Bungkus Di Atas Paran

Dulu nenek sering memandangku dengan ekspresi putus asa. Wajahnya tampak nano-nano. Antara marah, kesal dan luruhan kasih sayang. Perkaranya sepele: Ia menganggap aku tak mengerti maksud baiknya. Bahwa ia memerintahkan ini itu tentu bermuatan pendidikan agar aku kelak jadi perempuan yang bisa mengerjakan tugas-tugas rumah. Tapi aku tak melihat ada kebaikan dari perintah-perintah seperti ini. Mengabaikan adalah opsi terbaik. Begitu pun telingaku tak cukup didesain dengan baik untuk menerima segala petuah, nasihat, atau wejangan mengenai konsep anak-anak yang baik. Jadi apa yang harus kulakukan selain memberi wajah lempang sambil mengangguk-angguk berjanji bahwa aku berusaha semampuku agar tak mengulangi lagi.

Paran- Penyangga atap Rumah Gadang

Paran- Penyangga atap Rumah Gadang

 Tapi mana ada seorang cucu bisa menipu neneknya?  Rentang pengalaman mereka bagai bumi dan langit. Wajah lempangku tetap diterjemahkan nenek sebagai melawan dalam hati. Tambah lempang, tambah lurus, tambah datar, dianggap makin hebat perlawanannya. Jika boleh ditasbihkan melawan dalam hati itu dosanya berlipat dibanding menyatakan ketidak setujuan secara frontal. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah “melawan dalam hati”, bagaimanapun,  tetap pilihan pertama kalau sudah berhadapan dengan perintah untuk mendidik atau nasihat agar aku tumbuh jadi gadis baik-baik.

Dan diakhir peperangan, dengan suara lemah, mata memandang jauh ke horizon, nenek akan berkata seperti ini : “Coba lah nanti kalau sudah dewasa, akan kau rasakan sendiri bagaimana rasanya seperti ini: Terbungkus di atas paran!”

Mungkin maksud nenek, ia ingin membunuhku tapi tak tega karena bagaimanapun ini termasuk cucunya yang cantik sejak kecil #eh #gdubrak #abaikan.

Ngomong-ngomong paran adalah  kayu melintang yang menopang atap Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau). Mengingat letaknya yang tinggi dan perannya yang sangat penting dalam struktur bangunan, kalau tidak runtuh tempat itu tidak akan pernah diusik. Jadi bila seseorang meletakan suatu benda ( seperti bungkusan berharga) di sana, jelas selamanya tidak akan bisa diambil lagi…

Dulu keluhan bungkus di atas paran nenek tak memberi dampak apa-apa Seperti semua makhluk mbalelo lainnya, yang dianggap tak penting takan disimpan sembagai pengetahuan. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Tapi tiba-tiba Telur Columbus menggelinding di depan mata. hidup sekali lagi menuntut agar aku bertekuk lutut. Sekarang paham apa yang disebut nenek “rasa yang seperti bungkus terletak di atas paran”.  Rasa yang tak terjangkau, tak tersentuh dan lebih jauh dari langit ke-7. Orang menyebutnya: Rindu yang tak bisa diungkap!

Bookmark the permalink.

6 Comments

  1. Saya masih coba memahami tentang arti Terbungkus di atas Paran, Mbak. Tapi itu foto rumah gadangnya cantik sekali

  2. ungkapan yang berangkat dari kearifan lokal ranah Minang yo Uni Evi, rumah gadang keren banget. Istana baso kah?. Salam hangat

  3. Mantab sekali…
    Amazing Indonesia

Leave a Reply