Jangan Membesarkan Hal-Hal Kecil

Saya  menyukai aktivitas fotografi makro. Mengamati benda-benda kecil dari belakang lensa kamera selalu membawa saya ke dunia baru. Sering banget terkesima betapa dunia yang ukurannya sulit diamati mata telanjang sesungguhnya punya konstruksi yang tak terbayangkan. Seperti rangka pohon yang saya temukan di sebuah taman di Bandung. Dengan tangkai penopang jari-jari daunnya yang dari jauh terlihat biasa saja tapi begitu didekati baru tampak betapa rumit konstruksinya. Begitupun melihat sayap capung kala  mengepak lalu bergetar menentang  angin kemudian mendorong ke muka. Sayap transparan itu rapuh namun bisa menentang arus bayu guna menaikan tubuhnya ke atas butuh penjelasan yang panjang.

jangan mengingat hal-hal kecil

Kepak sayap capung yang ringkih untuk melawan arus bayu

Sebagai ibu dari seorang dokter (ciyeeee..) saya pernah melihat makluk dunia lain dari bahwa mikroskop elektron. Makluk-makhluk aneh menyeramkan yang ternyata hidup di dalam mulut saya yang disebut bakteri dan mikroba.

Menyadari bahwa mata bisa melihat (sekalipun menggunakan alat bantu)  yang sebelumnya tersembunyi kadang menimbulkan getaran aneh. Seperti melihat rahasia Tuhan yang tersibak. Seperti ada tangan yang membelai hati  lalu memuncratkan endorphin ke seluruh tubuh. Terkadang saya tidak siap dan hanya duduk bengong sambil terus mengira-ngira mengapa seperti itu.

Saya mengerti bahwa Tuhan pasti punya rencana terhadap semua ciptaannya. Mengapa mata kita dirancang bisa melihat sudut 360 derajat namun di saat yang sama abai terhadap dunia mikro?  Mungkin kah Allah ingin melindungi kita dari sesuatu? Misalnya menghindarkan kita dari  hal yang akan terlalu banyak menyita perhatian  sehingga lupa tugas penting sebenarnya dari hidup itu sendiri? Apa jadinya bila dalam sepiring gado-gado tiba-tiba kita melihat kuman dan teman-temannya bergentayangan di seantero piring?  Apa lagi kita tidak tahu apakah mereka berbahaya atau tidak. Tak terbayang jika harus menatap komunitas mikroba yang sedang menjalani aktivitas harian dalam sepotong tempe. Kita pasti tidak akan bisa tidur membayangkan komunitas mikroba itu jumpalitan kesakitan saat dimasukkan ke penggorengan panas. Kita pasti tidak akan bisa menikmati tempe goreng tersebut.

Hal-hal kecil terkadang indah hanya untuk dirinya sendiri

Hal-hal kecil terkadang indah hanya untuk dirinya sendiri

Juga otak kita tidak dirancang untuk mengingat semua peristiwa. Apa yang terjadi? Mengapa peristiwa-peristiwa kecil yang tak  memiliki arti secara emosional akan luput dari perhatian kita?  Ibarat sampah dia akan masuk ke dalam memori lalu lenyap begitu saja ke gudang bawah sadar. Otak yang abai terhadap detil tertentu ini juga pasti punya tujuan khusus.

Jadi begitu lah. Mengetahui semua hal sampai sedetil-detilnya tidak lah selalu  baik. Begitu juga melupakan semua detail pasti akan berujung celaka. Semuanya perlu seimbang. Ada hal-hal kecil yang perlu kita ketahui dan toleransi.  Ada pula yang perlu kita lupakan saja.

Ada beberapa hal agar kita tidak pernah membesarkan hal-hal kecil. Salah satunya adalah kelemahan orang-orang di dekat kita atau teman-teman baik kita.

Misalnya jika seorang teman pernah membuatmu tersinggung tapi ia tidak mengetahui telah melakukan, lupakan saja. Jangan pernah mengingat kesalahan teman yang dia lakukan secara tidak sengaja. Apa lagi jika sampai membuat hatimu luka seumur hidup atau  sakit sampai bertahun-tahun. Kalau itu dilakukan artinya kita menggali kubur sendiri sebelum waktunya.

Atau kamu tidak bisa mentoleransi beberapa kelemahan kecil dari lingkunganmu. Misalnya kamu akan marah besar bila pasangan hidupmu menaruh baju kotor atau sepatunya sembarangan. Kamu akan merasa marah dan merasa tidak dihargai. Wajar jika kita butuh pengakuan. Sewajar menuntut matahari harus selalu terbit setiap pagi. Karena melakukan  pekerjaan rumah tangga itu butuh pasokan energi besar untuk melawan rasa bosan.  Tapi ketahui juga lah bahwa pasangan kita juga membutuhkan “rumah”, tempat ia melakukan sesuatu sesuka-sukanya tanpa harus menerima kritik.

Demi harmonisasi alam semesta hal wajar jika beberapa hal kecil di dalam hidup tidak perlu kita ketahui. Tak perlu dihiraukan. Tak perlu dikasih perhatian. Tak perlu ditumbuhkan rasa ingin tahu. Biarkan lensa makro hanya berfungsi melihat benda mikro di alam semesta. Sementara lensa makro yang ada di otak kita  harus berjalan multifungsi. Ya harus bisa menyaring apa yang perlu diingat dan dilihat. Apa yang perlu dilupakan. Apa yang perlu dicatat atau apa yang harus dihapus dari memori.

Kalau sudah begitu hidu akan terasa ringan. Karena hal-hal kecil berguna untuk satu hal dan hal-hal besar juga berguna untuk hal yang lain.

Bookmark the permalink.

24 Comments

  1. dalam sekali nih postingan tante yg ini, dan aku horror ngebayangin mikroba tempe yg terpaksa melompat ke minyak panas lho

  2. tapi kadang hal kecil gitu juga berarti ya mbak buat orang lain :”) selama dalam konteks wajar gpp kataku #halah

    *titip salam buat pak dokter #hloh

    • Ya memang Hidup itu adalah pilihan. Kalau menurut kita penting dan orang lain bilang tidak, ya terserah kita mau diapain ya mbak Echa. Terima kasih nanti saya sampaikan ke dokternya hehehe

  3. Terkadang, manusia tidak mengerti jika yang dibesar-besarkan adalah hal kecil 🙂

    • Nah memang perlu latihan terus-menerus untuk mengenali mana yang perlu dibesarkan dan mana yang tetap dibiarkan kecil saja, ya Mbak 🙂

  4. Inti nya ngak usah kepo dengan segala urusan yang mmg bukan urusan kita yaaa bunda, ngak lebay tapi manja aja

    Btw ini nama blog nya ganti atau ganti blog baru ???

    • Ini blog baru kakak cumi. Buat nampung tulisan yang tidak tertampung di jurnal Evi indrawanto yang khusus untuk menulis catatan perjalanan 🙂

  5. Waah objeknya mini, mesti pakai kamera+lensa yg super dong

    salam kenal mba, mampir ke blog aku ya

  6. Loh, mbak Evi sudah punya anak dokter to? Kirain masih pada kuliah. Awet muda banget sih :))

  7. saya setuju tidak membesarkan hal hal yang kecil ..
    tapi ada kawan saya yang suka membesarkan hal-hal yang kecil .. barangkali dia keturunan mak erot kali ya ? kwkwkw

  8. Setuju banget mbak Evi, jangan membesarkan masalah yang bisa dihilangkan. Malah bikin luka hati kita sendiri, sementara yang menyakiti nggak peduli. Belajar menerima segala bentuk perbedaan pandang justru bikin kita makin strugle tinggal di dunia ini.

    Oh iya, selamat ya mbak, putranya udah jadi dokter 🙂

  9. Semua jadi rahasia Tuhan bu, seandainya kita mengingat semua peristiwa akan jadi manusia super semua Bu. kan lebih repot tuh…

  10. Iya mbak efek dari membesarkan hal hal kecil itu walaupun hal sepele tapi kalau dibesar besarkan ya secara otomatis akan menjadi besar juga walaupun hal yang dimaksudnya itu kecil.

  11. Itulah sebabnya Tuhan tidak hanya menciptakan makhluk yang indah dan cantik, tapi ada yang menyeramkan sehingga ditakuti manusia. Ada yang melata, terbang, merangkak, dan lain sebagainya.
    Namun demikian ada harmoni.
    Salam hangat dari Surabaya

    • Bermacam ragam agar yang bisa berpikir bijaksana ya Pakde. Kalau cuma manusia saja di atas bumi ini entah apa yang terjadi. Atau kalau semua manusia cantik dan ganteng Anta Apa pula yang terjadi. Tuhan menciptakan keberagaman agar kita lihat dan pahami.

      Terima kasih sudah mampir Pakde

  12. Ini betul sekali Bu …
    Janganlah kita membesar-besarkan hal yang tidak perlu kita besarkan … capek sendiri nanti.

    Salam saya Bu

  13. Salam kenal mbak…. Wah anaknya sdh ada yang jadi dokter ternyata…Alhamdulillah 🙂
    Saya senang melihat foto-foto makro..jadi pengen belajar juga, newbie banget di dunia fotografi, lagi belajar sedikit-sedikit.

    Setuju untuk tulisannya, jangan membesarkan yang kecil, nanti waktu kita habis tersita untuk itu 🙂 Jadi bikin semangat dan melupakan hal2 kecil yang bikin pusing hahaha….

    • Alhamdulillah. Terima kasih Mbak Ida.

      Foto-foto macro memberi kita informasi lebih lengkap tentang suatu objek Mini. Menyenangkan bisa melihat detail mereka 🙂

Leave a Reply