Aku Kembali Ke Tempat Ini Untuk Menangis

“Apanya yang indah?” Tanyamu sesaat aku mendesis mengagumi bulatan besar dari bunga matahari yang sudah menghadap ke barat mengikuti sinar panutannya. Aku berpaling memandang semburat jingga di kaki langit.

image

Aku ingin bertanya balik, tentu dengan nada yang ditajam-tajamkan: “Jika kamu bisa mendeskripkan satu kata saja mengapa bunga ini tidak indah, mungkin aku bisa menjelaskan!”

Tapi saat memandang ke dalam matamu yang dibingkai kaca mata dengan indah itu, pipiku malah terasa hangat, dan jantung ini mulai berdetak-detak. Sungguh tak sopan, ia bertalu-talu tanpa bisa dikendalikan. Aneh mengapa pandangan geli dari matamu mampu menggelegakan seluruh darah di pembuluh dan syaraf-syarafku? Kembali berpaling sambil merasakan usapan lembut bayu pada pipiku yang memanas. Tak lupa jua berdoa agar kelakuan aneh ini tak terlihat olehmu.

Kemudian terdengar tawa halus, tawa yang membuat sore itu terasa sakral. Aku tahu aku telah gagal menyembunyikan perasaan. Di saat bersamaab aku juga tahu bahwa perasaanku mendarat di tempat yang tepat, jadi tak perlu juga disembunyikan.

Dan sekarang sore itu kini telah melewati 13 purnama. Aku kembali ke rumpun bunga matahari yang sedang menghadap ke Barat. Bunganya tetap cantik, tetap mengingatkan pada Claytie yang dikutuk Dewa Apollo nenjadi puspa indah ini. Sayangnya sekarang aku sendirian.

Setelah 13 purnama mestinya air mataku tuntas mengering bersama semakin samarnya jejakmu. Tapi tidak! Aku kembali ke tempat ini sengaja untuk menangis. Air mata yang tertumpah di tempat lain hanya membuat hantumu kembali. Sementara aku ingin meneruskan hidup jadi harus mengubur bayanganmu selamanya. Karena aku pernah memujamu, kubuatkan pusara indah bagimu di ladang bunga matahari ini…

Bookmark the permalink.

4 Comments

  1. ladang kembang matahari jadi setting cerpen Uni Evi yang keren.

  2. Tante evi aku ngebaca ini jd melow..

Leave a Reply