Bersatu Untuk Kemakmuran

Kian dekat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN, kian sibuk pemimpin anggota negaranya. Tiap bulan ada saja pertemuan. Mulai dari tingkat kepala negara sampai tingkat menteri, sibuk meeting guna membahas berbagai isu terkait. Seperti tanggal 24-25 April 2013 lalu, para kepala negara berkumpul di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Menghadiri KTT ASEAN ke-22 dengan pokok bahasan  “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan” yang diberi penekanan pada peran rakyat dalam pembangunan komunitas ASEAN dan masa depan ASEAN paska 2015.

Senang sekali membaca tema ini, menyatakukan rakyat, menciptakan masa depan. Terdengar patriotik bagi saya. Betapapun tingginya kita berharap jika rakyat menyatakan kontra maka Komunitas Ekonomi ASEAN takan pernah terbentuk.

Untung lah sampai sejauh ini tak terdengar tantangan dari manapun untuk merekat ASEAN  ke dalam kerjasama ekonomi, politik-kemanan, serta sosial-budaya. Sebaliknya banyak harapan, terutama bagi Indonesia bahwa selain dianggap the natural leader, Indonesia bisa diteladani sebagai the role model  bagi negara yang sedang mengembangkan demokrasi. Ini akan berefek positif bagi citra Indonesia saat memainkan peran di tatanan global.

Sosialisasi yang Sukses

Pemerintah negara anggota sukses mensosialisasikan soal KEA 2015 ini kepada rakyat di negara masing-masing. Bila sukses mengerjakan sesuatu kita cenderung terdorong menyukseskan kerja yang lain. Itu juga berlaku bagi para pemimpin ASEAN. Terdorong oleh kemajuan implementasi Piagam ASEAN dan Roadmap  Masyarakat ASEAN, dalam KTT ke-22 di Brunei, mereka sepakat untuk lebih mengintensifkan kerja dalam mewujudkan Komunitas ASEAN. Komunitas yang terpadu secara politis, terintegrasi secara ekonomi dan tanggung jawab sosial dalam mengambil keuntungan saat sekarang maupun peluangnya di masa depan.

Tantangan Terhadap Persatuan Komunitas ASEAN

Pembentukan KEA itu tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Masing-masing negara anggota punya masalah domestik sendiri. Contohnya Laos dan Myanmar masih bergulat soal pemerintahan demokratis. Malaysia- Singapura terlibat di konflik kepemilikan pulau Pedra Branca. Klaim kepemilikan di Laut Cina Selatan melibatkan hampir seluruh negara anggota ASEAN.

Begitu juga tingkat perkembangan negara. Membandingkan secara ekonomi tentu Laos tak ada apa-apanya dengan Indonesia. Tapi salah satu tujuan dari KEA adalah mempersempit jurang kemakmuran. Pembangunan di ASEAN mengacu pada pengurangan berbagai bentuk kesenjangan antara negara-negara anggota di mana beberapa kantong keterbelakangan terlihat seperti Laos tadi.

Tapi terlepas dari semua masalah diatas integrasi tiga pilar cuma satu-satunya pilihan bagi ASEAN. Sebab globalisasi keuangan dan ekonomi sudah merangkul hampir seluruh dunia. Krisis lokal bergema di segala penjuru dan tidak mungkin ditanggulangi hanya pada tingkat nasional saja. Terorisme internasional didorong oleh perdagangan narkoba dan separatisme, kejahatan terorganisir dan migrasi ilegal, penculikan dan perdagangan manusia telah mencapai dimensi global. Upaya masing-masing negara jelas tidak cukup untuk melawan berbagai persoalan tersebut.

Jika isunya sudah mengglobal tentunya butuh wadah berpengaruh global pula dalam menanggulanginya.

Alasan Lain Agar Masyarakat ASEAN Bersatu

Negara anggota ASEAN terapung di dua lautan besar: Samudera India dan Laut Cina Selatan. Posisi mereka terapit negara-negara kuat, baik secara ekonomi, politik maupun sosial-budaya.

Di sebelah Selatan ada  Australia. Sekalipun ekonominya didominasi sektor jasa, namun keberhasilan utama Austaralia berdasarkan pada kelimpahan sumber daya pertanian dan mineral. Dengan kata lain mereka kaya dari segala aspek. Tak heran jika negara ini termasuk pusat keuangan utama dan komponen penting dari sistem keuangan global.

Disebelah Utara ada India, China (Hongkong) dan Taiwan. Sementara ke arah Timur Laut ada Korea Selatan dan Jepang. Seperti kita tahu ekonomi India itu terbesar kesepuluh di dunia. Negara ini juga salah satu anggota G-20. Sementara ekonomi Republik Rakyat Cina (RRC) merupakan kedua terbesar di dunia secara GDP dengan paritas daya beli sesudah Amerika Serikat. Begitu pun Taiwan, Korea Selatan dan Jepang. Hitung-hitungan keberhasilan dan pertumbuhan ekonomi mereka bisa bikin keder.

Pertanyaan sekarang, mau ngapain kalau tidak bersatu? Mau terus terjepit diantara ketiak raksasa? Sudah kodratnya orang terjepit itu selalu mengkuatirkan nasib, seperti selalu bertanya sampai kapan bisa bertahan? Saya pikir takyat ASEAN takan mau hidup selalu dalam keadaan was-was. Persatuan ASEAN dalam tiga pilar di atas merupakan suatu proteksi disamping membangun kekuatan.

Pembentukan Badan Persatuan ASEAN

Persatuan itu harus terwujud dalam satu badan. Layaknya badan manusia tentu terdiri dari berbagai anggota tubuh yang membentuk sistem saat menjalankan fungsi masing-masing. Ada mata untuk melihat, tangan untuk menyentuh dan memegang, kaki untuk berjalan, dan mulut untuk tertawa dan bersyukur.

Perwujudan badan persatuan tiga pilar ASEAN bisa meniru struktur negara  Uni Eropa (UE). Organisasi internasional ini bekerja melalui gabungan sistem supranasional dan antarpemerintahan. Di beberapa bidang, keputusan-keputusan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat di antara negara-negara anggota, dan di bidang-bidang lainnya lembaga-lembaga organ yang bersifat supranasional menjalankan tanggung jawabnya tanpa perlu persetujuan anggota-anggotanya. Lembaga organ penting di dalam UE adalah Komisi Eropa, Dewan Uni Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa, dan Bank Sentral Eropa. Di samping itu, terdapat pula Parlemen Eropa yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh warga negara anggota. (Wiki)

Tapi tentu saja harus ada penyesuaian terhadap berbagai kondisi yang ada di regional ASEAN. Sejarah sebagai bangsa serumpun, tradisi domestik yang hampir sama bisa digunakan untuk membuat berbagai  kebijakan regional. Termasuk dalam mengharmonikan hukum-hukum yang akan digunakan.

Terakhir

Setelah semua kerja keras itu, setelah tahun 2015, negara-negara anggota ASEAN akan punya pasar terbuka bagi barang, jasa, investasi dan tenaga kerja. 10 negara ini akan menjadi kekuatan ekonomi. Mereka lebih mampu menyediakan kebutuhan negara masing-masing. Aktivitas ekonomi ini yang akan  menciptakan kekayaan bagi seluruh warga negaranya. Amin.

@eviindrawanto

Bookmark the permalink.

Leave a Reply