Ketika Thailand Buka Salon di Indonesia

Teman-teman mari kita berandai-andai…

Tak lama setelah Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA)  2015 terbentuk, tak jauh dari rumah saya terdapat salon kecantikan yang ramai sekali pengunjungnya. Tua-muda dari kelas sosial menengah-atas datang silih berganti. Maklum lah selain merawat tubuh di sana juga terdapat ajang hangout karena tersedia café, toko buku bahkan pelayanan wisata ke berbagai negara.  Kalau kata Bang Mamat sih tempat itu untuk  to see and to be seen. Melihat dan untuk dilihat, sebuah pemenuhan kebutuhan psikologis dari kelas sosial ini.

Saya pun pernah menjajal salon itu. Bukan salah saya kalau jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari awal saya memahami mengapa orang memilih datang ke tempat itu alih-alih salon serupa yang terletak di ujung jalan satu lagi. Di sini pelayanan serba nomor satu. Sudah tempatnya bersih, wangi, pegawai ramah, santun, dan paling penting datang ke tempat ini merasa banget bahwa uang yang dikeluarkan sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Mereka professional sekali. Maklum standar mereka dunia yang dibuktikan oleh sertifikat pengakuan.

Yang menarik adalah salon itu milik warga negara Thailand. Sejak berlakunya kerja sama ekonomi melalui liberalisasi perdagangan di sektor jasa melalui Frame Work Agreement on Services (AFAS) yang ditanda tangani di Bangkok 15 Desember 1995, usaha dari saudara kita ini perlahan namun pasti mematikan salon lokal yang di ujung jalan satu lagi. Padahal salon lokal itu dulu sangat diapresiasi karena mengangkat kearifan lokal  untuk berbagai produk perawatannya. Mungkin karena tidak begitu menyadari dampak sosial dari berlakunya KEA tahun 2015, mereka seperti Narsiscus yang mati dalam bayangannya sendiri. Teori bahwa sukses masa lalu tak menjamin sukses di masa depan berlaku di sini. Karena saat kondisi sosial berubah aturan main juga akan berubah. Mereka yang tak berubah akan tertelan oleh perubahan itu sendiri.

Mengapa Salon Lokal itu Bisa Mati?

Menurut analisa saya terdapat beberapa faktor sukses yang jadi kunci sukses bagi salon Thailand beroperasi di Indonesia. Keunggulan pelayanan sudah pasti. Namun secara fisik tak banyak perbedaan antara orang Thailand dan Indonesia. Apa lagi mereka fasih berbahasa lokal dan tenaga kerjanya juga lokal. Dari segi biaya merekrut tenaga kerja lokal tentu lebih hemat ketimbang membawa dari negara asal. Jadi orang masuk ke sana takan merasa perbedaan apakah sedang berada dalam salon lokal atau bukan.

Begitu pun secara kultural, akar budaya yang hampir sama memungkinkan Thailand beradaptasi dengan cepat terhadap selera pasar Indonesia. Coba bandingkan pakaian tradisional mereka dengan suku-suku di Indonesia seperti songket, bordir dan tenunan benang emas sebagai motifnya. Kalau mata tidak ahli sulit membedakan songket Thailand dengan songket Silungkang-Bukittinggi. Mereka sama-sama cantik dan artistik.

Meningkatkan Daya Saing Sektor Usaha

Begitu gong Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 terjadi, tak hanya liberalisasi perdagangan di sektor jasa  yang akan terjadi. Konektivitas ekonomi antara masyarakat dalam 10 negara anggota juga meliputi kerjasama dalam pertanian, kehutanan dan perikanan. Bayangkan lah saudara-saudara! Dari sektor pertanian saja saat ini kita kalah jauh dari Thailand. Masih adanya pembatasan regulasi perdagangan seperti sekarang tapi produk pertanian berlabel “Bangkok” sudah diterima pasar Indonesia sebagai jaminan mutu. Bagaimana kelak jika liberalisasi pasar ASEAN terjadi?

Tapi KEA bukan tempat untuk berkecil hati. KEA yang akan dimulai tahun 2015 nanti bukan bertujuan menciutkan segala potensi yang ada di negeri kita. Ada tujuan mulia berjangkauan jauh ke masa depan atas pembentukannya. Yakni mempercepat pertumbuhan ekonomi selain mempercepat kemajuan sosial dan budaya yang berada di kawasan Asia Tenggara.

Sekalipun persaingan salon atau bisnis lainnya akan semakin ketat namun peluang yang ditawarkan juga besar. Pasar jasa sekarang terbuka untuk sepuluh negara. Bayangkan sepuluh negara! Dan itu bukan untuk perkotaan saja. Suatu saat jika bosan buka warung di Serpong saya bisa memindahkannya ke Phuket. Jualan semboko khas Indonesia untuk memenuhi kebutuhan turis terdengarnya seksi, bukan?

Yang kita butuhkan sekarang mempersiapkan diri dari segala lini guna menaikan level daya saing. Entah harus belajar kembali atau membenahi yang sudah ada, pokoknya kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Ya saya tahu bahwa itu tidak mudah. Mau mulai dari mana juga bingung. Tapi taka da yang lebih baik mengetahui apa yang kita inginkan di masa depan selain diri sendiri, bukan? Coba lah tengok ke sana dan perhatikan baik-baik. Insya Allah kita akan tahu dari mana harus memulainya .

Selamat menyambut kedatangan Komunitas ASEAN 2015, teman-teman!

Merdeka!

@eviindrawanto

Bookmark the permalink.

15 Comments

  1. Pingback: Thailand Salon | Thai-Iceland

  2. ini cuma salah satu contoh mba, apalagi kalo beneran ada di sini… rasanya kita masih harus banyak belajar dr orang lain, yg serius gitu….
    salam dari Laksi

  3. Untuk era kompetitif, daya saing memang harus ditingkatkan. Setuju kak Evi ^_^

  4. kemajuan tidak akan kita dapatkan tanpa kita kenal siapa diri kita. Jangan berharap perubahan akan terjadi selama diri kita menutup mata pada perubahan di luar sana. makasih mbak Evi
    . saya suka tulisan2 anda

  5. Penyakit Asam Urat

    Semoga lancar ya acaranya

  6. aduh Maaak jiper ini saia, tau kontennya bagus 🙁

  7. blognya mantap Vi seneng bacanya menambah wawasan. Trskan ya… aku jd pembaca setia blog mu. Ciaoooo Semangat…..

  8. Analisis yang bagus Mbak Evi…good luck ya Mbak..:)

Leave a Reply