Hujan dan Cerita Sesudahnya

Kabut mengandung hujan

Kabut mengandung hujan

Sudah tahu kan bagaimana terjadinya hujan? Panas matahari menyebabkan air di permukaan bumi –bahkan dari tubuh kita  — menguap ke udara. Uap ini kemudian berubah jadi partikel embun, memadat (kondensasi) yang kemudian disebut awan. Awan-awan baru terbentuk, volume masih kecil, kemudian diterbangkan angin untuk  berkumpul bersama kawan-kawannya sampai akhirnya tebal (langit mendung). Pada suatu ketika, butiran air ini terlalu berat. Akhirnya mereka rontok,  kembali ke bumi sebagai hujan.

Hujan hanyalah fenomena alam akibat hukum semesta dari sebab-akibat. Takkan ada hujan bila tak terdapat sumber air di bumi. Takan ada hujan jika matahari menolak bersinar. Begitu pun hujan takan terjadi jika angin tidak menyatukan awan-awan kecil menjadi gumpalan besar mendung. Singkatnya hujan hanya terjadi bila semua syarat tergenapi.

“Dan hujan membentuk wajah bumi beserta seluruh kehidupan yang merayap di atasnya.”

Tempat turun  tidak selalu di lokasi  asal bibit air. Padang gurun yang jauh dari laut dan mata air suatu ketika akan menerima kemurahan hujan. Bukan karena kehidupan berasal dari air seperti yang dikatakn Filsuf Anaximandros, tapi karena keluarga fauna membutuhkan dua ikatan oksigen dan satu carbon dalam sel-sel agar berkembang sejahtera. Bibit flora butuh hal serupa agar mesin-mesin sel pertumbuhan mereka mau berjalan.

Setelah beberapa saat menerima siraman hujan,  padang gurun tandus akan gegap gempita memulai kehidupan baru. Tanah yang sekarang lembab  akan merekah agar mudah dilewati tunas-tunas lembut. Kantong-kantong aroma yang tidur selama musim kering akan pecah satu persatu menebarkan keharuman hakikat ke udara. Jika saraf di telingamu mampu menangkap suara suara yang timbul dari gurun setelah hujan, kamu tidak akan membutuhkan musik lain. Mereka mirip musik pengiring tarian seksual para dewi sebelum menerima sperma jantan. Khusuk, erotis, eksotis, penuh rahasia. Iramanya berasal jauh dari masa lalu, tersimpan dalam memori sel, yang membuatmu selalu merindukan nada-nada Aneh. Sesuatu tak dapat dijelaskan oleh bahasa kecuali ikut menari mengikuti turun-naik tangga nadanya.

Hujan dan Petani

Petani tentu saja mempunyai berbagai tanggapan terhadap hujan. Jika tak kunjung datang sawah dan ladang pasti tak bisa ditanami. Bila terlalu panjang  paceklik pun datang mencekik. Terutama kelompok petani kecil, tak punya surplus produksi untuk ditabung. Artinya tak ada musim tanam takan ada pula musim panen.

“Sementara kebutuhan ekonomi tak surut.  Maka berbagai cara pun dilakukan agar hujan tetap turun, apapun kondisinya.  Masyarakat kuno membuat upacara pengorbanan dan membujuk para dewa pengatur hujan agar berbelas kasih. Sampai sekarang  pun doa memanggil hujan masih sering dilakukan”.

Dan hujan berlebihan pun juga membuat petani gelisah. Sawah tidak bisa ditanami karena tergenang air. Ladang pun terancam rusak karena kelebihan air. Memang alam membuat hukum-hukum “kurang menarik” dalam kelebihan maupun kekurangan. Alam selalu  menyukai harmonisasi.

Hujan Bagi Sepasang Insan

Hujan tak pernah dinilai hanya sebagai peristiwa alam. Manusia akan selalu memaknainya berdasarkan kondisi sosial dan mood yang sedang dialami. Hujan bagi sepasang kekasih  yang baru jatuh cinta tentu berbeda bagi mereka yang baru saja putus hubungan. Mereka yang sedang bahagia melihat hujan sebagai biduk yang berlayar di lautan bahagia. Dari sana mungkin akan lahir ratusan puisi, prosa, novel atau  hanya sebaris status romantis di sosial media. Mereka juga berpeluang besar mendengar  Orchestra dari padang gurun yang sedang melahirkan kehidupan. Karena alam membanjiri saraf-saraf orang bahagia  dengan hormon testosteron, esterogen, dopamin, dan bahkan norepinefrin  yang membuat syaraf mereka lebih sensitif.

“Jadi jangan pernah tanyakan bagaimana hujan mempengaruhi suasana hati kepada mereka yang sedang patah hati. Apa yang akan kamu lakukan itu kejam!”

Sedia payung sebelum hujan

Hujan Bagi Penduduk Kota

Dan hujan bagi penduduk kota yang tinggal di daerah padat, rendah dan  di tepi kali, kehadirannya di sambut berbeda oleh mereka yang tinggal di daerah tak pernah mengalami banjir. Sementara mayoritas penduduk kota seperti Jakarta tak menyukai hujan terlalu sering, lebat, dan lama. Karena hampir dipastikan sungai dan kali-kali segera penuh lalu meluap naik ke jalanan dan masuk ke rumah mereka. Bayangkan lah bagai mana air kotor memasuki ruang-ruang paling pribadi di tempat tinggal kita. Begitu surut jejak lumpurnya perlu kerja keras untuk menyingkirkan.

Begitu lah hujan dan air yang dibawanya. Mereka adalah sumber kehidupan. Tapi saat kehadirannya tak dikehendaki atau tidak pada tempatnya air berubah jadi bencana.

Sekali lagi hujan hanyalah proses rontoknya  awan menjadi air. Fenomena alam yang sudah terjadi sejak bumi mempunyai atmosfer. Namun kehadirannya dimaknai berjuta oleh umat manusia. Tapi kalau dipersempit hanya dimaknai pada  2 sisi ekstrim: Hujan sebagai berkah atau sebagai bencana.

Mari kita main hujan ….

Bookmark the permalink.

10 Comments

  1. Kok belakangan takut banget sama hujan ya? Tiap jelang sore selalu deg2an. Disini angin kencang selalu menyertai hujan. Mengapa hujan tak lagi ramah & romantis?

    • Hujan sebenarnya masih ramah dan romantis, kalau menurutku Mbak Lus. Namun lingkungan yang berubah. Entah oleh kesalahan kita maupun faktor alam 🙂

  2. Lebih baik terjebak hujan, dari pada terjebak masa lalu tante..

    Hujan selalu akan membawa berkah

    • Iya, kalau terjebak kita harus pilih jebakan yang lebih menyenangkan ya, Jrin.. Terjebak masa lalu kalau dapat membuat masa depan lebih baik, boleh saja. Tapi jika berpotensi membusukan masa kini dan masa depan, sebaiknya ditinggalkan..

      Terus aku pagi-pagi sudah ngomong serius, Jrin. Kayaknya butuh kopi ..

  3. Hujan, membawa keberkahan. Hujan, membuat kita betah untuk blogwalking. Syahdu. Hujan bagi alam, adalah peremajaan. Tapi kalau hujan terus, g bisa2 jalan. haha.
    Tulisanmu syahdu bener Mba. Asik dibaca. Mengalir indah. Dibuat pas sedang turun hujan ya?

    Btw, aku bingung Mba. Ternyata kamu masih punya blog lain ya. Tak kira hanya eviindrwanto yang biasa aku kunjungi itu. Kok ndak pernah update lagi? hehe

    • Hahahaha..Hujan memang bisa digunakan untuk berdalih, Mas Hanif..Iseng kala tak ada pekerjaan, kangen sesuatu tapi tak tersampaikan, atau mengenang sesuatu…Hujan seperti juga kata-kata tempat kita berlindung dari kenyataan sebenarnya..

      Iya ini blog jarang update Mas. Ngurus Jurnal Evi Indrawanto sudah menghabiskan waktu. Tapi jika ada sesuatu yang tak bisa ditampung di blog satunya lagi, blog ini tetap jadi tempat persinggahan yang indah untukku…

  4. Hujan jadi sebuah berkah yaaa, apalagi kalo pengantin baru hahaha

  5. hujan bagi saya bang …. gak bisa dolanan ,,,, 🙁

Leave a Reply