Membangun Kota Diplomatik di Jakarta

Sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, Jakarta yang terus berkembang bisa di branding untuk banyak hal. Kota budaya, wisata, bisnis, industri dll.  Pun demikian jika dikembangkan jadi kota Diplomatik ASEAN,  Jakarta punya banyak aspek yang bisa dijadikan refrensi. Baik aspek sosial-budaya, sejarah, dan yang paling penting peran aktif Indonesia sebagai anggota ASEAN.

Mari kita analisa satu persatu :

  • 1. The Melting Pot

Jakarta tepat disebut sebagai the melting pot,  sebuah metafora untuk menggambarkan masyarakat heterogen yang melebur jadi  homogen. Penduduknya datang dari berbagai suku etnis di tanah air maupun warga keturunan asing yang menetap secara permanen maupun berkala. Unsur-unsur yang berbeda ini kemudian “mencair bersama” menjadi satu kesatuan yang harmonis. Di Jakarta tidak ada yang mengaku sebagai orang Sunda atau orang Minangkabau. Paling jauh hanya pengakuan “berasal” dari suku Sunda atau Minangkabau. Karena kebudayaan yang mereka lakoni sehari-hari telah menjadi umum, tidak lagi spesifik sebagai orang Sunda atau Minangkabau. Disini Jakarta adalah Indonesia kecil.

  • 2. Sejarah Jakarta

Sebelum sampai ke bentuk sekarang Jakarta telah melewati lorong sejarah yang sangat panjang. Muncul pertama kali dalam catatan sejarah sekitar abad ke-4, ketika jadi pemukiman dan pelabuhan masyarakat Hindu. Sejak saat itu,  kota yang terletak pada 106 derajat 49′ 35″ Bujur Timur dan 06 derajat 10′ 37″ Lintang Selatan ini telah diklaim oleh beragam kekuasaan. Pertama kali kerajaan Tarumanegara, lalu Kerajaan Hindu Sunda, Kesultanan Muslim Banten, Hindia Belanda, Kekaisaran Jepang dan akhirnya Indonesia.

Itu lah mengapa Jakarta jadi dikenal melalui banyak nama: Sunda Kelapa, selama peroide Kerajaan Sunda.  Jayakarta, Djajakarta atau Jacatra, selama periode Kesultanan Banten.  Batavia, saat berada di bawah kolonial Belanda. Dan Djakarta, atau Jakarta, yang dimulai dari kekuasaan Jepang sampai sekarang.

Dan di jaman modern pun orang tak kekurangan kata dalam memberi sebutan untuk Jakarta. Dua julukan yang paling terkenal adalah :

  1. Kota yang tak pernah tidur. Sekalipun berpenduduk Muslim terbesar di dunia bukan berarti Jakarta tak punya kehidupan malam. Begitu matahari surut kehidupan lain mengambil alih, bahkan bisa lebih “panas” dari siang hari. Karena di samping rumah bagi Masjid Istiqlah, Jakarta juga rumah bagi berbagai klub dan pub. Sebut saja  klub dansa, klub musik, sports bar dan klub malam.Pabrik, rumah makan, stasiun pengesian bahan bakar serta toko ada yang beroperasi selama 24 jam.
  2. Kota Metro Politan. Julukan ini timbul  karena Jakarta merupakan pusat dari seluruh perkotaan yang ada di Indonesia. Berpenduduk padat, berbagi dengan industri, infrastruktur, dan perumahan. Di sini terdapat berbagai institusi sosial. Jakarta juga merupakan barometer dari terjadinya perubahan ekonomi dan politik yang berpengaruh ke seluruh Indonesia.

Sampai disini: The Melting Pot dan latar sejarahnya, terlihat bahwa Jakarta adalah pusat perubahan dan pengembangan di Indonesia.  Itu lah yang membuatnya tepat diumpamakan sebagai ladang subur yang bisa ditanami bibit apa saja. Dari kota budaya, wisata dan bisnis, kini Jakarta siap dijadikan Kota Diplomatik ASEAN.

  • 3. Rumah Bagi Markas Besar ASEAN

Dan yang paling tak bisa diingkari, sejak Februari 1976 Jakarta sudah jadi rumah bagi Kantor Sekretariat ASEAN. Yang di gagas oleh para menteri luar negara anggota yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharta  pada tahun 1981. Terpilihnya kota yang sekarang dipimpin Jokowi ini karena dianggap mampu mengefisienkan berbagai koordinasi dalam organ ASEAN dan juga dalam pelaksanaan proyek-proyek dan kegiatan ASEAN. Fungsi Jakarta disini sebagai Connected City.

Itu semua tentu tak lepas dari fakta bahwa Indonesia negara terbesar di Asia Tenggara serta peran strategisnya dalam ASEAN.

Keuntungan dan Kerugian Sebagai Kota Diplomatik.

Kedudukannya sebagai kantor sekretariat membuat Jakarta jadi wilayah paling banyak menerima kunjungan kerja para diplomat internasional terkait isu ASEAN. Dalam politik internasional, isu paling banyak dibicarakan adalah soal perdamaian, perdagangan, perang, ekonomi, budaya, lingkungan, dan hak asasi manusia. Saat mereka perlu membuat perjanjian terkait isu-isu tersebut mereka akan mengawali pembicaraan di Jakarta.

Kondisi itu lah yang akan membuat Jakarta  akan selalu berada di bawah lampu sorot dunia internasional. Kesempatan itu tentu sangat menguntungkan bagi Indonesia. Bisa digunakan untuk mempromosikan Indonesia. Tidak sekedar mengambil keuntungan dari sektor  pengembangan eknomi dan budaya, sekaligus juga kesempatan memperlihatkan bahwa Indonesia layak dijadikan mitra diplomasi dalam menenggarai berbagai isu internasional.

Namun tentu saja lampu sorot itu bersifat seperti pisau bermata dua. Mereka tidak akan melihat yang baik-baik saja. Mereka juga akan melihat borok yang sedang diderita Indonesia. Pemerintahan yang kurang efisien dan korupsi yang meraja lela adalah pekerjaan rumah yang sangat mendesak untuk diselesaikan. Di sini Indonesia tidak bisa lagi sekedar berdiplomasi dengan politik bebas aktifnya. Kedua hal itu membuat Indonesia tampak buruk. Bahkan sudah jadi sumber penghinaan dan olok-olok menyebalkan yang membuat telinga seluruh rakyat Indonesia merah karenanya.

Viva Jakarta! Bangkit dan jadikan dirimu layak jadi Kota Diplomatik ASEAN!

@eviindrawanto

Sumber : Wiki dan ASEAN.ORG

Bookmark the permalink.

3 Comments

  1. aku suka banget sama gambar kotanyaaaa…. wuiiihh… mirip yang ada di film2 scifie gitu… kereeeennn *salah fokus

Leave a Reply