Cerpen : Impulsif

Menurutmu apa yang bisa memicu sebuah Rindu? Tempat dan suasana romantis? Benda-benda tertentu? Aroma parfume atau bunga? Atau kamu sengaja mencari-carinya?

Sambil bergumam dalam hati Ratih meraih bekas kotak sepatu yang berdebu dari atas lemari di rumah orang tuanya. Kalau tak salah kotak itu sudah 30 tahun berada disana, terbuang dan dilupakan.

image

” Hm, tiga puluh tahun ” Ratih bergumam. ” Lalu apa perlunya kubuka sekarang?”

Kotak yang ternyata berisi pita kaset lagu-lagu pop dari era 80-an. Walau harus dengan merobeknya Ratih gembira bahwa kondisi merekaΒ  masih baik. Padahal sejak malam midoderaninya, ketika dia memutuskan menyimpan semua kenangan bersama Rudi dan memulai kehidupan baru bersama Baskoro, Ratih berdoa takan pernah lagi mendengar lagu-lagu yang ada dalam kaset itu.

Tapi sekarang terpikir olehnya Mengapa pita-pita kaset ini harus ia simpan?

Satu persatu album dari para penyanyi favorite Ratih di gelar di lantai. Ada Ebit G. Ade, Chrisye, Sandro Tobing, Fariz RM, Vina Panduwinata dan lain-lain. Dia tertawa memandangi sampulnya. Gaya berpakaian dan model rambut artis-artis kondang itu sangat berbeda. Vina Panduwinata, misalnya, berambut keriting cenderung kribo yang dibiarkan lepas tergerai di bahu. Akibatnya wajah Vina tampak tambah bulat dan lehernya pendek seperti bebek. Dan Sandro Tobing yang sekarang berpenampilan bapak-bapak dan gemuk ternyata di masa muda sangat ganteng. Ratih tersenyum dan mengusap box pita kaset Sandro Tobing dengan lembut. Betapa Dulu dia sangat menggemari suara dan penampilan penyanyi ini.

Ratih duduk bersimpuh di lantai dan menjajarkan benda kenangan tersebut di hadapannya dengan rapi. Kalau saja pita-pita kaset ini tidak ia simpan melainkan ia buang atau diberikan kepada teman-teman dan keponakannya, mungkin hari ini ia tidak perlu membongkar kenangan yang melekat pada benda ini. Sekarang disinilah Ratih Duduk termenung menatap benda koleksi kesayangannya jaman dahulu. Benda-benda yang membawa kenangan kepada lelaki tinggi kurus dengan rambut panjang terurai.

Iya begitulah . Sejak sebulan terakhir kenangan Ratih terhadap Rudi bangkit kembali. Sebelum membuka pita kaset di rumah ibunya ini, Ratih mencari lagu-lagu kenangan mereka di Youtube. Pemicunya adalah reuni dengan teman kuliah yang bertemu di facebook. Dari pembicaraan ngalor-ngidul tentang masa lalu, terkuak nama Rudi, lelaki yang pernah membuatnya menangis berbulan-bulan. Bagaimana lelaki berpostur tinggi langsing, berambut gondrong yang selalu diikat ke belakang seperti pendekar dalam cerita silat Cina itu diam-diam memacari Rita. Kalau lah Rita bukan sepupunya sendiri mungkin Ratih rela diputuskan. Menganggapnya sebagai luka pertumbuhan yang merupakan salah satu konskwensi dari hidup. Atau sebagai sebuah pelajaran karena berani jatuh cinta.

Tapi gadis itu Rita. Sepupunya. Bagaimana pahitnya perasaan Ratih terhadap Rita tergambar tatkala sekali dua kali keluarga besar mereka menyinggung namanya. Dan tiap kali mendengar nama Rita, tiap kali pula Ratih merasakan sakit di jiwanya. Sampai saat ini pun belum mengerti juga bagaimana saudara yang tumbuh bersama itu mau menerima ulang cinta Rudi. Ratih merasa seperti dikamnya dari belakang.

Usai reuni Ratih mulai mengumpulkan informasi tentang Rudi. Lelaki yang akhirnya juga meninggalkan Rita untuk menikah dengan gadis lain. Temannya juga menginformasikan bahwa Rudi sekarang meneruskan usaha orang tuanya, toko kaset yang sekarang berubah jadi toko elektronik.

Ratih tidak tahu pasti apa yang diinginkannya saat berpura-pura jadi calon pembeli dan datang ke toko itu. ” Seharusnya aku membawa pisau, pistol atau sekedar silet tajam. Biar dia tahu rasa!”. Ratih langsung bergidik pada kesadisan jalan pikirannya ” Ya Tuhan gak segitunya kaleeee..”.

Semenit kemudian dia mulai memperhatikan lelaki di belakang meja kasir. Tubuhnya yang tambun dan tinggi tampak menyusahkannya bergerak lebih lincah. Rambut pria tersebut juga botak. Tampak dia sedang bersungut-sungut pada karyawan yang berdiri nervus disampingnya.Β  ” Ah pasti bukan dia ” Bisik hati Ratih. ” Tapi tahi lalat diujung hidungnya itu…”

Dulu Rudi tampan seperti Rudi Salam, kakaknya Roy Marten. Kalaupun dia berubah mestinya tidak begitu banyak. Tapi tahi lalat pada ujung hidung lelali tambun itu membuat Ratih ingin menampar dirinya sendiri.’ Hayah..kamu bukan remaja lagi yang mengukur orang berdasarkan penampilan fisik!” Hardiknya pada diri sendiri.

Di tengah kegalauan itu ponsel Ratih berdering. Seketika perasaannya langsung ringan. ” Mas Bas, aku sedang di Proyek Senen, jemput ya..”

“Ngapain kamu disana?” Baskoro keheranan.

“Gak kok. Sekedar mengecek masa lalu..”

Dan Ratih pun keluar dari toko itu dengan perasaan amat rindu pada Baskoro, suaminya sendiri.

Bookmark the permalink.

25 Comments

  1. Jadi mas Baskoro lebih keren dari Rudi kaaan?? Alhamdulillah.. πŸ˜€

  2. hihi
    itu Ratih pasti keseringan nonton sinetron abg sekarang deh kayaknya.
    anyway, suka. tapi mbak. move on. move on mbak. #kemudianKabur

  3. wahh…mengunjungi masa lalu ya Tan heuheu. Untunglah mas bas nelpun, jd ga ketemu si Rudi πŸ™‚

  4. Masa lalu emang kadang gak seindah masa kini … Hehe.. Dulu tampan sekarang gak, dulu cantik sekarang apalagi?

  5. kadang, masa lalu itu bukan tempat yang pas untuk tinggal ya mba πŸ˜€

  6. Evi…aku mau ngeritik nih… boleh kan? πŸ™‚ | Ada kesalahan ketik di sana-sini, termasuk kata ‘nervus’. Mungkin maksudnya ‘nervous’ yah? padahal lebih apik diganti dengan ‘gugup’ aja.
    lalu, di sini tokoh ratih saya perkirakan berumur 50-55 tahun. Tapi jalan pikirannya seperti remaja. Nggak cocok, Vi. Contohnya pada kalimat >> ” Ya Tuhan gak segitunya kaleeee..”.
    Oh ya, semoga Vina Panduwinata nggak marah ya kalo dibilang kayak bebek. Hehehe.
    Salam. πŸ™‚

    • Iya Mbak Riga, salah satu kelemahanku yg mesti terus diperbaiki dalam tiap menulis yaitu malas membaca ulang tiap kalimat, jadinya banyak salah ketik yang lolos. Semoga kedepannya saya memperbaiki diri πŸ™‚

      Kritik yang lain, terima kasih Mbak, ini bekal saya untuk menulis ke depan, agar mau memperhatikan lebih detail apa yang menggelontor dalam otak, sehingga gak ada yang tersinggung ya πŸ™‚

  7. ini bukan pengalaman habis reunian kaaan?…. hehe….

  8. hanya mengecek masa lalu. kadang memang pengen balik lagi ke masa lalu, hehe

  9. Itu memang saya jeng.
    Nggak setampan dan sekekar dulu lagi sih, tapi masih okhey kok
    Kaset lagu “Rindu” yang dinda berikan pas ultah jadian kita juga masih rapi saya simpan lho. Sssst…foto rambut kepang duamu juga aman meringkuk di dompetku sampai sekarang.
    Salam sayang selalu

  10. Bila hasil pengecekan masa lalu itu positif (misalnya Rudi msh seganteng dulu) bagaimana endingnya ya mbak? haha… iseng saja aku ini…

    • Kalau mempertahankan Moral of the sotoy (story) bahwa terlarang bagi perempuan yg sudah menikah kembali ke cinta masa lalu, banyak banget yg bisa dilakukan untuk menyingkirkan Rudi, Mbak Mechta. Kalau versi sinetron indonesia, bikin saja bahwa sebenarnya Rudi sudah meninggal, sementara yang jaga di belakang kasir itu adalah saudara kembar identiknya.

      Tapi kalau mau agak keren sedikit, biarkan si aku ketemu Rudi, menikmati waktu-waktu yang hilang sejenak, sampai si aku gerah sendiri bahwa Rudi ternyata tak sekeren lelaki yg diimpikannya πŸ™‚

  11. Mau di bawa kmna ni cerita? hehe kurang fokus sepertinya. Maaf cuma berkomentar. Semangat !’:)

Leave a Reply