Berani Cerita #19: Insiden Zebra Cross

Di sebuah perempatan lampu merah Jakarta, cuaca terik, seorang perempuan tua dengan kerudung dan baju lusuh ikut menyeberang bersama puluhan pengguna jalan lain. Wajahnya tampak lelah.  Kepalanya merunduk sambil mulutnya bergumam seolah menghitung tiap garis putih pada zebra cross. Tepat saat berada di tengah,  mendadak dia berhenti  lalu menjatuhkan diri dengan duduk menggelosor.

Karena tak menduga aku yang berjalan tepat dibelakang hampir saja menabraknya. Untung Riza, adik lelakiku, bereaksi cepat dengan menarik tanganku ke arahnya sehingga aku tak hilang keseimbangan.

Belum lepas dari keterkejutan tiba-tiba perempuan tua itu berdiri dan menarik bajuku. ” Kamu harus bertanggung jawab!” Teriaknya.

Seluruh sistem di tubuhku serasa terhenti. Mereka memberikan seluruh energi pada jantung yang sekarang memukul-mukul dengan kencang.

” Hutang nyawa harus dibayar nyawa!” Teriaknya lebih keras. Napasnya terengah-engah dengan  bola mata liar berputar-putar. Aku pernah melihat dari National Geographic TV bahwa seperti itu lah kondisi hewan sedang terluka.

Tapi apa yang telah aku lakukan sampai dia terluka? Tentu saja pertanyaan tak terjawab karena area zebra cross berubah jadi riuh.

Samar-samar terdengar Riza memerintahkanku lari plus dibantu oleh dorongan tangan kirinya. Sementara tanggan kanan digunakan Riza menahan karung butut yang aku pikir berisi kaleng-kaleng rombeng karena hendak dipukulkan ke tubuhku.

Tapi sepertinya kakiku menyalahi proses evolusi. Bahwa saat terancam otak mengeluarkan serangkaian hormon dan memerintahkan agar lebih banyak darah dipompa ke arah jantung. Gunanya untuk menyelamatkan diri. Alih-alih malah kakiku terpaku ke bumi. Akibatnya satu ayunan sukses mendarat di keningku.

Tak lama terasa cairan hangat meluncur ke pipi dan sebagian masuk ke mulut. Rasanya agak asin.Rupanya ada benda tajam dalam karung itu sehingga melukai keningku.

Saat kebingunan mengusap darah yang mengalir itu lah seseorang menarik tanganku. Dengan tubuh seringan kapas serta roh yang menghilang kubiarkan dia menuntunku sampai ke seberang.

————

3 tahun kemudian

————

Aku dan Mas Bimo sepakat bahwa ulang tahun pertama Risa, putri kami, diadakan di kediaman Omanya yaitu Rumah Emas, semacam tempat pemulihan bagi mereka yang mengalami perlukaan jiwa.

Ibu mertuaku yang sedang duduk di taman menatap kosong saat kami datang menghampiri. Kekosongan itu agak beriak ketika dia manatap Risa. Tapi beberapa menit kemudian kosong lagi. Malah menit-menit selanjutnya dia tak bereaksi apapun terhadap pembicaraan kami.

Setelah saling membisu agak lama, Mas Bimo meletakan Risa kepangkuan ibunya. Rupanya sentuhan kulit bersama sang cucu menarik Mama keluar dari dunianya sejenak. Sudut mulutnya terangkat dan dia mulai tersenyum. Air mataku menetes. Apa lagi ketika tangan keriput itu mulai mengusap kepala Risa, aku tak tahan untuk tidak segugukan.

” Kita akan lebih sering membawa Risa kemari..” Bisik Mas Bimo di telingku. Aku mengangguk.

Yah bagaimana mungkin tak setuju? Perempuan ini lah yang mempertemukan aku dengan Mas Bimo, saat dia menarikku dari zebra cross dengan kening berdarah.

Mama memang takan pernah bersua Ratih lagi karena satu-satunya adik Mas Bimo telah meninggal dalam kecelakaan lalu lintas sepuluh tahun lalu. Ketika seorang pemabuk memutuskan tetap tancap gas padahal lampu merah masih menyala. Tapi setelah hari ini kami percaya bahwa kehadiran Risa akan membawanya keluar dari dunia hening, gelap dan sepi.

Bookmark the permalink.

10 Comments

  1. Kadanga obat tidak hanya berupa jamu atau pil, kehadiran seseorangpun bisa menjadi obat yang ampuh!

  2. Kasihan …:( Oma itu mamanya bimo ya? Salam kenal mbak 🙂

  3. bener mbak monda…baru sekali ini saya mampir disini….wah makin hebat aja nih mbak evi…..

  4. aku baru tau uni punya blog ini,
    selamat uni.., baca2 dulu

  5. jago banget sihh bikin cerita..sukaaa

Leave a Reply