Ramuan Nano-Nano dari Sang Pencipta

ramuan nano-nano dari sang pencipta

Ramuan nano-nano dari sang pencipta

Life may not be the party we hoped for, but while we’re here we should dance.  -Author Unknown

Kata mutiara yang saya temukan saat googling ini menghentikan klik mouse sejenak. Mengandung kebenaran yang sulit dipungkiri. Bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita ingikan namun karena sudah terhampar di depan mata tidak ada bisa dilakukan kecuali menghadapi segala konsekwensinya. Bahagia atau sedih, hujan atau panas, hangat atau dingin adalah tentang hidup sendiri. Kita tak bisa memilih harus bahagia dan hangat terus. Ramuan nano-nano itu diciptakan Tuhan di dalam laboratoiumnya, diberikan kepada seluruh umatnya yang tujuannya dimaknai berjuta oleh umat itu sendiri.

Yang pasti Allah merencanakan semua dengan matang. Seperti Ia merencanakan sebuah kelahiran dengan seksama. Jangan Ia, manusia saja punya rencana mengapa membuat sesuatu. Namun  dari sisi kesadaran kita sebagai manusia, kita tidak pernah merancang  kelahiran sendiri.  Suka tau tidak kita muncul begitu saja dari ketiadaan, tercebur kedalam hutan belantara rasa nano-nano itu. Bahkan orang tua sendiri   tidak dapat merencanakan anak seperti apa yang akan mengisi hidup mereka kelak. Paling-paling mereka hanya berdoa agar anak tersebut memenuhi segala harapan ideal seperti berguna untuk sesama dan kehidupannya sendiri.

Langit misteri tambah sempurna kala hidup yang berawal dari kekosongan ini menuntut  banyak pertanyaan. Mengapa begini- mengapa begitu. Mengapa aku lahir dalam keluarga ini dan bukan di keluarga itu? Mengapa ia mempunyai separuh dari isi bumi ini sementara aku harus berjuang keras mendapatkan sebidang kecil lahan untuk membesarkan anak-anakku? Mengapa begitu banyak perbedaan di dunia ini?

Hebatnya adalah semua jawaban harus ditemukan sendiri.

Ketahui saja bahwa tidak akan ada jawaban yang tuntas atas semua pertanyaan itu. Boleh lah meminta jawab  kepada para filasuf, atau kepada seseorang yang sangat ahli tentang hidup, jika kamu cukup sabar mendengarkan, jawaban mereka akan selalu bisa diperdebatkan. Apakah kita terlalu pintar?! Oh bukan begitu! Karena jawaban mereka adalah semesta mikro yang bisa disusupi oleh semesta-semesta lain.

 Ramuan nano-nano diciptakan seperti rumah pasir. Tampak kokoh sebelum diterjang ombak. Jawaban sebuah pertanyaan kehidupan sejenak tampak benar tapi tunggu sejenak sampai masuk ke dalam nilai relatif. Yang benar hari ini besok bisa berbeda. Dan itu terus berlanjut sampai kita menutup mata untuk selamanya.

Kok bisa begitu?

Karena konsep tentang hidup sangat luas. Sekalipun setiap orang bicara tentangnya tapi jarang dari sudut yang sama. Malah tak jarang saling bertentangan. Hasilnya definisi tentang hidup pun bermacam-macam. Tergantung mood dan topik apa yang dibicarakan. Orang yang sedang susah mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Artinya dari lahir sampai mati kerjanya berjuang mulu  (apa yang diperjuangkan tak jelas benar).  Yang bahagia  mengatakan hidup adalah serangkai tawa yang sesekali disinggahi air mata. Sementara tak sedikit juga yang melihat hidup sebagai taman bunga yang madunya adalah cinta.

Apapun definisi hidup yang kita percayai, semua pasti setuju bahwa Ladang hidup yang terbentang luas itu menunggu untuk dieksplorasi.  Dia tak mendatangi tapi kitalah yang harus menghampiri.  Terserah bagaimana kita menempuh,  hidup sendiri bebas nilai. Mau menempuh jalan baik atau buruk kita sendiri yang menentukan. Kebebasan diletakan dalam dada setiap orang untuk memilih. Apa yang penting dan tidak penting bagi kita lahir dari kebebasan ini.

Tampaknya dasar dari  semua  pencarian umat manusia berawal dari sini, mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul lalu memaknai sesuai konteks waktu, sosial dan budaya. Kalau mau dibawa masuk ke dunia Antropologi, kelompok suku berpindah menganggap ikatan dan perlindungan dari klan adalah dasar dari semua aktivitas sosial ekonomi. Maka dikerahkan lah  banyak energi agar hidup selalu berpusat pada komunitas. Tidak akan ragu memaklumatkan perang bila sesuatu mengancam kebersamaan tersebut. Sementara manusia abad modern yang bisa berkongsi dengan siapa saja sepanjang menguntungkan, akan memilah panggilan kelompok berdasarkan kedekatan dan tingkat urgensi. Yang sangat penting disini adalah hidup dalam kelompok keluarga batih (inti).

Dan yg paling menarik dari keterceburan kita dalam dunia nano-nano adalah bahwa Allah mengijinkan  manusia  membentuk hidup seperti apapun yang mereka mau. Mau berkomunitas atau memencilkan diri, mau saleh atau penuh dosa, mau baik atau jahat, mau perang atau damai, mau sakit atau sehat, semua akan dikabulkan sesuai fokus kita paling besar. Imajinasi dan tindakan kita atas fokus tersebut akan membentuk realitas.

@eviindrawanto

Bookmark the permalink.

10 Comments

  1. manusia membentuk kehidupan seperti apapun yang mereka mau…

    semoga manusia mampu membuat bumi menjadi tempat yang lebih baik 😀

  2. Dengan demikian, hidup itu asyik ya 🙂

  3. Cakep banget Mbak…tulisannya. Puitis gituh. Btw, emang iya sih hidup mungkin ngga selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Xoxoxo. Saya juga maunya mah lahir kayak bingtang felem kore yg cakep2…xoxoxo. Eh, tapi intinya mah kita harus mensyukuri apa yg kita punya kali ya Mbak. Rumput tetangga emang selalu kelihatan hijau, padahal tetangga ngga nanam rumput….xoxoxo

  4. hidup nano nano juga ya kak

  5. Heuheuheu..saya fokus sama roti bakarnya duluan 😀

Leave a Reply