Terlalu Banyak Pekerjaan? Coba Pikir Lagi!

Melakukan banyak pekerjaan baik bagi pengembangan pribadi. Terutamanya pekerjaan yang melibatkan otak dan fisik. Bila mereka terus dirangsang untuk bergerak hasilnya tentu kesehatan yang lebih baik. Sejarah pun sudah membuktikan bahwa otak dan fisik yang terus bergerak jauh lebih baik ketimbang  yang menganggur.

image

Bergerak lah maka otak pun akan jauh lebih sehat

Namun pada satu titik alam menuntut keseimbangan. Bahwa kelebihan  di satu sisi dan mengabaikan sisi lain mengancam harmonisasi tataan hukum mereka. Artinya bila terjadi disharmonisasi secara otomatis mereka memaksa  agar harmonisasi itu kembali. Kita tidak pernah tahu cara apa yang dipakai alam untuk mengembalikan harmonisasi, yang kita rasakan dan lihat hanya akibatnya.

Akibat dari pekerjaan yang tidak seimbang antara tenaga dan ambisi, misalnya, menemukan titik temu pada kekacau. Alih-alih menyelesaikan pekerjaan satu persatu, kita terlalu frustrasi, dan bahkan sulit bernapas. Kita merasa terkepung. Selalu kehabisan tenaga. Jadinya ya gitu deh..Pekerjaan yang seharusnya selesai tepat waktu dibiarkan terbengkalai. Pekerjaan yang mudah terlalu membosankan untuk diselesaikan.

Hari ini saya membuat list semua pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak memberi nilai penting atau tidak, pokoknya dicatat semua. Setelah jadi dan membaca ulang membuat mulut terngaga. Ternyata tidak begitu banyak! Lah kok tadi saya begitu frustrasi harus memulai dari mana? Kok bisa-bisanya tadi saya menganggap tugas-tugas yang harus diselesaikan sangat banyak?

Cara Keluar Dari Terlalu Banyak Pekerjaan

Moral of the story: Sebelum mengatakan kamu terlalu sibuk, terlalu banyak pekerjaan sampai sampai bernapas saja susah, coba duduk bersitenang sebentar. Buat list apa saja yang membuat Anda uring-uringan. Setelah selesai telusuri lagi satu persatu. Akan terlihat mana yang penting dan tak penting. Mana yang harus diselesaikan segara dan mana yang bisa ditunda.

Dengan cara membuat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan kita dapat gambaran lebih jernih. Bahwa sebenarnya yang memerangkap kita adalah pikiran terhadap pekerjaan itu dan bukan pekerjaan itu sendiri.

Arigato!

Bookmark the permalink.

Leave a Reply