Cinta Yang Tak Mungkin

Kami duduk berhadapan di meja kayu yang diatasnya terdapat dua mangkuk soto ayam yang masih mengepul. Tidak berkata, hanya saling menatap dengan perasaan dekat sekaligus jauh.  Tiba-tiba lelaki itu tersenyum.”Ya Allah jangan biarkan air mataku runtuh” Doaku dalam hati.

“Ayuh makan dulu” Dia mengambil sendok-garpu dari wadah plastik yang disediakan. Setelah menyeka ulang dengan tisu bersih sepasang diberikan kepadaku.

“Kamu dulu mengatakan bahwa soto ayam merupakan cara nenek moyang Indonesia berhemat pemakaian daging..”

“Masih berpikir seperti itu”

Aku mulai mengaduk soto bagianku dan menambahkan perasan jeruk nipis ke dalamnya. Bagiku soto ayam selalu identik dengan jeruk nipis. Dan selalu seperti itu.

“Heh! Pikiran yang aneh!”

“Kamu bukan orang pertama yang berkata seperti itu”

Lelaki itu terbahak lalu menyuap sotonya. Caranya mengangkat sendok membuatku membayangkan wanita seperti apa ibunya. Yang jelas bila dia berhasil mendidik putranya, sampai-sampai kesantunannya pun terlihat dari cara dia memasukan makanan ke mulut,  pasti lah seorang wanita yang baik.

“Apa?”

“Ah tidak!” Pipiku terbakar, tertangkap basah memandangi  wajahnya lekat-lekat.

“Kamu bersemu merah” Ujarnya datar.

Setelah itu kami sibuk dengan makanan masing-masing atau lebih tepatnya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Satu tahun lalu kami bertemu di tempat ini, warung soto sederhana pinggir jalan.  Dia pekerja sebuah LSM international, warga negara Korea, yang kebetulan bekerja sama dengan lembaga dimana aku bekerja. Hari itu kami berdua turun ke lokasi kelompok tani dampingan dan membahas berbagai isu pertanian organik.

“Aku ingin bersamamu” Tangannya memutar-mutar gelas berisi sisa teh.

” Hah?”

“Aku ingin bersamamu! Selamanya!”

Aku tak menjawab. Bagaimana mungkin mengatakan bahwa akupun ingin bersamanya. Ingin mendampinginya dalam suka dan duka. Pertemuan sore hari satu tahun lalu yang membuatku percaya bahwa Allah telah menjawab doa-doaku yang panjang. Dia membuat pria impian remajaku keluar dari ruang imajinasi. Tak masalah dengan kewarganegaraannya. Toh saat meminta kepada Allah, aku tak mensyaratkan harus warga negara Indonesia.

Masalahnya kami tidak mungkin bersatu. Kalau hubungan ini diteruskan akan terlalu banyak kendala untuknya. Sosial maupun psikologis. Aku terlalu mencintainya untuk meletakan beban di pundaknya. Jadi lebih suka melepaskannya pada wanita lain yang jauh lebih pantas.

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Hidup lah dengan kekeras kepalaanmu. Aku berangkat sekarang”

Sebuah taksi biru melenyapkan lelaki tercintaku di belokan jalan. Mereka menuju Airport. Dia akan membawa pulang ke negaranya.

Aku masih termangu di depan warung soto memandangi rintik hujan yang mulai turun satu persatu. Air mata yang kutahan sejak tadi sekarang ikut mengalir menemani sore yang lembab.

“Selamat jalan” Ucapku dalam hati. “Selamat bertemu dengan wanita yang akan mencintaimu seperti aku, mengisi masa mudamu. Masa depan yang cerah akan membukakan pintu bagi lelaki 25 tahun sepertimu. Dan selamat melupakan aku.”

Ponselku bergetar. Rinam, adikku yang berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan berbicara santai di seberang.

“Aku sudah membaca hasil laporannya. Ketidakteraturan haid yang Mbak alami itu normal saja kok. Itu gejala manopause.”

“Kapan berhenti sama sekali?” Hatiku semakin dingin.

“Satu tahun dari sekarang lah..”

Kututup ponselku dengan mengucapkan terima kasih. Merapatkan jaket dan  berjalan ke dalam hujan.

Words count : 495

Cerita pertamaku untuk Monday Flash Fiction Promt #20: Lelaki

Bookmark the permalink.

27 Comments

  1. Mbak Evi, please check inbox FB ya.. sudah dikirim inbox sama Mpok Istiadzah, tapi kayanya belum dijawab tuh. Salah satu syarat approve adalah membalas inbox ^^ Kalo ga ada, check di other messages ya..

    Ditunggu ^^

    • Oh oonnya saya..Makasih Mbak Carra..Tadi sudah saya cari di other message, rupanya tersembunyi disana. Pantas dari kemarin aku tungguin, kok belum disapa juga.
      Makasih ya Mbak, pesan inbox-nya sudah saya jawab 🙂

  2. ceritanya bagus.
    maaf ini kl di grup evi yang mana ya? aku sering bingung banyak nama yg samaan…

  3. kirain karena beda agama. ternyata perawan tua…
    tapi ini mah bukan oedipus. karna yg dicintainya bukan ibunya. 🙂

  4. sukka, gaya penceritaan en twistnya udah mateng banget nih 🙂

  5. Endingnya nggak ketebak.

    Welcom to MFF Mbak Evi .. 😀

  6. ehm… ada kisah serupa yg saya tulis mbak… tapi yg ini jauuh lebih manis 🙂

  7. Ejawantah Wisata

    cerita ini bisa saya lihat di hadapan kehidupan lingkungan saya. Tapi lagi jamannya tuh Mba. He,,,,x9

    Salam wisata

    • Iya Pak Indra, jatuh cinta itu terkadang tak mengenal situasi dan kondisi. Entah itu berkat atau kutuk. Hubungan cinta antara anak manusia yg punya perbedaan umur mencolok hanya bisa terjadi kalau yg lebih tua adalah lelaki. Itu fakta sosial kita 🙂

  8. Kirain karena beda agama. Ahaha…. Ternyata cowoknya jauh lebih muda ya? Keren. 🙂

  9. wah… kaget dengan endingnya.
    bagus sekali..

  10. menarik ceritanya, terkejut saya pada akhirnya. dan teringat pada Alm. Ully artha 🙁 wlo kisah mereka jelas tidak sama. hanya saja, tentang keuzurannya ketika melepas kesendiriannya … ah cerita ini membekas buat saya, Uni. 🙂

    • Iya Ullu Artha disaat-saat terakhirnya menemukan cintanya, Mbak Niq. Semoga dia damai di alam sana. Amin.
      Terima kasih ya atas apresiasinya 🙂

  11. Wkwkwkwk gaul… oedipus kompleks yak…

  12. Menepous? perempuan tua? atau penyakit?

Leave a Reply