Salam Dari Vientiane dan Jangan Lupakan Kami

Salam Dari Vientiane – Jangan Lupakan Kami

Untuk tantangan hari ke-6, #10DaysforASEAN ini, saya sebetulnya ingin berdiri dalam sepatu Presiden  Choummaly Sayasone atau Perdana Mentri Thongsing Thammavong. Berdiri sebagai salah satu pemimpin dalam kawasan ASEAN yang sebentar lagi membentuk Komunitas Ekonomi ASEAN 2015. Tapi itu berarti harus bicara secara retorika. Dan itu garing.  Mematikan sel otak yang membaca. Lagian bagaimana kalau terjadi insiden diplomatik gara-gara saya?  Bukannya malah bikin panas kawasan ? Jadi lebih baik sebagai blogger saja. Blogger bekewarganegaraan Republik Demokratik Rakyat Laos tepatnya. Jadi bayangkan bahwa dalam posting ini saya menulis dalam bahasa ພາສາລາວ phasa lao dengan huruf abugida.

Kemboja bunga nasional Laos. http://jcsesecuneta.com

Curhat Dari Laos

Sa bai dii, hello from Vientiane. ສະບາຍດີບ (sába̖ai-di̖i baw?), how are you?

Laos memang tidak semegah Indonesia, tidak semaju Singapura atau bisa mengklaim diri sebagai truly Asia. Laos hanya geografi kecil yang tekunci diantara Myanmar, Thailand dan Vietnam (land-lock). Namun tetap saja terkejut ketika seseorang menulis di Wikitravel seperti ini :  “Thailand promotes itself as amazing, Vietnam can well be described as bustling, Cambodia’s Khmer temples are awe-inspiring, Myanmar’s junta is barbaric… but the adjective most often applied to Laos was forgotten…”

Ya ampun dari mana orang itu dapat gagasan menghinakan? Demikian tak popular kah negara saya? Begitu jauh kah penduduk yang sebagian besar beragama Budha ini dari jangkauan radar mereka? Oh tidak! “You’re simply beautiful, Laos. I love you so much!

Hei, coba dengarkan saya. Kami memang pernah tercabik dalam perang saudara. Muang Lao (panggilan sayang) yang cantik ini pernah terbagi ke dalam dua kelompok: Kerajaan –Phatet Lao. Yang satu mempertahankan status quo dan yang satu lagi menghendaki perubahan. Mereka berebut pengaruh akibat diplomasi rahasia yang dilakukan negara asing. Kelompok kerajaan di dukung Amerika Serikat dengan CIA-nya, sementara Phatet Lao  di dukung Vietnam Utara, China dan Kuba.Perang yang meninggalkan luka dalam bagi seluruh masyarakat kami. Karena sejatinya negara-negara asing itu hanya sedang memperkuat posisinya secara global tapi  panggungnya didirikan di negara kami.

Sedih kan?

Yang lebih sedih lagi Laos negara termiskin di Asia Tenggara. Sekalipun pahit tak bisa saya pungkiri kenyataan ini. Pendapatan penduduknya cuma US$1.32 (Rp. 13 Juta)  per tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang mencapai Rp. 37 Juta. Gak ada apa-apanya kan? Namun tetap saja menyakitkan jika negeri seribu gajah ini  terlupakan dalam peta dunia.

Laos High Light

Untuk meyakinkan bahwa kami eksis coba lah berkunjung sebagai wisatawan.  Bawalah penghasilan Anda ke negeri kami.Cobai makasakan tradisional kami Larb (Laap), daging yang direndam berbagai herbal dan terkadang dimakan mentah. Tam mak Hoong (green papaya salad) yang rasanya segar kala dipadu nasi pulen mirip ketan yang jadi makanan kami sehari-hari.

Lao Beef Salad. spicygreenmango.blogspot.com

Datang lah ke Mekong Islands.  Di pulau terbesarnya Don Khong yang beribu kota Muang Khong itu, Anda bisa bersepeda seharian untuk mengeksplorasi pulau. Dua biara paling dibanggakan penduduk terlihat dari tepi Sungai Mekong: Wat Khan Khong dan Wat Cham Thong. Memandang mereka berarti memandang dasar pendidikan kami.

Saksikan dari dekat Pha That Luang, simbol negara dan situs paling suci dari Muang Lao. Atau pergi ke The Four Thousand Islands, pulau tropik yang tergenang laut berair hijau seperti zambrud. Anda pasti sering membaca tentang Phonsavan di brosur wisata. Situs ini lah yang menyimpan catatan kepedihan peperangan negara kami. Disini Anda akan melihat bekas bomb dan selongsong peluru. Naiki salah satu kapal pesiar dan saksikan bagaimana Mekong yang telah menghidupi rakyat Laos selama ratusan tahun mengalir tenang.

Dan masih banyak tempat menarik lainnya. Karena saya belum menyebutkan Muang Sing, Wat Phou, Yang Vieng dan Muang Ngoi Neua (footprinttravelguides.com).

Apa Peran Kami Dalam ASEAN?

Kebijakan luar negeri Laos sama dengan negara ASEAN lainnya. Turut serta menjaga perdamaian, stabilitas, dan kerjasama pembangunan regional. Jangan lupa pada fakta bahwa Laos pernah dipercaya memimpin ASEAN pada tahun 2004-2005. Namun sebelum dan sesudah itu Muang Lao  telah memperlihatkan kapasitasnya dalam memainkan peran sebagai negara berkembang. Apa lagi sejak hubungan kian membaik dengan AS, tentunya Laos berdampak signifikan dalam mendukung ASEAN dalam percaturan internasional. Menaikan posisi tawar sebagai negara persekutuan politik dan ekonomi.

Pendidikan Untuk Rakyat.

Sejarah pendidikan kami  di sepanjang kawasan Sungai Mekong ini dimulai dari biara. Tempat ibadah yang juga berfungsi sebagai pusat pendidikan tersebar di kampung-kampung. Pendeta Budha mengajarkan anak lelaki nilai-nilai agama, membaca naskah dari kitab suci, berhitung dan aturan-aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dalam pendidikan tradisional ini anak perempuan  tidak disertakan. Begitu pun penduduk yang bukan beragama Budha. Mereka menempuh pendidikan secara mandiri di luar lingkungan biara.

Perancis sebagai penjajah membawa sistem pendidikan mereka masuk ke Laos. Kemudian dianggap bahwa sistem pendidikan tersebut tidak begitu sesuai bagi kebutuhan masyarakat Laos. Maka pemerintah Republik Demokratik Rakyat Laos membangun sistem pendidikan baru. Lebih universal dalam memenuhi kebutuhan warga negaranya. Maka pendidikan wajib 5 tahun dan bebas biaya pun di mulai.

Hanya saja, sekalipun pemerintah berusaha keras menyokong pendidikan bagi seluruh rakyat, Laos moderan tetap kekurangan sumber daya manusia. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Ketersediaan tenaga kerja tidak sesuai dengan lowongan. Akibatnya angka pengangguran membengkak dan dan disisi lain sektor usaha megap-megap mencari tenaga yang sesuai. Sungguh ironi yang harus segera diatasi.

Disinilah ASEAN seharusnya memainkan peran dalam kerjasama budaya. Sekalipun politik setengah tutup pintu tetap berlaku di Laos, ASEAN hendaknya mendorong komunikasi, membuat suatu kebijakan bersama melalui program misi budaya atau pertukaran pelajar.

Pendidikan itu ibarat pelita di malam hari. Tak masalah betapapun redup, cahayanya tetap bisa digunakan penuntun perjalanan. Saat ini Laos mungkin masih tertinggal dari negara ASEAN lainnya namun KEA 2015 selayaknya membuka pintu bagi kami terhadap dunia internasional.

Jadi saudara-saudara se ASEAN jangan lupakan kami, Rakyat Laos, dalam derap langkah maju kalian. Bantu kami mendapat pendidikan layak agar kami bisa mengikuti kemakmuran negara kalian.

La-gawn (good bye)

Vientiane 31.8.2013

#10daysforASEAN #day6

Bookmark the permalink.

6 Comments

  1. Laos meskipun panas dan $ jarang berlaku disini sampai2 kmrn sempet kesulitan buat bayar makan tapi negeri ini menarik. Aku suka liat orang2 yg pake kain dan bawa bekel makanan saat keluar rumah 🙂

  2. Ni Made Sri Andani

    wah..seru banget nih Mbak…ikutan acara begini. Setidaknya kita jadi lebih semangat untuk mengenal lebih jauh saudara-saudara kita yang sangat dekat ya Mbak Evi.
    Mbak Evi menuliskannya dengan sangat baik,sehingga membaca ini kita semua bisa mendigest dengan baik, karena semuanya terangkum apik di sini..

  3. Sungguh perjuangan masyarakat laos yang ironis, namun untuk sebuah kemajuan di daerah tersebut, sepak terjang langkah para tokoh agama dan masyarakat terus mengupayakan kemajuan dunia pendidikan dalam keadaan seminim mungkin. Semoga dengan adanya ajang ini, dapat membuka mata dunia internasional khususnya masyarakat Asean dapat merapatkan barisan untu kemajuan bersama, dalam satu visi kedepan.

    Salam wisata

    • Gara-gara ikut lomba dan tantangan dari asean blogger ini, jadi membuka sedikit wawasan terhadap berbagai persolan negara2 asean, Pak Indra..Kalau gak ikut lomba, gak bakalannya saya browsing internet guna mendalami asean..Syukurlah asean blogger membuat even ini, jadi banyak belajar tentang negara tetangga 🙂

Leave a Reply