Kehidupan dan Topeng Kita

Kehidupan berawal dari rahim ibu. Dunia gelap, sempit, mengurung, tapi hangat dan nyaman. Disini segala keperluaan penopang kehidupan tersedia. Tak perlu kerja dan usaha  apapun mendapatkannya. Serba gratis. Satu-satunya kewajiban hanya menumbuhkan fisik dengan sempurna sesuai doa semua ibu.

kehidupan dan topeng kita

Memandang pohon kehidupan lewat sebuah topeng

Sayangnya rahim yang hangat itu hanya persinggahan sementara. Semacam ruang persiapan sebelum diceburkan ke dalam kehidupan yang maha luas dan penuh sesak yang sesungguhnya. Otak yang ditugaskan mengendalikan seluruh fungsi tubuh pun belum disisipi perangkat bagaimana harus berlaku dalam serba ketidak pastian. Itu lah mungkin mengapa kita harus menangis saat lahir. Karena tangis pertama mengatakan pada kehidupan bahwa terputus hubungan dari rahim sesungguhnya menyakitkan. Tangis pertama juga pesan bahwa fungsi tubuh yang masih rentan itu perlu bantuan agar survive.

Waktu berjalan. Kita belajar mengakrabi dunia baru. Otak belajar membaca respon yang diberikanya. Bahwa ia tak bisa melulu dihadapi dengan menangis. Kita juga belajar mengenali benturan realita. Bahwa begitu banyak masalah yang harus dipecahkan sebelum meraung lagi mengingat kenyamanan rahim bunda.

kehidupan dan topeng kita

Memandang kehidupan dari balik sebuah topeng

Begitu lah. Waktu terus memberi kesempatan mengumpulkan pengalaman. Sekalipun alam bawah sadar terus mencari dunia yang hilang, dunia rahim, dunia nyaman, kita juga dibekali insting agar tetap bertahan. Kita dipaksa bergerak oleh waktu. Kehidupan harus diisi. Agar tak terlempar begitu saja dari sana kita perlu menemukan suatu formula. Dan dari sekitan banyak penemuan akhirnya bertemu dengan topeng. Ruang pembatas antara diri sesungguhnya dengan dunia luar. Ruang yang digunakan bernegosiasi dalam menghadapi berbagai peristiwa.

Topeng adalah penemuan tercerdas dari semua penemuan diri. Ekpresi  terdalam dari keinginan kembali menemukan dunia tenteram seperti dalam rahim bunda.

@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

Foto milik Evi Indrawanto

Bookmark the permalink.

Leave a Reply