Ini Khayalanku Mana Khayalanmu

Saya memelihara orang kedua di dalam diri. Namanya khayalan. Ia mengikuti  kemana pun saya pergi. Teman dekat di kala suka, menghibur di kala duka, jadi pelindung saat sendiri.

Di masa kanak-kanak keakraban seperti ini sering menimbulkan salah pengertian pada orang tua. Ibu sering mengatakan bahwa saya tukang ngelawan dalam hati,  tidak suka memperhatikan nasihatnya, dan kurang cinta keluarga. Tuduhan tidak berdasar sebetulnya. Saya tidak melawan dalam hati hanya malas berargumen. Dan tidak pula tak mau mengikuti nasihatnya. Hanya saja kalau terlalu sering saya memang jadi bosan mendengarnya. Dan karena saya lebih suka melamun sendirian ketimbang bercengkerama bersama keluarga bukan berarti saya tidak mencintai mereka.

Sebetulnya bukan mau menjauh, tak memperhatikan ibu atau enggan bercengkerama dengan keluarga. Hanya saja saya butuh ruang berdialog dengan sang khyalan. Misalnya saat mencuci baju, kalau tak ditemani khayalan saya pasti mati kebosanan menyikat baju kotor  satu persatu. Berkhayal punya robot yang bisa mencuci tentunya lebih mengasyikan ketimbang mendengar perintah ini dan itu sekalipun bernama nasihat. Jadi ibu tidak diabaikan, saya cuma sedang sibuk memberi ruang untuk sesuatu di kepala.

Pengen Punya Robot

Tapi harus jujur memang saya punya kegiatan lebih menarik ketimbang mendengar ujaran ibu atau pun bercengkerama yang sering diakhir berantem bersama saudara-saudara. Pergi bermain dengan teman atau  baca komik di pojokan rumah lebih mencerahkan . Sayangnya kegiatan itu kurang menarik bagi ibu. Beliau kekeuh agar giliran saya mencuci baju, membersihkan rumah, main bersama saudara sendiri atau tetek-bengek lainnya dijalan sebaik-baiknya.  Jadi siapa yang bisa disalahkan keinginn untuk punya robot pintar yang bisa menggantikan fungsi diri saya?

Khayalan Yang Tak Egois

Saya merasa sudah baik hati dari kecil (gubrak!). Jadi berhayalpun  tidak bisa egois. Manusia besi itu tak hanya menggantikan tugas menyeterika, cuci piring dan membersihkan rumah, main dengan saudara tapi juga akan mengambil alih tugas ibu di dapur. Jadi ibu tidak kelelahan dan bisa tersenyum sepanjang hari. Robot itu juga difungsikan menggantikan tugas bapak mengganti genteng pecah dan membetulkan peralatan elektronik yang rusak. Bahkan kalau memang dibutuhkan my siblings juga boleh menggunakan.

khayalan

Pengen Punya Jin Dalam Botol

Sepertinya khayalan masa kanak-kanak saya cukup taktis dan strategis. Karena kebutuhan saya untuk punya banyak hal bejibun, robot besi saja  takan cukup. Saya ingin bertemu jin dalam botol. Jin yang akan mengabulkan tiga permintaan tuannya. Tapi  tiga permintaan itu terlalu banyak. Saya Cuma butuh  satu : “Bapak Jin yang baik tolong kabulkan semua keinginan saya. Titik!”

Khayalan Tingkat Lanjut

Khayalan berkembang sejalan usia. Khayalan tentang jin dan robot besi mulai terasa absurd saat SMA. Mungkin karena bacaan saya berubah ke novel cinta-cintaan. Tidak mengingat novel apa saja  yang telah “meracuni” pikiran, yang jelas selalu jatuh cinta pada tokoh pria berbadan tinggi besar, berwajah tampan, dan berambut gondrong. Karakternya hampir seperti dewa. Pintar, baik hati, bertanggung jawab, macho tapi lembut, romantis, senang bertualang, bisa menceritakan apa saja yang ingin saya tahu. Maklum lah waktu itu kan belum ada Oom Google, sementara saya butuh kamus berjalan. Dan lebih dari itu dia bisa memperlakukan wanita seperti yang diinginkan seluruh Cinderella di dunia:  Menjadikan kekasihnya satu-satunya ratu yang bertahta di hatinya.

Untuk mengimbangi manusia setengah dewa itu saya pun berkhayal secantik Dewi Yunani bernama Aprodite. Dewi cinta sekaligus nafsu yang  parasnya mampu  menggoda banyak dewa. Sungguh waktu itu tidak tahu bahwa Afrodit bukan lah wanita setia. Sekalipun menikah dengan Hephaestus dia memiliki banyak kekasih yang salah satunya bernama  Ares. Tentu saja untuk manusia setengah dewa, saya tidak akan pernah selingkuh seperti Afrodit hahaha..

Setelah menikah pelan-pelan Afrodit mundur ke belakang panggung. Saya mulai lebih suka berhadapan dengan realita. Sadar bahwa mengharap yang tak mungkin itu lebih banyak sakitnya ketimbang indahnya. Malah bisa-bisa disangka wanita stress atau tak waras. Maklum lah hidup ditengah masyarakat yang selalu merasa tahu apa yang baik bagi orang lain, memperlihatkan berbagai imajinasi aneh sangat beresiko. Sekalipun sesekali Afrodit tetap muncul untuk para aktor yang saya sukai, lebih suka menyimpannya sebagai hadiah bagi diri sendiri ketimbamg menceritakannya pada orang lain.

Lah kok sekarang ditulis disini? Di blog yang bisa dibaca orang lain? Ini kan dalam rangka ikutan GA..:)

Transformasi Afrodit

Tapi sejujurnya Afrodit tak menyerah begitu saja. Sesekali dia tetap muncul lewat hayalan tentang punya rumah besar dengan banyak pembantu, mobil mewah dan uang bertumpuk di bank. Dengan semua kekayaan itu saya akan membahagiakan orang yang membutuhkan, pergi ke berbagai tempat eksotis di dunia atau menjadi pilantropis seperti Bill Gate.

Untungnya hidup dalam masyarakat yang tak menerima “omongan yang engak-enggak”. Karena khayalan tentang kekayaan tapi tak berusaha mendapatkannya  dianggap sebagai manifestasi keserakahan yang menjurus pada sakit jiwa. Jadi saya berkompromi, belajar menerima realita, bahwa hidup itu kudu disyukuri sebagai apa adanya. Ketimbang bikin dosa  sosial lebih baik saya ambil sapu dan mulai ngepel rumah atau memasak ke dapur. Menenggelamkan diri dalam dunia seperti itu bisa menghentikan siksaan Afrodit.

Tapi ada satu khyalan paling sering muncul tapi paling tak saya inginkan kehadirannya. Yaitu bayangan pada kematian. Tahu banget setelah kehidupan sekarang akan diteruskan kehidupan abadi. Kalau selama di dunia saya baik-baik saja, menjalan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, kehidupan abadi itu akan memberi apapun yang saya inginkan. Yang tak bisa diperoleh selama di dunia akan saya punya jika masih tetap menginginkannya. Kalau sudah begitu saya  berkhayal tentang banyak hal. Tapi walau begitu tetap saja ngeri membayangkan bahwa tubuh harus mati lebih dulu, setelah itu dikafani dan dimasukan ke dalam tanah.

@eviindrawanto

Bookmark the permalink.

10 Comments

  1. “Bapak Jin yang baik tolong kabulkan semua keinginan saya. Titik!” —> trus permintaannya jadi beranak pinak 😀

  2. gak bisa ngebayangi deh kalo punya punya jin dalam botol…kira2 om jinnya kyk di film jin dan jun gak ya.. *malah nglantur 😀

  3. Mbak Evi, khayalan tentang kehidupan setelah mati membuat saya juga kadang ngeri…meninggalkan orang-orang tercinta itu rasanya pasti beraaaaat banget!
    Kalau sudah begitu, saya langsung berganti topik khayalan…menikahkan Risa dan menimang cucu misalnya 😀

    • Yah khayalan tentang kematian bikin merinding Mbak. Aku juga kalau sudah mikirin itu cepat-cepat mengalihkan pikiran ke hal lain yang lebih menyenangkan 🙂

  4. Khayalanku jadi world traveler tp attach banget sama anak. Gimana dong? Jadi kenyataan nggak ya?

  5. wwwwwaahhhh.. aku pengen punya jin juga yang pinter apa ajaa…

  6. Hmm.. Mirip ya sama aku, tapi hayalanku dulu hampir mengkudeta otakku, kalo itu terjadi aku jadi pribadi yang lain dan hilang akal sehat. Untungnya sejak sering mendalami agama, dia mulai pergi. Tapi agak sulit kalau berhadapan dengan orang yang bisa membaca pikiran, karena omongan busuk hayalanku selalu merepotkan..

    Salam kenal kak Evi. Aku Bryan..

    http://www.bryansurya.blogspot.com

    • Emang agak repot kalau khayalan sampai mengkudeta otak Mas. Paulo Coelho saja dulu malah dilistrik otaknya oleh rumah sakit jiwa. Untung gak rusak, jadi kita bisa menikmati khyayalan2 gilanya sampai sekarang ..

      Bertemu orang yang bisa membaca pikiran busuk itu mungkin satu berkah, Mas..Bahwa pikiran busuk kemungkinan adalah misimu di dunia, hanya belum ketemu salurannya di “dunia normal” hehehe

      Senang berkenalan denganmu Mas Bryan..

Leave a Reply