Pagi Berhalimun

Pagi di rumah ibu di awali udara dingin yang menusuk dan suara adzan yang bergema dari segala pelosok. Saya membuka mata, menarik selimut, tetap berbaring, diam-diam mendengarkan awal aktivitas manusia. Tak lama suara motor berdengung, melintas perlahan seolah enggan menembus dingin. Lalu cicit burung pipit yang entah bersarang di mana.
image

Usai menunaikan kewajiban saya bergerak ke pintu. Derit karat engsel membawa pandang ke pagi yang masih pekat. Embun mengambang dimana-mana. Dari lereng bukit turun ke sawah-sawah dan jalanan. Jarak pandang hanya beberapa meter ke muka.

Dan pagi tadi aku berpesta dalam embun :

Sawah dan halimun

Pukul 6.30 Wib. Berangkat sekolah di jalan berembun

Pemandangan dari halaman rumah ibuku

Bersepeda menuju warung atau pasar?

This slideshow requires JavaScript.

Selesai memotret saya cepat-cepat masuk ke rumah . Puncak hidung terasa dingin saat diraba. Sepertinya saya juga membawa aroma Ambon ke dalam.

Ah pagi berhalimun yang sudah berlalu bertahun-tahun. Namun bersama kenangan terasa dekat.

Salam embun pagi:)

— Evi

Bookmark the permalink.

92 Comments

  1. Kabut paginya damai sekali. Sungguh !!

  2. sehabis baca dan liat rasanya jadi kangen nuansa kabut yg menutupi pandangan kayak itu,,di daerah pesisir jarang kabut hehe

  3. Jadi kebayang sejuknya khas suasan pedesaan..

  4. aku baru tahu kata halimun mba Evi, hehe maklum jarang baca buku.. halimun ternyata kabut,ngmong ngmong soal kabut.. itu dingin banget yaak pas pagi itu tpi sejuk sejuk gimana gitu hehe

  5. saya pernah membaca sebuah Zine dengan nama Halimun. sebenarnya, Halimun itu istilah atau nama untuk apa ya?

    • Dalam postingan ini, yang saya sebut halimun adalah kabut pagi..Yang turun karena perbedaan suhu udara disekitarnya πŸ™‚

  6. Aku tinggal di kaki gunung dan pagi berhalimun aku jumpai di sini walaupun ngga sering. Tapi sepertinya di daerah ibu lebih dingin ya dibanding daerah ku….

  7. sepertinya di daerah ibu lebih dingin di banding daerah ku.

  8. Halimun itu apa ya Uni?
    Kabutnya keren…

  9. Ni Made Sri Andani

    Di kota kecil saya,kadang-kdang masih mengalami pagi yang berkabut. Tapi Bukittinggi ini kelihatannya sangat dingin ya Mbak.

  10. Pasti mengasyikan ya Bu …

  11. aduh komen saya kok hilang …

    saya hanya ingin bilang …
    saya suka sekali dengan foto bapak yang naik sepedah ditengah halimun itu …
    keren sekali fotonya

    salam saya Bu Evi

  12. Saya suka dengan Foto bapak yang bersepeda di tengah halimun kabut itu …
    seingat saya … saya jarang sekali mengalami pagi berkabut …

    baru sekitar bulan lalu … saya melihat di sekitar rumah saya

    salam saya Bu Evi

  13. Saleum,
    Iya tuh, halimunnya tebal banget. Pasti didataran tinggi ya kampungnya?

  14. Suasana pegunungan sangat mengesankan, indah. Sy sangat jarang menemukan hal2 spt ini, padahal sy tinggal dikampung lho, tapi pantai πŸ™‚
    Sukses!

  15. wah burung pipit
    belum pernah denger lagi πŸ™

  16. kangen suasana desa yang giniaan.. soalnya biasanya kabut ada kalo di tempat yang dingin, bersih dengan ketinggian tertentu. kalo dikota, kabutnya kotoor.. asep knalpot semua

  17. wow….pagi yang indah….suasana pagi yang tak pernah aku temui di tempat tinggalku…..subhanallah…..gambar pagi yang keren!!

  18. hampir tiap hari bunda, karena kampungku ada di kaki gunung ciremai,,
    meskipun terkadang malam hari kesunyian dan suara jangkriknya pecah oleh suara moto trail yang menjadi pilihan transportasi yang paling cocok dengan kondisi jalan di kampungku

  19. Mba asli aku ikut kedinginan di sini πŸ˜€

  20. Saya melihatnya saja sudah ikut kedinginan, asli saat saya mengetik ini kok sekujur badan ikut dingin … eerrrrr kedinginan beneran

    Bagus and keren mba, tapi dinginnya sampai kerasa ke Jakarta begini ya ???

    Salam kenal πŸ˜€

  21. Pingback: Blogger Award Kedua | Draft Corner

  22. Kalo di Palembang, aku jarang ketemu pagi berembun, mbak. Pernah juga sih beberapa kali, tapi itu kalo malam sebelumnya hujan deras, hehe..

    Foto-fotonya cantik banget, mbak, waktu ngeliatnya saya langsung terbayang desa yang permai dalam buku bahasa Indonesia jaman SD dulu πŸ˜€

    • Sepertinya Palembang sdh jadi kota besar yah Jeng. Di kota emang rada susah menikmati kabut kecuali kabut polusi.
      Thanks Jeng, aku waktu motret sawah, gunung dan batang kelapa disini baru ngeh kalau gambar2 yg diajarkan waktu SD dulu berasal dari pemandangan seperti ini..

  23. seperti biasa fotonya cantik cantik mbak Evi
    di sini aku juga sering bersepeda menembus kabut, yg kadang bisa seharian menyelimuti desa
    itu pohon yang ada di sisi kiri kanan jalan apa namanya mbak ?

  24. halimun artinya embun atau kabut ya? hihihi,, ga tau aku.. πŸ˜€

    alhamdulillah bu, saya masih bisa merasakan suasana seperti itu hampir setiap hari πŸ˜€

    luar biasa skali itu Allah menciptakan pemandangan yang bgitu indah di pagi hari.

    • Beruntung yg masih bisa tinggal dekat halimun ya Mas. Kata halimun sepertinya jarang dipakai sekarang, kecuali dlm puisi. Wong masih menyebutkan benda yg sama dr kabut, kemarin aku pakai saja πŸ™‚

  25. Saya belum pernah merasakan pagi dengan halimun, krennn banget mbak…kalau halimun tukang fogging sering mbak…

    pasti menyenangkan yach..pagi2 ada halimun dinginnnnnn

  26. whuaaaaaa…
    keren banget mba Eviiiii…

    aku tinggal di dalam komplek dan susah nyari halimun mba…
    segitunya ada kabut…
    ternyata tetangga sebelah lagi bakar sampah dan asapnya sampai ke rumah…hihihi…
    *pedih*

  27. Di perumahan kami awal pindah dulu masih bisa ketemu kabut ni, sekarang udah jarang banget, udah padat.

    Jadi rindu kampung halaman yg di kaki gunung juga ni, langsung pergi mandi ke sumber air panas

  28. kalo di kampung sana bisa menikmati suasana seperti itu
    di Jakarta mana bisaaa hiks
    pengen mudik jadinya

  29. hems selalu mengundang pesona. kesahajaan sebuah desa.
    mengingatkan aku pada Dieng. udara dingin berkabut tapi hangat sambutan pada warganya. he he berbeda dengan kota metropolitan ya mbak evi, terang benderang dan panas tetapi dingin warganya.

    • Waktu ke Dieng itu pula yg aku rasakam Mb Min. Warganya masih bersarung menghapi kabut pagi, namun secara emosi tak membangun penahan dingin dalam berhubungan dng sesama πŸ™‚

  30. pernah mbak…waktu camping dulu, hehe…. dingi2 asyik ya mbak… πŸ™‚
    oya, di Salatiga juga sering menemui kabut 7 embun…etapi itu duluu…entah sekarang, mungkin Bu Prih lebih tahu, hehe…

  31. wahh..berkabut πŸ˜€

  32. suasana yang puitis banget…..di bukit tinggi ??

  33. pas awal2 winter kemaren disini juga sering berkabut tebel banget gitu… πŸ™‚

    tapi kalo embun2 sih setiap pagi selalu ada bu. keliatan terutama dari mobil2 yang diparkir di jalan. kalo kita pagi keluar jalan nganter andrew sekolah, mobil2 itu pasti pada basah.

  34. Subhanallah, cantik nian foto – fotonya.. πŸ™‚
    Baru ngeh kalo halimun = kabut ya..?? hehe..maklum bukan orang Minang.

  35. kalau di pariaman, tempat ambo.. gak pernah ada halimun… πŸ™

  36. ditempatku. . . . . . hampir tiap malem halimun. . . . . emailku belom dibuka ya mbak.. . .

  37. Dulu saya tinggal di Puncak, Cipanas … udah biasa dengan halimun πŸ™‚
    Pasti segar yaaa itu πŸ˜€

  38. Lah, itu cewek yang berkendara pake motor, helmnya mana? πŸ™‚

  39. ya ampun buda…kabutnya sesuatu banget, ini yang saya cari beberapa hari yang lalu, sampai sekarang masih rindu banget sama embun dan kabut…
    eh akhirnya dapat kabutnya di sini….

  40. pernah bun dipuncak πŸ™‚ kalau dirumah jam 6.30 sudah terik mataharinya

    • Di bukit kebun teh, halimun hal yg biasa ya Mb Lid. Iya aku jg jd ingat puncak salah satu tempat paling dekat dr Jakarta yg kita bisa nikmati halimun diatasnya

  41. saya tinggal di kaki gunung Mbak, masih sering merasakan halimun sampai sekarang, meski mulai berkurang di banding saya kecil dulu.
    Dan saya, sangat suka halimun, apalagi ditambah rintik hujan & hutan pinus .. ufh, indah …

  42. Wow, wow, wow. Pokoknya setiap melihat masing-masing foto yang keluar hanya itu…..
    Oh ya tahun lalu saya dari Bukittinggi lewat Ngarai Sianok terus ke Danau Maninjau dan kebetulan di kelok 44 hujan. Persis seperti ini Uni, kabutnya huuuuu membuat ujung-ujung jari, telinga, hidung menjadi dingin, … πŸ™‚

  43. Karena Rumah Ibuk saya dipuncak gunung, maka saya sangat akrab dengan suasana Pagi Berhalimun itu Mbak…
    Minyak goreng pada beku, kalau mau masak musti dipanaskan dulu karena gak bisa dituang dari botol…
    Ditempat seperti itu hidung2 pasti pada dingin. Kayaknya itu adalah fenomena alam.
    (Jadi kangen pengin pulang

  44. Lama ndak mendengar kata halimun, yang terngiang-ngiang justru hanimun πŸ˜€

  45. cantiknya halimun pagi di rumah bunda, minum yang hangat2 ditemani halimun sedapnya Uni …

  46. Brrr…. Saya ikut kedinginan. πŸ˜€
    Rancak bana nie Mbak Vi…
    Membuat semakin rindu Minang…

Leave a Reply