Berani Cerita #18: Tiket Keberuntungan

” Apa sih nikmatnya nge-blog? Risti tidak sabar saat diminta menunggu 15 menit lagi sebelum kami pulang. Aku sedang update blog.

Jelas tak bisa menjawab tentang kenikmatan jadi sebagai seorang blogger. Berpayah-payah cari ide tiap hari lalu menuangkannya ke dalam tulisan. Dan tak jarang menyita waktu.

Banyak blogger memanfaatkan blog sebagai mesin pencari uang. Tapi untukku keuntungan finansial jelas tak mungkin. Selain gaji di kantor sudah memuaskan, kebanyakan blogku berisi curhatan. Tak seorangpun mau membayar tulisan lebai karyawati jomblo usia 28 tahun, bukan?

Namun begitu lah. Aku terus menulis. Tanpa tujuan pasti blog hendak kemana. Kucing habis melahirkan saja jadi sumber curhatan. Seperti betapa beruntungnya dia. Walau gak jelas siapa suaminya tapi sudah punya anak. Sementara rahimku yang telah seperempat abad lebih tiga tahun masih saja menggangur karena belum bertemu sang pembuah yang tepat.

Kapasitas otakku terbatas. Dibuktikan dengan nilai biasa-biasa saja selama sekolah. Jadi bukan keahlianku  menyimpan berbagai cerita yang melintas disana. Terutama kerinduan ingin bertemu kembali dengan lelaki yang membuatku takluk saat usia  tujuh tahun. Menyerah tanpa syarat pada pesonanya. Seseorang yang juga telah membuatku patah hati diusia dini. Sebab waktu penelitian Papanya yang cuma tiga bulan di kampung kami itu habis, dia menghilang begitu saja.

Lelaki itu mungkin berusia 12 tahun saat itu. Bertubuh lebih tinggi dari anak lelaki kebanyakan. Berkulit cerah dengan matanya yang selalu tersenyum. Paling penting dia tidak menganggapku aneh karena lebih suka main gasing bersamanya ketimbang membantu ibu di dapur.

Tentang permainan gasing ada yang menarik. Aku masih menyimpan potongan gasing miliknya yang terbelah dua karena bertanding denganku. Dia marah sekali karena gasing itu hadiah ulang tahun dari almarhumah mamanya. Permintaan maafku tak digubris. Padahal aku tak sengaja melakukan. Mungkin itu sebab dia pergi begitu saja, tanpa pamit dan membiarkan hatiku berdarah.

Jujur aku merindukannya. Terkadang membencinya. Mengapa kenangan terhadap gasing itu terus menghantuiku? Tapi yang paling kuinginkan kalau saja Allah mempertemukan kami,  meminta maaf karena sudah merusak kenangan berharga bersama mamanya. Itu sebab foto dari gasing rusak itu kujadikan header blog. Tidak tahu pasti apakah itu bentuk penyesalan atau menghukum diri sendiri.

” La, ada yang menunggumu.” Lagi-lagi Risti memecah konsentrasiku.

” Dia sekarang sedang ngobrol dengan Pak Satpam” Raut wajah Risti yang aneh mendorongku memencet tomblol publish. Percuma diteruskan atau di edit karena moodku sudah hilang.

———-

Jantungku berdebar kencang saat menyadari yang berdiri didepanku seorang novelis kondang. Karya banyak digilai para  gadis remaja. Rambutnya yang panjang terikat rapi. Karena saya bukan penggemarnya terlambat menyadari bahwa senyumnya mengingatkanku pada Lee Min Ho, artis Korea. Tapi  miliknya jauh lebih matang.

Tiba-tiba harapanku membumbung tinggi. Ngapain dia datang ke kantorku? Menawarkan pekerjaan sebagai asisten penulis sebab membaca blogku? Masya Allah aku pasti mau!

” Manila Seruni ?” Aku mengangguk. Tiba-tiba ingat nama panjangku tak terdapat dalam blog. Kok dia bisa tahu?

” Ingat ini?” Sang novelis mengayunkan-ayunkan kalung berleontin gasing yang jadi logo dan header blogku.  Gayanya seperti seorang penghipnotis.

” Maafkan aku membutuhkan waktu tiga bulan sejak menemukan blogmu. Lagi pula aku harus pulang ke rumah Papa di Gorongtalo dan mencari potongan gasing ini di gudang.”

Air mataku menetes, pemandangan sekitar memudar dan ingat cuma samar-samar sesaat sepasang tangan kokoh menangkap tubuhku agar tak jatuh membentur lantai.

Word counts : 514

Bookmark the permalink.

21 Comments

  1. Tante, kenapa aku tersindir ya, coz ‘si aku’ mirip nih sm aku, curcol mulu di blog *ups* qiqiqiqi

  2. saya koq menangkap ‘pecahan gasing’ sebagai tiket keberuntungan….eh….bukan ya, blognya ya?….

  3. Ini keren tiketnya!

    Nggak harus berupa tiket beneran kan ya? Setuju saya.

    Kalau membaca dengan hati pasti mudeng kok kalau blognya adalah jalan ‘menuju’ ke si cowok pemain gasing..

    Nice story mba Evi.. 🙂

  4. Idenya keren. Memang implisit sekali dalam menunjuk bahwa blog adalah tiket keberuntungan. Mungkin bisa dicari celah agar ada satu atau dua kalimat yang menunjukkan maksud itu 😀

  5. Tiket dalam artian lain! Gue suka … 🙂

  6. Ngeblog memang bisa menjadi tiket kemana-mana ya, Mbak 😉

  7. selain ada beberapa kata yang keliru penulisannya, cerita ini baik-baik saja. tema ‘tiket keberuntungan’ nggak mesti diartikan secara harafiah sebagai selembar kertas kan? dia bisa berupa apa saja.
    oya, jika di akhir kisah sang tokoh wanita tidak diceritakan pingsan, sepertinya kisah ini juga akan berakhir ‘baik-baik saja’. 🙂

    satu lagi, “senyum yang matang” itu yang kayak mana ya? *senyum-senyum sendiri di cermin.
    *udah matang belum ya? hehe.

    • Senyum yg matang itu dimiliki lelaki dewasa yg didalamnya berisi aneka pengalaman yg telah dilaluinya, Riga. Terima kasih atas pendapatnya. Membantu saya agar meningkatkan kualitas tulisan:)

  8. Ah… idola sejak masa lalu ya mbak? Hm.. karena ngeblog jadi ketemu lagi…. asyiik… eh, nggak harus pas 500 kata to?

  9. Hai.. mo sedikit ngoreksi ni.. gorongtalo harusnya Gorontalo.

    Cerita manis.. hmm.. tiket keberuntungannya yg mana y?

    • Terima kasih atas koreksinya 🙂
      Yah berarti blog sebagai tiket keberuntungan terlalu lemah penekanannya ya?..Duh mesti banyak belajar lagi ini..Makasih Mbak Ike 😉

      • Iya, kurang jelas kalo blog itu tiket keberuntungan dia. Mungkin perlu ditambahin di akhir kalo ternyata blognya jadi tiket keberuntungan buat ketemu lagi sama cowok itu.

        Anyway, ceritanya keren. 🙂

        • Iya, mestinya td gitu ya mbak. Mestinya tadi aku tambahkan. Tiket keberuntungannya mestinya aku pakai, kan tidak menyalahi aturan, tak boleh menggunakan kata beruntung. Makasih ya Mbak. Ah susah sekali menuliskan namamu dalam huruf kanji itu 🙂

Leave a Reply