Mencintai Awan Dengan Cara Sendiri

mencintai awan

Awan yang sedang menyembunyikan pintu surga di belakangnya

Entah sudah berapa banyak karya sastra lahir karena awan? Entah sudah berapa banyak seorang pragmatis  jadi puitis karenanya? Dan entah berapa banyak pula orang bahagia dan sedih karena awan?

Semua pertanyaan itu tak penting. Yang penting adalah awan seperti juga hujan dan panas tampil dalam seribu muka. Memandangnya tergantung suasana hati. Tergantung apa yang sedang kita pikirkan. Tergantung pada seberapa banyak beban hidup yang dipikul. Tergantung pada kenangan yang tersimpan dalam bank memory. Karena awan sendiri tidak tergantung pada apa-apa. Ia hanya bergantung pada sifat alamiahnya. Pada seberapa baik umat manusia memperlakukan bumi.

Begitu pun awan hanya lah bibit hujan. Dibutuhkan umat manusia menumbuhkan makanan mereka. Atau memberi kesejukan pada bumi. Sementara di kepala saya awan menjadi teka-teki dan pusat hayalan.

Mencintai awan dengan cara sendiri

Masa kecil saya penuh awan. Rumah kami yang terletak di tengah sawah di lembah Bukit Barisan penyebabnya. Rumah kami yang berjendela lebar itu membuka ke tiga penjuru angin, ke hamparan sawah, dan ke Bukit Barisan di kejauhan.  Itu  memungkin saya menonton atraksi awan dari pagi sampai petang. Saya terbiasa memandang awan yang terlihat bergerak saat mentari menyingkap kabut. Sekalipun nenek bersikukuh awan tetap di tempatnya, tak bergerak, saya juga bersikukuh bahwa awan yang seringan angin itu sudah kodratnya diterbangkan angin. Tak mungkin tak bergerak. Pada akhir perdebatan nenek meninggalkan saya untuk urusannya yang lebih penting.

Saya juga terbiasa melihat awan mengiringi kemana kaki melangkah. Saya bergerak ia bergerak. Saya berhenti ia pun berhenti. Namun dalam usia sangat muda sekalipun, belum belajar geografi, saya tahu bahwa pergerakan awan tak berkaitan dengan diri saya secara personal. Saya tahu pergerakan itu hanya masalah persepsi, sebuah nilai relatif posisi saya di bumi terhadap awan di atas sana. Tapi tentu saja saat itu saya tak bisa menjelaskan segamblang ini. Eh jadi membayangkan bagaimana andai saat itu sudah ada Twitter dan saya sudah bisa ngetwit? Mungkin kah saya mempertontonkan kedangkalan dan rasa rendah diri yang berusaha keras saya tutupi itu tapi dengan gamblang terungkap oleh kebanggaan semut: “Asyik awannya sayang padaku. Ia mengikuti kemanapun aku bergerak..”. Konyol!

mencintai awan

Awan yang seolah terbakar

Acara menonton awan paling indah tentu saja sore hari. ketika langit mulai menjingga. Ketika burung barangu dan pipit terbang kembali ke sarang membentuk formasi V. Bayang-bayang tubuh mereka jadi kontras dengan langit yang seolah terbakar. Bersama aroma jerami, rumput kering, dan lumpur, saya melihat formasi awan seperti buku cerita. Ada anak yang sedang melamun di bawah pohon. Mungkin ia sedang merindukan ibu di seberang lautan. Ada nenek yang sedang merenung di depan tungku. Mungkin ia sedang kesal pada sang cucu yang terlalu asyik dalam dunia sendiri dan enggan membantunya bekerja. Ada sekelompok orang duduk-duduk di beranda rumah sambil menyapa para petani pulang dari sawah.

Saya akan tetap duduk di sana sampai langit yang membara perlahan berubah kehitaman. Saya tetap duduk di sana menunggu angin menerbangkan awan sehingga ceritanya bisa berganti. Saya tetap duduk di sana menunggu sampai nenek berteriak menyuruh menutup jendela.

Kemudian setelah jendela tertutup saya kembali membayangkan cerita-cerita yang sudah dipertontonkan awan. Terus keheranan pada diri sendiri. Formasi awan tidak pernah sama, selalu berubah, tapi mengapa cerita yang saya baca tetap sama?

Tiktok tiktok tiktok..Denting jam dinding kuno dari rumah tetangga terdengar lembut dan sangat jauh. Saya mengantuk dan tak menyukainya. Alih-alih ke tempa tidur saya akan  menyusup ke dalam mukena nenek dan kembali membayangkan awan-awan dengan ceritanya.

Ah saya memang mencintai awan…

Evi Indrawanto

Bookmark the permalink.

One Comment

  1. bagiku awan memang sangat memukau mba, tanpa kita harus memegang. Indahnya saat sore menjelang ditemani matahari, apalagi saat naik pesawat wah pengen dech megang

Leave a Reply