Ke Bukitinggi pada Kamis Pagi

Tersebutlah  beberapa orang Pahlawan Nasional dari Minangkabau. Diantaranya  Buya Hamka, Sutan Syahrir, Tan Malaka dan Mohammad Hatta. Mereka semua jadi kebanggan orang di kampung saya. Nama yang selalu disebut  saat membanggakan peran penting mereka di masa lalu. Namun sependek pengetahuan saya, monumen yang banyak didirikan dalam mengenang jasa-jasa pahlawan tersebut hanya Bung Hatta. Di Bukittinggi setidaknya ada tiga monumen bagi Si Bung Kecil. Pertama Istana Bung Hatta, replika bekas tempat tinggal yang sekarang di jadikan museum. Satu lagi sebuah gedung arsip yang terletak di belakang Jam Gadang. Masih di belakang Jam Gadang bersisian dengan gedung arsip, terhampar  Taman Monumen Mohammad Hatta yang hijau. Satu alasan yang membuat saya mampir ke sana tiap pulang kampung. Tak jauh disediakan  bangku-bangku kayu. Dari situ kita bisa memandang sebagian kota Bukittinggi dan Singgalang dari kejauhan.

kamis pagi ke bukittinggi

Taman Monumen Bung Hatta

Sekalipun wujudnya beda, Bukittinggi dan Jam Gadang adalah dua kosa kata identik. Kalau menyebutkan jam gadang, ingatan langsung  dibawa ke kota berhawa sejuk  yang diapit Gunung Marapi dan Singgalang. Begitu pun jika orang menyebut Bukittinggi maka tak mungkin melepaskan ikatan jam gadang darinya, pusaka yang di bangun saat Belanda berkuasa di Sumatera Barat. Nama Bukittinggi dan Jam Gadang sudah melang-lang dari Barat sampai ke Timur, dari daratan Amerika samapi Eropa. Mereka termasuk satu atraksi wisata wajib bila wisatawan berkunjung ke Sumbar.

Jam gadang bukittinggi, pusaka minang

Jam Gadang ini lebih terkenal dari Gubernur Sumbar manapun

Hari itu, Kamis 9 Februari 2012, saya dan kakak memutuskan belanja sekalian raun (jalan-jalan) ke Bukittinggi. Kami pulang dalam rangka menengok ibu.

Bukittinggi, terutama jam gadang, bagi kami tidak sekedar monumen. Ini adalah tapal di masa kanak-kanak. Bila sampai di bawah kakinya kami sudah merasa melakukan perjalanan jauh sekali. Maklum di masa itu jarak tempuh Magek-Bukittinggi dengan bendi memerlukan waktu 3-4 jam.

Usai mengurai kenangan perut menuntut minta diisi. Kami beranjak ke Pasar Lereng tepatnya ke pojokan sempit yang disebut Pasa Lambuang (Pasar Lambung).

Pasar Lereng sering longsor tapi pedagangnya kekeuh tak mau pindah. Tak masalah toko dan pedagang kaki lima saling berhimpit. Karena mereka percaya di sini lah rejeki berlari lebih kencang mendatangi mereka. Pasar yang menjual semua kebutuhan. Dari VCD bajakan, tekstil murah, kopi, gula, bahkan  buku dan majalah dijual di Pasa Lereang.

nasi kapau los lambuang pasar lereng bukitinggi

Aneka hidangan pelengkap Nasi Kapau

Kalau sudah di Bukitting mencari masakan padang itu wajib.  Los Lambuang yang terkenal dengan nasi Kapau mengikuti nama sebuah desa di Kabupaten Agam tempat tepat untuk dituju. Lupakan diet kalau sudah di sini.

Hari itu sekalipun masih tergolong pagi, Tek Syam, Uni Lis dan Ni Linda sudah siap di belakang  meja masing-masing. Di hadapan mereka panci-panci besar bersusun di atas meja kayu penuh sesak oleh hidangan. Ada pangek ikan mas, rendang, tambusu (usus sapi diisi telur), dendeng balado, dendeng batokok, goreng ikan, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan sayur campur yang menjadi ciri dari nasi kapau: Gulai nangka dimasak bersama rebung, kacang panjang, dan bunga bawang (disebut tombak di Minang). Aroma masakan padang yang khas berhamburan memenuhi udara.

Awalnya kedatangan kami ke pasar lambung kurang serius. Mampir kesini sekedar pelepas taragak (rindu). Sebab nasi kapau yg disantap pagi hari rasanya kurang nendang. Mungkin karena cacing dan naga perut belum bangun dari tidur panjang. Tapi setelah sepiring nasi kapau terhidang di depan mata, lengkap dengan pangek ikan mas kesukaan, plus sayur rebung dan bubuk rendang, tak pakai lama langsung tandas semua.

Nasi Kapau dengan Pangek Ikan...

Nasi Kapau dengan Pangek Ikan…

Janjang 40

Kota Bukittingi dibangun di atas tanah berkontur. Tak aneh jika banyak jembatan dan tangga penghubung antar tempat. Salah satunya Jenjang (Janjang) 40 yang menghubungkan pasar atas dan pasar bawah. Ohya sebetulnya tangga ini lebih dari 40 tangga. Jumlah 40 adalah bagian tangga paling atas, paling curam yang ditandai oleh tanaman di tengah seperti foto di atas. Jadi setelah menyantap Nasi Kapau Uni Lis di Los Lambuang, kemudian disuruh mendaki seratusan anak tangga,  rasanya seperti menyuruh cacing menghentikan makan tiba-tiba. Mereka berontak, bikin perut kejang dan sakit.

Tapi tugas harus tetap ditunaikan. Beberapa barang yang kami butuhkan cuma dijual di Pasar Atas. Sekalipun perut terasa kejang, kaki tetap disuruh melangkah satu persatu.

Dari Pasar Atas kami menggunakan angkot menuju Pasar Aur Kuning, terminal  yang akan membawa kembali ke Magek. Di  Aur Kuning selera kembali tergoda. Bukan karena enaknya tapi lebih kepada kenangan masa kecil. Ketika ibu membawa kami berekreasi ke sana. Selain Cendol Pariaman yang berwarna merah muda, penjaja air tebu membangkitkan rasa haus. Apa lagi matahari kian tinggi. Di cuaca panas seperti itu menyuruput air tebu yang digilas bersama daun kacang panjang sungguh menyegarkan. Menurut Uda penjualnya, daun kacang panjang dalam air tebu tak saja mendatangkan warna hijau sekaligus berkhasiat sebagai obat sariawan.

Air Tebu Daun Kacang Panjang

Air Tebu Daun Kacang Panjang

Salam,

–Evi

Repost from October 27, 2012

Bookmark the permalink.

66 Comments

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi… kalau travel ke negeri orang atau negara luar pasti makanan tempatan itu ingin dicicipi ya mbak. Memang diet semua hilang ketika itu kerana peluang untuk merasainya untuk kali kedua atau seterusnya belum tentu ada. maka, peluang pertama sebegini harus digunakan sebaik mungkin. mudahan satu masa nanti saya bisa ke Bukit Tinggi juga. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    • Waalaikumsalam, Mbak Fatimah…
      Betul. Salah satu yang sangat menarik kala kita berkunjung ke negeri orang, asal tidak terlarang oleh kepercayaan kita, mencoba makanan yang mereka makan

  2. cita-cita saya kalau main ke Tanah Minang,
    makan masakan padang di warung padang 😀 😀

  3. Jam Gadang baru kulihat dari gambar aja meski nasi Padang akrab banget dg lidahku. Dalam seminggu hampir pasti aku makan nasi padang minimal sekali.
    Suatu hari aku mau cicip nasi Padang langsung dari tempatnya

  4. Cita2 saya yang belum kesampaian ke bukittinggi, semoga bisa tercapai tahun depan 😀

  5. tanteeee, pgn ih motret si jam gadang ituh..

  6. Aku udah pernah ke bukittinggi tapi blm pernah ke janjang 40 ini mba Ev 🙁

  7. kalau dari gambarnya, bumbu masakan padang lebih miroso yang artinya bumbunya kerasa banget, lebih kental gitu ketimbang masakan pdang yang dijual di jawa 😀

    • Setuju sekali. Pengamatan Mbak Sari tajam. Masakan Minang yang ada di Bukittinggi menurut saya juga bumbunya lebih kental dari masakan Minang yang dijual di rantau. Yang dijual di rantau sudah menyesuaikan lidah umum sementara yang masih di Minangkabau mengikuti selera lidah yang terbiasa.

      Masakan minang kaya rempah saya pikir ada juga hubungannya dengan cuaca yang relatif lebih sejuk. Jadi makan makanan berempah akan menghangatkan tubuh

  8. Kalau pagi pagi sudah disediakan seperti ini mah pasti muantappp deh dan saya kalau dekat dengan lokasinya tidak akan ragu untuk kesana.

    • Tempat seperti ini pagi-pagi merupakan pesta untuk hidung dan mulut Kang Nurul. Cocoklah Saya juga tidak akan menolak datang pagi-pagi ke tempat ini 🙂

  9. Baca postingan ini lalu tersadar ternyata aku udah lamaaaa banget ngga ke Bukittinggi. Terakhir kesana pas masih zaman sekolah dulu, ya ampun! Sumbar memang menawan, unik, dan bikin rindu pastinya :).

  10. Semoga nanti saya bisa ke Bukittingi juga. Belum pernah nih.

  11. Aku pernah posting tentang Bukittinggi, rancak bannaa…

  12. Nasi kapauuuuuuuuu aku merindu, duch kangen sarapan jam 9 pagi disana pake tambusu

  13. Wah sudah lama saya pengen main ke Padang, pengen keliling Indonesia sih intinya mah 🙂 Saya suka nasi padang, tapi itu air tebu kacang panjang rasanya enak kah ? 🙂

  14. ah taragak juo dengan Bukittinggi uni..

  15. Awalnya sempat bingung sama tanggal postingan dan tanggal komen, ternyata repost 🙂
    Mambaco tulisanko, takana jo kampuang jadinyo, Un.

  16. Siang Ibu,
    Saya izin copy photonya ya bu, untuk berbagi informasi wisata Bukittinggi. terimakasih banyak bu sukses selalu.

  17. Eviiiii……………….bikin kangen pulang kampuang tulisan ini …hiks 🙁

    ondeh mande, los lambuang itu tujuan kuliner di bukik pastinya…
    ( ngiler liat lauk pauk khas nasi kapau di foto diatas) ….ngacai…. 😛

    ke Aur Kuning, mestinya bisa mampir ke rumah Amay (Emak dokter gigi cantik ituh) 🙂

    tiap liat si janjang 40 ituh, kaki rasanya lemes ….hehehe….. 🙂
    salam

  18. Makasih, udah mampir ke blog saya 🙂
    Baca tulisan ini jadi pengen ke Bukittinggi lagi… 3 kali liburan + 3 kali posting utk menceritakan kecantikan Bukittinggi ternyata belum cukup… masih ada tempat di Bukittinggi yg belum saya datangi.. 😀

  19. cara mengobati darah tinggi

    pengent jalan-jalan kesana kayaknya pemandangannya indah dan sejuk ,, kebayang dchh gimana nyamannya 🙂

  20. Pemilik Restoran Surabaya

    Ah…cantik nian Bukittinggi. Niat saya kesana belum kesampaian jeng.
    Jam gadang nan megah, nasi kapau nan enak..hmmm.
    Semoga bisa ke Bukik, nengok bu dokter cantik.
    Terima kasih sajiannya yang menawan

    Salam hangat dari Surabaya

  21. Amboi cantiknya janjang 40 Bukik, pemandangan alam indah dan roman sejarah mengalir dari Bukit Tinggi. Banyak sastrawan besar dari tanah Minang ya Uni. Salam

    • Iya Mbak..Konon tradisi tambo (oral) di Minangkabau melahirkan banyak sastrawan..Tapi sekarang kayaknya gema sastrawan dari sana berkurang yah…

  22. Ni Made Sri Andani

    Duhh senengnya pulang ke kota masa kecil. Kotanya sangat indah, Mbak. Berdiri di atas ketinggian memberikan kita kemampuan lebih untuk memandang lapang ke area sekitarnya.

    Kalau saya pulang kampung rasanya saya sangat menikmati kembali sesuatu yang dulu tak benar-benar saya nikmati saat masih kecil (karena dulu hanya menjalani hidup saja seadanya..sehingga nggak mengerti nikmatnya ada di mana he he he).

    • Iya Mbak Dani, kedewasaan memberi kita banyak insight. Yang dulu kita jalani biasa-biasanya saja, sekarang tampak jadi indah..Itu mungkin yg membuat kemanusiaan kita naik level secara spiritual kali yah..

  23. Sepertinya kalo naik jenjang 40 itu, aku harus melepas high heels-ku mbak biar kaki gak bengkak-bengkak 😀

    Jam Gadang dan Bukittinggi memang tak bisa dipisahkan ya mbak dan benar mau siapapun itu yang menjadi gubernur sumbar tak akan bisa menyaingi ketenaran si jam gadang 😀

  24. jajang 40 pasti memberikan sensasi bagi yang menaikinya…bicara masalah kuliner…ada pengalaman menarik dengan ciri khasnya…saya makan sambil mandi keringat, dan keringatnya jatuh di piring saya, semua teman ketawa heeee

    • Tak biasa makan pedas ya Bli..Padahal masakan padang yg sdh keluar dari padang kadar cabenya sdh lebih bersahabat..Tapi untuk yg tak suka cabe, masakan ini tetap pedas..

  25. milahat gambar nasi kapau, ambo jadi ingat trauma makan nasi kapau sewaktu sekolah di bukittinggi dulu.. padahal sudah pakai seragam sekolah, tapi masih saja dibangkuang samo pedagang nasi kapaunyo… sejak tu kapok beli nasi kapau, apolagi di dekat pasar lereng itu….
    btw, melipir apo artinyo tu uni???

  26. Menikmati cerita dan foto2nya…
    Meski belum pernah kesana, tapi pastinya Bukitinggi adalah kota yg indah dan “ngangeni”

  27. Jam Gadangnya mirip Big Ban yang di London ya, mbak. Mbak Evi, saya senang masakan padang lho… pedasnya itu lho… pas.

    • Mungkin idenya pengen niru BigBen Bli, cuma yg disini nanggung hehehe..Jarang orang yg gak suka masakan padang emang. Makanya resto padang ada sampai ke pelosok. Thanks ya Bli 🙂

  28. itu yang seperti donat namanya makanan apa bunda?

  29. obat radang paru-paru

    pengen rasanya maen kesana bung,heheh,,berapa banyak uang ya yang ahrus keluarkan dari tasikmalaya ke sana??

  30. Jalan-jalan lagi … Cihuyyy 😀
    Tampaknya nasi Kapau yang di Bandung dengan nasi Kapau asli Padang beda rasanya yaaa … 😀

    • Beda tipis Elfa..Nasi Kapau Bandung ada unsur manisnya untuk melyani lidah setempat. Kalau disini asin dan pedas yang dominan 🙂

      • haha … enggak kok, tetep pedas dan gurih 😀
        tapi pasti sensasinya lebih maknyus kalau makan depan jam gadang 😀

        • Hahaha..Iya apa lagi kalau dengan orang tercinta, pasti kian maknyuzz…

          • haduh, Bu Evi bikin tambah saya kangen aja … kangen Padang maksudnya … (padahal kesana juga belum, kok bisa kangen) hehehe 😆

          • Mungkin ada gadis Minang saat ini yg menunggumu disini El, hanya tinggal nasib saja kapan ketemunya hehehe..Mesti percaya begituan, karena jodoh datangnya sering emang gak terduga. Kalau baca dari novel drama, kadang orang hanya memerlukan sekedip mata bersua di jalan untuk kemudian terikat selamanya dalam perjodohon..Hhahaha..udah ah, kok aku sounding konsultan perjodohan..

      • hahaha … cakep betul tuh sarannya, Uni (panggil Uni aja deh, masa Mbak) 😆

Leave a Reply