Nilai Sebuah Ide

Saat ini kita hidup di era keberlimpahan informasi. Hampir semua informasi yang dibutuhkan sekarang tersedia secara gratis. Berterima kasih lah pada internet, dunia digital, dan mungkin juga Om Google. Ditambah sosial media jutaan  informasi mengalir seperti air bah di ujung jari kita dalam hitungan detik.

Nilai sebuah ide

Mau selamat kiri atau kanan?

Saking terbiasanya kita sudah tak lagi  mempertanyakan siapa yang  memasok informasi. Perhitungannya hanya apakah informasi tersebut berguna dalam melahirkan ide, mencari solusi untuk memecahkan masalah-masalah  kita. Pernah kah terpikir bahwa ide yang kita gunakan hari ini, seperti internet, komputer, dan ponsel, kemungkinan datang berkat informasi dari pojok dunia yang tidak dikenal sama sekali? Mungkin mengalir dari desa terpencil di bawah kaki Himalaya? Atau dari seorang penambal sepatu di hiruk pikuk kota seperti Jakarta?

Kadang kita juga tak tahu profesi sang pemberi informasi. Apakah seorang pemikir serius, entrepreneur, ilmuwan, blogger, anak muda, atau perancang mode? Atau pelawak? Kita tidak tahu siapa pertama yang melahirkan ide bahwa kuning cocok dikombinasikan dengan biru. Yang kita tahu kuning dan biru memang warna harmonis dan menyemangati.

Ide lama dan baru bertemu, berbenturan lalu saling melengkapi. Mereka beradu pesona menarik perhatian kita. Bahkan terkadang tidak sadar bahwa perlagaan dari beragam macam ide tersebut menciptakan ide inovatif yang merubah siapa kita sampai 360 derajat.

Dan seperti itu lah semua informasi kemudian jadi ide mengalir. Tidak seperti makanan yang harus diketahui asal-usulnya, mengenai informasi terkadang kita perlu mengetahi dari mana sumbernya. Yang penting hanya seberapa manfaat untuk kehidupan kita.

Ketahui asal-usul makananmu tapi kita tak penting amat mengapa ia merah setalah masak

Ketahui asal-usul makananmu tapi kita tak penting amat mengapa ia merah setalah masak

Ide itu tak ada harganya

Jauh sebelum kelahiran toko online dan Go-Jek  saya sudah membaca satu ide dari novel Isaac Asimov. Ia memang terkenal sebagai bapak futuristik.  Bahwa manusia bisa mengurangi jejak karbonnya dengan bisnis virtual. Misalnya membuat Resto Virtual tapi men-delivery produk tangible. Pemikiran Asimov itu lahir untuk mengurangi macet di kota-kota super sibuk di dunia. Idenya membuat semacam rumah link, penghubung bisnis cafe/resto dengan pelanggan. Jadi kalau ada konsumen di Serpong menginginkan secangkir Capucinno di mejanya, ia tinggal pergi ke komputer, sistem akan menggali gudang data resto atau cafe di sekitarnya tempat itu. Teknik pengantaran paling efisien yang dimaksud Asimov diterapkan oleh Go-Jek Food sekarang.

Tapi apakah toko-toko online dan Go-Jek Food harus bayar kepada Asimov atau setidaknya berterima kasih kepadanya? Sepertinya tidak perlu. Karena ide seperti ini bisa datang dari siapa saja, dari mana saja, dan kapan saja. Karena ide itu seperti  juga opini adalah komoditas paling murah sedunia. Tak masalah betapapun hebatnya pada akhirnya ide perlahan mati tanpa eksekusi.

Proses melahirkan ide itu mudah. Setidaknya yang terkait pada bahasan tulisan ini. Yang paling mahal dari sebuah ide adalah tindakan untuk membawanya di tingkatan nyata. Bahwa Asimov Virtual Cafe akhirnya diwujudkan Gojek Food hanya satu contoh bahwa ide sebetulnya tidak begitu penting. Yang penting adalah ratusan tindakan setelahnya,  mewujudkan ide, mendaratkannya di bumi, dan akhirnya bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Sebelum itu seseorang tidak bisa mengklaim bahwa suatu ide adalah propertinya.

Sebaliknya sebuah ide sukar pula ditentukan saking berharganya. Tapi ini akan kita bahas di kesempatan lain.

Ada ide yang kurang berharga ada pula yang sebaliknya

Ada ide yang kurang berharga ada pula yang sebaliknya

Gerbong Nasib

Terlepas dari Asimov yang memang kaya dari buku-bukunya, sesungguhnya letak perbedaan nasib seseorang juga terletak disini, pada seberapa banyak ide yg telah ia eksekusi. Mereka yang berpikir dan mereka yang bertindak atas ide menentuka gerbong mereka duduk. Sedihnya kebanyakan mereka tidak duduk di gerbong yang sama.

Sebagai seorang enterpreneur saya sudah melihat banyak contoh untuk kasus tersebut. Tak hanya pada orang sekeliling tapi juga pada diri sendiri. Jika pengejawantahan ide kita patokan pada hal sederhana, pada kesejahteraan ekonomi, mereka yang punya ide saja dengan mereka yang punya ide lalu mengeksekusi menjalani hidup berbeda. Kadang bagai bumi dan langit. Saya punya segudang ide tentang bisnis kesehatan tapi sudah berpuluh tahun  mengendap saja di kepala. Sementara teman yang punya ide serupa lalu mengeksekusi sudah setengah perjalanan menuju bulan. Malah satu dua orang hidup bagai raja-raja.

Terus apakah kita tidak ingin hidup seperti raja? Kalau saya sih ingin. Sebagian besar orang juga seperti itu. Dengan keberasan finansial banyak hal yang bisa saya lukan di dunia. Saya bisa beramal seperti Bill Gates. Ketimbang cuma bisa bersimpati dan bersedih melihat penderitaan orang lain, punya sumber daya membebaskan mereka dari cekikan ekonomi tentu lebih menyenangkan.  Lantas mengapa saya dan tidak semua orang mau berorientasi pada tindakan agar masuk sebagai salah satu raja?

Kembali berkaca pada diri sendiri. Sebetulnya persoalan bukan pada mau dan tidak mau, tapi lebih pada penolakan terhadap resiko. Karena di belakang tiap tindakan selalu ada resiko. Selain juga tindakan menuntut tanggung jawab beras, kerja keras, semangat, dan kerelaan mengulang dari awal bila ditimpa kegagalan.

Ayo keluar dari kerumunan

Ayo keluar dari kerumunan

Saya dan orang-orang seperti saya lebih suka berkerumun di zona nyaman ketimbang mengeksposkan diri pada situasi asing. Padahal untuk mengeksekusi ide kita perlu keluar dari perangkap zona nyaman. Kita harus keluar dari  perasaan takut gagal dan takut ditolak. Harus bisa menahan rasa sakit yang ditimbulkan karena mengeksekusi ide.  Tapi yang saya lakukan adalah  menerima keadaan. Alih-alih bertransformasi dan bergerak ke muka malah  mencari rasionalitas dari sikap tidak mau berubah. Pada akhirnya ya seperti ini, saya tidak  kemana-mana, saya seperti anjing yang sibuk mengejar ekor sendiri.

Itu lah ide saya….Nilainya tak seberapa

Bookmark the permalink.

15 Comments

  1. Mbaaak sukak banget tulisan ini! ^^
    Yang paling mahal dari sebuah ide adalah tindakan untuk membawanya di tingkatan nyata. << setuju pake banget!
    Kadangkala kita terlalu takut untuk melangkah padahal langkah sekecil apapun itu pasti akan bermanfaat. Dari langkah kecil akan lahir langkah besar.

    Sometimes, memang kita perlu untuk keluar dari zona nyaman ya mbak.. ^^

  2. Aduh mak ini saya banget. Ide memang hanya akan jadi ide kalau gak ada action ya. Akan jadi percuma..

    btw itu tomatnya seger banget ih :)) #salahfokus

  3. Tulisan ini nyubit2 manja euy hehehe. Ide itu tak ada harganya, karena memang tak bernilai. Tapi kalau gak dieksekusi jadi karya nyata ya cuma jadi wacana. Yang sedihnya, ide kita itu dieksekusi orang, dan sukses. Ngenes deh hahaha thx for reminding, mbak

  4. wah nyaman itu enak mbak hehe kadang hanya perlu menambah zona nyaman mbak hehe…. tapi seru juga sih keluar dari zona nyaman… smeoga bisa keluar suatu hari nanti aamiin… semangat mbak evi moga berkah ide”nya…

  5. Saya suka banyak ide tapi takut ketika ingin mewujudkannya Mba Evi. Takut gagal.

  6. ide itu bisa kita dapat dari mana saja. dari sebuah pensil pun kita bisa mendapatkan ide untuk dijadikan sebuah tulisan yang menarik dan bermanfaat… 😀

    • Iya ide bisa kita dapat dari mana saja. Ya agak sulit tentu menuliskannya dan kemauan untuk menjabarkannya dalam tulisan yang menarik. Terima kasih sudah mampir Pak Sumarno

  7. Iya ya, kalo cuma sebatas ide nggak bakal kemana-mana. Duuhhh, berasa kesentil, hihii

Leave a Reply