampai usia agak lanjut berbaris,  berjalan ritmis dari sebelah kanan pelataran sambil menari menuju bawah kaki tugu.  Dengan hisasan kepala berbentuk bunga yang terbuat dari daun lontar, kebaya putih, tenun endek warna-warni, selendang putih panjang tersampir di pinggang, mereka seperti sekumpulan bidadari yang baru turun dari langit. Air mancur yang memancar sebagai latar belakang tidak membuat mereka tampak seseorang yang baru saja kehilangan selendang. Perhiasan terindah mereka tersungging di bibir.

Sebaik-baiknya perhiasan perempuan adalah mereka yang mendandani wajah dengan seulas senyum tulus 

Mungkin kerena para bidadari ini tidak hendak pergi mandi,  Joko Tarub pun punya pekerjaan tetap sekarang, jadi tak punya waktu lagi untuk mengintip-intip perempuan mandi.  Yah memang mereka bukan lah bidari yang akan mandi di telaga. Mereka adalah para penari Rejang Shanti, yang pentas dalam memperingati ulang tahun Taman Mini  Indonesia Indah. Kebetulan tanggal 29 April 2017 juga diperingati sebagai  Hari Tari Nasional dan  Internasional (world dance day).

Gerakan tak kurang dari seratus penari itu selalu serentak, serba lembut dan gemulai. Pun  lagu pengiring seperti orang bergumam, berbisik dan terkadang seperti berdoa. Itu membuat pelataran Tugu Api terasa seperti panggung sang darwis yang menari di kepala saya.

Seperti kita tahu bahwa Darwis yang menari (Whirling Dervishes), ajaran sufi islam, bermakna bahwa dasar kehidupan  di bumi ini adalah berputar. Juga dianggap sebagai  ekspresi rasa cinta dari hamba kepada Sang Kekasih yaitu Allahu Robbi. Bila dalam tarian sufi gerakan tubuh memutar berlawanan arah jarum jam, Rejang Shanti sebaliknya. Tapi saya kira tarian ini tetap  tentang  sebuah bentuk menyatukan diri atau mengharmonikan diri dengan alam.  Visualisasi semakin indah dengan  choreography sederhana namun rapi. Sambil menggerakan tangan, memainkan selendang, berdiri dan merunduk, maju perlahan, kemudian berputar-putar. Rasanya mereka seperti membuat pusaran surga.

Menari dan berpusar

Menari dan berpusar

Tidak seperti tari Bali yang sering saya lihat dan musiknya saya dengar  kalau sedang liburan di Bali,   pengiring  tarian Rejang Shanti adalah suara manusia. Berlantun sedemikina yang saya yakin bisa membuat siapapun terpekur. Nah saya membayangkan seorang nenek tua di jawa yang duduk di bale-bale dapur terbuka di belakang rumahnya.  Di hadapannya tumbuh pepohonan hijau nan rimbun, bau tanah menyeruak keudara akibat panas matahari,  sementara segerombolan ayam mematuk-matuk makanan di bawahnya.

Seperti bidadari turun dari kayangan

Seperti bidadari turun dari kayangan

Saya duduk sambil bersender pada Tiang Bendera,  menghadap Tugu Api dengan kamera di tangan, saya lebih tepat disebut turis galau. Coba saja bayangkan keadaan bingung saat itu. Entah mana yang harus di dahulukan, memotret, membuat video atau menikmati tariannya saja. Tapi sebagai travel blogger tentu saja ketiga-tiganya harus saya lakukan. Saya menikmati pertunjukan tapi juga bekerja untuk blog saya yang membutuhkan gambar.

Rejang Shanti – Tari Perdamaian Untuk Negeri

Kembali ke rumah langsung browsing mengenai Rejang Shanti. Seperti sudah membayangkan, setidaknya agak benar,  bahwa Tarian Rejang Shanti memang dimaknai sebagai tari perdamaian. Diciptakan oleh Ayu Bulantrisna Djelantik sebagai reaksinya terhadap situasi negeri kekinian dan dunia global. Hiruk pikuk oleh berbagai hal negatif. Cobalah melongok sejenak ke internet, media massa, bahwa menemukan ucapan penuh kebencian sekarang hal yang mudah. Belum lagi kekejaman antar sesama yang hadir dalam banyak bentuk dan merajam sanubari kita. Jadi Rejang Shanti  adalah bentuk sumbangsih sang kreator  untuk menyelamatkan kita dan bumi yang ditempati  dari kehancuran.

Satu tarian melahirkan tarian lain. Rejang Shanti terinspirasi dari  Tari Rejang yang merupakan  tari sakral pada komunal di Bali. Tarian Rejang adalah tentang  meruwat bumi  dan diri sendiri. Sementara Tarian Rerjang Shanti merupakan transformasi dari tarian upacara jadi tarian ungkapan rasa syukur dan pencarian diri. Keduanya sama sakralnya.

“Dance, when you’re broken open. Dance, if you’ve torn the bandage off. Dance in the middle of the fighting. Dance in your blood. Dance when you’re perfectly free.” — Rumi

Konsep iringan vokal  sebagai pengiring untuk mengeksplorasi tradisi dan vokalisasi gamelan melalui seni genjek. Kain tenun endek warna-warni yang digunakan sebagai kostum simbol dari sbangsa Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Melalui Rejang Shanti pun ikut diangkat kekayaan seni tekstil daerah Bali.

Seperti yang saya saksikan di atas Tari Rejang Shanti dibawakan dengan tak mengenal usia. Orang tua, dewasa, remaja dan anak-anak boleh menarikan. Namun mereka dikelompokan sesuai umur:  Rejang Niang bagi kaum lansia, Rejang Biyang bagi kaun wanita dewasa, Rejang Jegeg  bagi remaja putri, sedang Rejang Alit adalah kelompok untuk anak-anak.

“Out beyond ideas of wrongdoing  and rightdoing there is a field. I'll meet you there

“Out beyond ideas of wrongdoing
and rightdoing there is a field.
I’ll meet you there — Rumi

When the soul lies down in that grass the world is too full to talk about

When the soul lies down in that grass the world is too full to talk about — Rumi

“Stop acting so small. You are the universe in ecstatic motion.”

“Stop acting so small. You are the universe in ecstatic motion.” – Rumi

Bookmark the permalink.

17 Comments

  1. Saya deket dari TMII neh, duuh kalau tahu ada acara ini pasti dateng. Saya suka tarian.

    • Mustinya secara berkala memang ada pentas tari atau acara-acara budaya lainnya di setiap anjungan Mbak liswanti. Kita berharap Taman Mini lebih aktif lagi menginformasikannya di website mereka agar lebih banyak orang tahu acara apa saja yang akan berlangsung. Dengan begitu kan pengunjung juga akan tambah banyak ya

  2. Halo Mbak Evi, makasih sudah sharing ceritanya

    Saya sekarang tinggal di Jakarta cuma baru tau ada acara ini di TMII, bahkan terakhir ke sana pas SMP dulu.
    Ah jadi malu, untungnya tau dari sekarang jado besok2 udah bisa jadwalin diri buat berkunjung ke sana.
    Keep sharing, Mbak

    • Hallo Mbak Liana…
      Di Taman Mini Indonesia Indah setiap bulan agendanya memang ada pentas budaya kok. Cuman saja memang kurang terekspos jadi kita tidak tahu..

      • Nah, itu fungsinya media kita ya Mbak untuk sharing biar makin banyak orang lain yang tau.

        Kapan2 kalo main ke sana lagi, mau bareng ya Mbak Evi 🙂

  3. Kain yg di pakai Penarinya cakep-cakep Tante.. Ah Taman Mini ingat waktu kecil duluk sering kesini. Pasti selalu ada yg menari seperti ini

    • Iya menurut aku salah satu daya tarik tarian ini adalah busananya. Kebetulan aku juga suka pada kain kain nusantara yang cantik. Jadi kalau telah menonton tarian dengan busana kain Nusantara ini 🙂

  4. baju penarinya anggun ya mbak. ironis juga tari untuk perdamaian tapi negara kita sendiri masih krisis sama damai dan nyaman.

    • Tari rejang Santi ini sebetulnya juga adalah suatu bentuk keprihatinan dan harapan agar Bhineka Tunggal Ika tetap tegak. Agar bumi tetap sama-sama enak didiami bersama, Ko

  5. Menarik banget tariannya, apa lagi temanya perdamaian. Kita butuh banget iniii…baru tahu ada hari tari 29 april hiks..

  6. duhh udah lama gak lihat tarian tradisional macam begini..
    mungkin harus disempatkan sesekali mengunjungi taman mini nih..

    • Ternyata di Taman Mini tiap bulannya masih banyak acara budaya, Mbak. Jadi kalau ingin melihat berbagai attraksi nusantara sebaiknya memang rajin-rajin datang ke sana 🙂

  7. ada rombongan dol Bengkulu di belakang..
    aku kok malah fokus pada busana para penari, lebih sederhana dibanding kostum taria2n Bali pada umumnya, tapi suka sekali lihat kain 2 yang dipakai…
    cantik2

  8. Sedang membayangkan tarian Rejang yang dimainkan oleh Lansia. Seperti apa ya? Apakah masih tetap gemulai dan anggun?

Leave a Reply