Meet The Lady

cctvnews.com

Meet The Lady – Selembar Visa untuk Negeri Emas

Saya kenal Myanmar atau Burma melalui Aung San Suu Kyi. Karena pemenang Nobel Perdamaian ini dulu sering muncul di TV saat masih jadi tawanan rumah. Senyum dan lambain tangannya pernah menimbulkan rasa tak suka pada pemerintahan negara emas itu. Sebab saya pikir tahanan rumah sama dengan penjara. Pikiran saya yang sederhana keheranan, apa yang ditakuti pihak militer dari wanita yang secara fisik kelihatan rapuh itu?

Setelah menonton film The Lady, kisah perjalanan hidup Suu Kyi  yang dibintangi Michel Yeoh, baru paham mengapa anak jenderal Aung San ini jadi momok bagi pemerintah junta militer. Ternyata dia bukan lah wanita rapuh tapi macan betina yang senang berbusana tradisional.

Ya istri dari Michael Aris warga negara Inggris ini senang menggunakan sarung tradisional Myanmar (longyi) dengan blus sederhana yang disebut Anyi. Cara berpakaiannya anggun sekali. Sanggulnya tak pernah ketinggalan disisipi bunga segar. Bertubuh ramping dengan senyum lembut, dielukan rakyat, di dukung masyarakat internasional,  sungguh simbolisasi sempurna dari perlawanan damai terhadap kekuasaan yang mengungkung proses demokrasi di negara yang memiliki Danau Inle yang cantik.

Nelayan di Danau Inle. Associated Press

Suu Kyi sekarang bebas. Malah tahun 2012 memenangkan pemilihan umum untuk kursi Parlemen. Namun sejarah kekerasan yang panjang tampaknya tetap jadi trauma bagi pemerintahan sekarang. Makanya tak terkejut bahwa penduduk negara-negara ASEAN pun dikenakan ijin pengajuan Visa sebelum memasuki wilayah Myanmar. Visa turis yang cuma berlaku selama 28 hari itu bahkan tambah sulit jika Anda berprofesi sebagai jurnalis, penulis atau fotografer. Entah kalau blogger. Makanya beberapa situs traveling guide menyarankan agar tidak menuliskan tiga profesi itu saat mengajukan visa Myanmar. Sekalipun screening tetap dilakukan setidaknya surat Anda tak langsung masuk keranjang sampah.

Namun tindakan hati-hati Myanmar bisa dimaklumi. Sampai sekarang saja masih terjadi berbagai kerusuhan etnis antar penduduknya. Kehadiran warga asing bisa meningkatkan beban kerja pemerintah dan militer. Disamping menjaga keselamatan, tak ada jaminan bahwa turis yang datang murni jalan-jalan. Sekedar menikmati keagungan budaya dan keindahan alam. Foto-foto lalu di pajang di facebook atau ditulis di blog. Bagaimana kalau yang masuk provokator atau sengaja mencari kelemahan pemerintah dan menceritakan dunia? Bikin repot kan? Jadi dimaklumi lah bila di jaman keterbukaan ini Myanmar masih parno terhadap tamu-tamu asing.

theactivetimes.com

Hanya saja bagaimana nanti setelah Komunitas Ekonomi ASEAN berlaku? Apakah penduduk negara-negara ini masih dimintai visa saat berkunjung?

Menurut saya tentunya akan jadi lucu jika warga negara Myanmar bebas keluar-masuk ke negara lain bahkan boleh melakukan bisnis tapi penduduk dari negara sebaliknya masih dimintai Visa. Itu tak sesuai dengan semangat keterbukaan ASEAN.

Tapi saya yakin pemerintah Myanmar tidak akan berpangku tangan soal ini. Begitu pun kolega ASEAN mereka. Akan ada angin perubahan besar begitu  gong KEA 2015 disahkan. Saat itu terjadi penduduk ASEAN cuma perlu passport saat melewati imigrasi di Bandara Yangoon. Mari kita nanti peristiwa itu, hunting tiket murah lalu kita sambangi bekas rumah The Lady.

@eviindrawanto

#10daysfor ASEAN #day 4

Bookmark the permalink.

2 Comments

  1. Aura Suu Kyi senada dengan aura yang memancar dari Uni Evi, perempuan lembut tangguh. Salam

Leave a Reply