Pengalaman Pertama Naik Kapal Feri

pengalaman pertama naik kapal feri

Melintas Naik Perahu

Seperti juga cinta pertama,  pengalaman pertama cenderung melekat dalam kenangan yang sukar dilupa. Seperti pengalaman pertama naik kapal feri yang masih segar dalam ingatan. Tepatnya pengalaman pertama yang meninggalkan trauma saat berkenalan dengan kapal penyeberangan yang juga disebut  Ro-Ro (roll on-roll off) ini di Pelabuhan Bakauheni. Saat itu saya sedang libur semester dan pulang kampung ke Jakarta. Sekalipun kedua orang tua asli Minang namun mereka sudah merantau sejak muda. Menikah lalu kembali ke kampung halaman. Begitu anak-anak lahir mereka kembali ke ibu kota. Sejak itu mereka bolak-balik saja seperti gasing mengikuti siklus mata ekonomi. Saya sejak kelas dua SD mereka meresmikan jadi penduduk Jakarta. Tapi setamat SMA saya kuliah ke Padang. Itu lah mengapa saya katakan pulang kampung saat liburan semester kembali ke Jakarta.

Tapi sebetulnya saya sudah berpengalaman dengan kapal laut saat kelas 2 SD. Ketika ibu mengutus Mamak (om) untuk menjemput saya dan dua orang saudara di kampung. Tiga tahun sebelumnya mereka kembali merantau hanya dengan membawa adik terkecil kami saat itu (setelah di Jakarta baru kami punya adik bungsu). Karena kondisi ekonomi belum memungkinkan kami pun ditinggal bersama nenek. Nah setelah 3 tahun akhirnya kami sekeluarga kembali berkumpul.

Menatap keindahan Indonesia dari atas kapal feri

Menatap keindahan Indonesia dari atas kapal feri

Kapal feri yang jadi jembatan Negara Kepulauan Indonesia

Kapal feri yang jadi jembatan Negara Kepulauan Indonesia

Pulang Kampung ke Jakarta

Untuk sekarang Minangkabau International Airport – Soekarno-Hatta  cukup ditempuh 1.5 jam saja. Tapi di kelas 2 SD, Bukitinggi-Jakarta saya tempuh selama 4 hari tiga malam. Di mulai dari suatu pagi naik bendi menuju Bukittinggi. Menginap semalam di rumah orang yang menjual tiket kapal. Besoknya naik bus menuju Teluk Bayur-Padang untuk naik kapal laut yang saya tidak ingat namanya. Kemudian terombang-ambing selama 3 hari 2 malam di atas laut lepas, bersama ratusan orang duduk dan tidur dengan menggelar tikar dalam sebuah hal luas. Sesampai di Tanjung Priuk  pun harus ke Terminal Rawa Mangun terlebih dahulu baru menyambung dengan bus menuju tempat tinggal ibu di Kramat Sentiong. Nah di malam ke-4, dengan nyawa tinggal separuh baru lah saya bisa menangis sejadi-jadinya di pelukan ibu. Emosi campur aduk. Antara  pelepasan rindu, lega, dan tak percaya akhirnya sampai di Jakarta. Seminggu kemudian goyangan seolah sedang berada di atas kapal masih terasa tatkala kaki menjejak tanah.

Jadi memang begitu lah, pengalaman pertama naik kapal feri saya alami setelah lulus SMA. Dan saya norak akut. Bayangkan sesaat bus meninggalkan dermaga, lalu perlahan meniti jembatan, bergerak menuju geladak, saya melongo dengan mulut terbuka. Ingat cerita Nabi Yunus yang ditelan ikan raksasa. Memang mengamati pintu kapal yang terbuka lebar dengan antrian kendaraan di mulutnya tak terhindarkan membayangkan sedang masuk ke dalam perut ikan besar. Itu pun masih disertai bolak-balik melongok keluar. Hari sudah senja tapi masih kelihatan  bagaimana  ombak memukul-mukul tepian dermaga. Dan saya panik. Bagaimana kalau di tengah laut tiba-tiba datang ombak besar dan memukul dinding kapal? Bukan tak mungkin kapal terbalik?  Aduh saya kan tidak bisa berenang…

Tapi semua dialog itu hanya ribut dalam batin. Fisik di luar saya diam saja. Dalam hati merapal ayat-ayat pendek untuk menelan semua ketakutan. Sementara keheningan teman yang duduk di sebelah membuat atmosfir semakin menggigit.

Untuk pertama kali pula saya tahu bagaimana rasanya diserang rasa takut mati. Ia  memukul dada dengan hebat, memaku saya di tempat duduk, dan mengeluarkan keringat dingin. Sementara imajinasi dibawa melayang kepada Bapak – Ibu yang sedang menanti di rumah. Mereka pasti sedih mengetahui bahwa saya tidak akan pernah sampai di Jakarta. Terus bagaimana pula mereka harus menemukan jasad saya? Bagaimana wajah mereka saat saya ditandu menuju pemakaman? Eh apa kah mayatnya akan dicari oleh Tim SAR atau akan kah dibiarkan saja tenggelam di laut?

Pun ketika semua penumpang di suruh turun, saya menggeleng, minta ijin agar dibolehkan tinggal dalam bus saja. Pertimbangannya sederhana,  kalau sampai kapal terbalik, saya terlindung dalam mobil.

foto dermaga pelabuhan sape

Dermaga Pelabuhan Sape

Trauma Perlahan Meluntur

Untung lah setelah menikah saya banyak urusan dengan orang Lampung. Frekwensi penyeberangan Merak-Bakauheni meningkat. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa alah bisa karena biasa. Sepertinya gara-gara sering mondar-mandir di Selat Sunda ini phobia saya naik kapal feri menghilang. Walau masih takut mati sekarang saya sudah bisa berenang dan kekuatan syaraf lumayan. Apa lagi tahu bahwa saya jalan bersama seseorang yang tak akan membiarkan saya sendirian jika terjadi apa-apa. Sekalipun umur dan nasib tetap di tangan Yang Di Atas dukungan emosional seperti itu lumayan menjalan akal sehat saya. Jika terjadi apa-apa, setidaknya ada seseorang yang akan fight lebih dulu sebelum saya tenggelam.

Berjalan bersama keluarga, terutama suami lah yang saya kira yang membuat  trauma naik kapal feri pertama dulu perlahan lenyap.  Ditambah keberuntangan bahwa saya tidak mabuk laut. Jadinya sekarang bisa menikmati bagaimana birunya air laut dan terkadang hijau tosca. Merasa sayang jika tak merekam momen-momen cantik lewat kamera. Menghirup udara yang datang dari samudera luas sambil memuji Sang Pencipta. Di saat seperti itu saya juga membayangkan bagaimana menuangkan segala keindahan itu nanti dalam tulisan. Jarang berhasil! Bahkan mengamati aktivitas para penumpang di dalam kapal juga mengasyikan. Insting eksplorasi kian disuburkan dengan berjalan-jalan ke tiap sudut kapal yang bisa di datangi. Ikut mengamati petugas mengatur kendaraan masuk ke lambung kapal. Kadang langsung naik ke buritan untuk melihat  anak buah kapal mengangkat sauh. Lalu menunggu detik-detik saat ujung kapal perlahan menjauh dari dermaga.

Pengalaman seperti ini membuat trauma meluntur

Pengalaman seperti ini membuat trauma meluntur

Rugi banget kalau trauma naik kapal feri dipelihara terus

Rugi banget kalau trauma naik kapal feri dipelihara terus

Saya masih belajar tentang hidup. Masih banyak yang belum saya ketahui. Bahkan yang sudah diketahuipun banyak yang hilang. Jadi saya tidak akan bosan melanjutkan hidup sampai ke ujung dengan mematri “kata belajar” di kening. Jika orang mengatakan bahwa hidup itu indah tidak mungkin saya tidak setuju. Sekalipun hidup itu juga seperti ombak, naik turun, kadang besar-kadang kecil, bersilancar di atasnya dengan segala keterbatasan itu lah yang saya sebut sebagai keindahan.

Hidup saya indah. Alhamdulillah.

 

Bookmark the permalink.

14 Comments

  1. Saya 2 kali naik feri. pas liburan sekolah ke Bali 1 berangkat 1 pulang. Awalnya seneng sih, namun pas ketengah-tengah agak was-was soalnya nggk bawa pelampung + ane nggak bisa renang. wkwkwkw
    salam kenal gan 😀

  2. Saya juga gak takut lagi sekarang, dan gak mabuk. Tapi tetep sih gamau lama-lama di kapal laut hehehe

    • Masih ada trauma ya mbak. Kalau saya naik kapal lama masih ada perasaan seperti itu, takut tiba-tiba kapalnya tenggelam . Apa yang harus saya lakukan

  3. Alhamdulillah mbaak traumanya luntur ya. Saya beberapa kali ke lampung naik kapal laut. Pertama kali naik dapat kapal yang baguus sekali. Jadi bukannya takut, saya malah foto foto terus :))

  4. tulisan yang diserati keimanan itu slelau mencengkram dan bikin gak bosen bacanya gak pengen cepat” beakhir… mksih pak pengalamannya … wah seru juga yah… saya sudah lama gak naik feri… jadi inget kisah Nabi yunus… semoga taubat” kita Allah terima pak aamiin….

  5. pengalaman pertama mengenai sesuatu kadang membuat kita teringat sampai saat ini mbak hehe
    saat meggunakan transportasi feri kesekian kalinya..sata sempat merasa was-was karena saat itu sedang musim ombak besar..untung saja selamat sampai tujuan 🙂

  6. Pengalaman naik feri memang menarik apalagi bagi kita yang hanya sesekali atau pertama kali. Saya pertama kali waktu dulu ke Madura, terus waktu ke Lampung.

  7. saya takut naik kapal ? dibayangan saya tu nanti kalau kapalnya tenggelam gimana. saya kan nggak bisa renang… hiks

  8. Alhamdulillah, paling pas naik feri pas masih terang, kalau naik pas malam keindahan laut nggak bisa dinikmati 😀

    Salam kenal ^_^

Leave a Reply