Indonesia Authentic Diversity

Indonesia Authentic Diversity – Branding Indonesia

Saya beruntung terlahir sebagai orang Minang yang terkenal sebagai suku perantau dan berkarakter egaliter. Itu salah satu alasan mengapa Bapak saya enteng saja membawa keluarganya pindah  ke berbagai tempat. Kebiasaan yang secara tak sadar mengekpos saya kontak dengan berbagai etnis Indonesia lainnya . Pernah bertetangga dengan orang Sunda, Jawa, Batak, Ambon, Timor, Tionghoa, Aceh, Arab dan lain-lain. Kulit teman main saya dimulai  dari putih, kuning sampai legam. Mata mereka dari belok, sedang sampai sipit. Begitu pun rambut dari lurus, ikal sampai keriting. Dan tak ketinggalan bahwa bahwa mereka juga  memeluk berbagai kepercayaan.

Singkatnya saya terbiasa hidup dalam masyarakat yang kompleks.Kalau boleh mengistilahkan sejarah hidup saya adalah refleksi dari Indonesia mini susungguhnya, Bhineka Tunggal Ika itu.

Indonesia Kaya dalam Keragaman

Tidak aneh jika kemudian saya senang mengenal berbagai kebiasaan atau adat-istiadat suku dari daerah lain. Menganga menonton tradisi Hombo Batu dari Nias. Senang ikut melihat  orang-orang lari mengelilingi parit saat Suku Dayak Kalimantan mengisolasi api dalam pembukaan ladang. Hampir menangis saat Si Kerei, dukun orang Mentawai, membuat tanda silang di dahi saya. Mencatat detail tata upacara aqiqah anak di Minangkabau. Memekik ngeri tapi tetap ngotot nonton Tatung di Singkawang. Tentu masih banyak seremoni lain yang kalau dituliskan terlalu panjang dalam posting ini.

Hebatnya itu semua tidak membuat identitas keminangkabauan saya luntur. Malah sebaliknya dan tak berlebihan jika menguat jadi identitas Indonesia.

Alam yang Aduhai

Begitu banyak yang saya syukuri hidup sebagai warga negara Indonesia. Untuk berwisata alam misalnya tak perlu pergi terlalu jauh. Tiap sudat punya pemandangan unik yang terkadang bisa menghentikan napas sejenak. Pergi saja ke Karimunjawa. Baru sampai di dermaga saja saya sudah bertanya, apakah sedang berada di surga atau bukan? Airnya yang membiru jernih, berpasir putih dengan ikan-ikan kecil berenang di dalamnya tak bisa menghentikan saya mengingat gambaran firdaus dari pelajaran agama saat kanak-kanak dulu.

Indonesia itu memang ibarat gadis dengan kecantikan sempurna. Tak hanya luar tapi juga dalam. Dirinya memancarkan aura positif yang akan menarik siapa saja untuk mendekat. Apapun yang dilekatkan padanya terlihat indah. Karena dirinya adalah keindahan itu sendiri.

indonesia authentic diversity

Jejeran Perahu Mangkal di Depan Pulau Gosong Karimunjawa

Danau Ranau

Indonesia Authentic Diversity

Itu lah mengapa semboyan apapun akan cocok untuk branding Indonesia. Land of Joy, Land of Diversity, a Place When Love Story Begin, Land You Will Never Forget, Deadly Beauty atau When God Smiles. Semua slogan itu  merupakan refleksi jujur dari kondisi alam dan budaya Indonesia.

Tapi jika diberi kesempat untuk memilih tagline pariwisata, saya akan menggunaka Indonesia Authentic Diversity.  Semboya ini sejalan dengan Bhineka Tunggal Ika. Berupa ajakan kepada seluruh rakyat Indonesia agar hidup rukun sekalipun terdiri dari berbagai suku bangsa.

Namun Indonesia Authentic Diversity lebih dari sekedar ajakan kerukunan. Ini adalah ajakan cara memandang Indonesia menurut dari apa yang telah saya tuliskan di atas. Bahwa keragaman budaya dan keindahan alam Indonesia bukan imaji pura-pura, gambar yang dipoles agar cantik secara visual. Indonesia Authentic Diversity adalah sebuah realita yang perlu dikemas dengan cerdas untuk menarik wisatawan berduyun mendatanginya.

Pembenahan Dari Dalam

Menemukan tagline yang tepat bagi pariwisata Indonesia adalah satu soal. Membereskan pekerjaan rumah adalah soal yang lain. Wonderful Indonesia pun sebetulnya sudah cocok digunakan kampanye secara global. Hanya bila kenyataannya kurang gaung dibanding “Truly Asia” nya Malaysia sudah sepatutnya kita menengok ke dalam, ke persoalan paling mendasar dari industri pariwisata kita.

Mari kita tanya diri sendiri. Apakah keragaman budaya dan keeksotisan alam saja sudah cukup jadi alasan orang berkunjung? Bagaimana infrastrukturnya? Bagaimana servicenya, legalitasnya dan jaminan bahwa setiap sen yang mereka keluarkan memang layak?

Saya pernah mendatangi Danau Ranau di Lampung. Merasa aneh bahwa tempat seperti  itu tidak masuk sebagai destinasi utama sepertinya halnya Danau Batur di Bali. Ranau tak kekurangan apapun untuk menarik wisatawan dibanding Toba? Latar belakang cerita rakyat? Ada? Pemandangan spektakuler? Jangan ditanya! Fasilitas penunjang? Yah ini harus diberi jempol ke bawah!

Jadi kembali pada gambaran besarnya, menjelang terbentuknya Komunitas Ekonomi ASEAN banyak nian yang mesti dibereskan di sektor pariwisata Indonesia. Tak sekedar iklan kurang gaung atau tagline yang kurang ear catching. Ada pekerjaan mendasar yang perlu dikerjakan sebelum mensejajarkan diri dengan gema “ Truly Asia”. Apakah itu? Membenahi infrastruktur, menghapus korupsi dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.

Menjelang KEA 2015, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif perlu kerja lebih keras lagi dalam membenahi centang perenang dunia plesiran kita. Rakyat Indonesia tentu akan membantu dengan berbagai cara.

Bagaimana menurut teman-teman sekalian?

@eviindrawanto

#10daysforASEAN #day 3

Bookmark the permalink.

6 Comments

  1. Ni Made Sri Andani

    Ya..bener banget Mbak Evi.
    Kita memiliki kecantikan asli yang sangat beragam sudah dari sononya. Terlepas itu dimanfaatkan untuk tujuan mengkomersialkan dalam ‘pariwisata’ maupun tidak, kekayaan itu secara genuin memang selalu ada di situ. Bukan baru di-create karena diperlukan untuk meningkatkan jumlah pengunjung /wisatawan yang datang.

    Saya pikir, jika masyarakat/pemda kita mau sedikit saja berusaha memanfaatkannya untuk tujuan itu, jalannya sangatlah mudah – karena keragaman budaya, adat istiadat dan keindahan tempatnya memang sudah ada dan siap untuk dijual – tinggal mempersiapkan sarana/prasarananya saja lalu memasarkannya dengan baik.
    Beda jika kita aslinya miskin dengan adat budaya dan keindahan alam – tentu kita harus bekerja jauh lebih keras untuk berhasil menarik orang datang mengunjungi negara kita.
    Saya kadang merasa iri jika melihat betapa berlipat-lipatnya jumlah tourist yang datang mengunjungi tempat-tempat wisata yang menurut saya biasa-biasa saja di luar sana, dibandingkan dengan jumlah yang berhasil kita tarik untuk mengunjungi negara kita.

    • Mungkin benar bunyi peribahasa ayam mati di lumbung padi, Mbak Dani..
      Dengan potensi alam dan budaya yg tak terukur begini, pembuat policy malah gak tahu mesti gimana..Lucu banget ya kadang..:)

  2. Setuju banget dengan tagline Mbak…sejalan dgn semboyan Bhineka Tunggal Ika..

  3. Agreed with your post, sir..
    Salam kenal dari saya

    Nada (www.nadataufik.com)

Leave a Reply