Menyemai Cinta Dalam Mengatasi Friksi

Berkawan dalam lingkungan  ibu-ibu tak terhindar dari bermacam friksi. Ada-ada saja penyebabnya.  Mulai dari ketersingungan, gossip, merasa tersindir sampai ketidak puasan karena mendengar bahwa dirinya diomongi dari belakang. Gossip misalnya bisa membawa permusuhan dari yang ringan seperti saling mendiamkan sampai perang “mulut” secara terbuka.

Karena saya anggota dari beberapa arisan ibu-ibu dan anggota Club Senam Aerobics yang semuanya ibu-ibu, mudah menemukan kasus-kasus seperti itu.

Emang sih saya belum pernah terlibat perselisihan terbuka dengan sesama ibu-ibu di lingkungan itu. Tapi itu bukan berarti saya imun dalam persoalan semacam ini. Maksudnya kalau sedang jengkel pada seseorang biasanya mudah menerima cerita-cerita buruk tentang dirinya. Bahkan pernah juga ikut menimpali seakan saya itu manusia paling bersih sedunia. Dan tentu saja ada juga teman yang pernah marah kepada saya. Kemarahannya memang tidak ditumpahkan langsung tapi dari bahasa tubuhnya terlihat kalau saja bisa mengucapkan “bim salabim”  saya pasti sudah punah dari muka bumi.

Menyemai Cinta  Mengatasi Friksi Sosial

Saya pernah juga merasa diperlakukan tak adil oleh teman. Akibat perbuatannya saya merasa amat terluka. Bahkan sampai mengasihi diri sendiri. Kalau menurutkan kata hati pengen menegurnya atau mengumbar rasa marah, kok tega-tenya dia berbuat seperti itu kepada saya. Kemana jalinan pertemanan kami selama ini? Apa yang telah saya lakukan kepadanya kok sampai dibalas seperti itu?

Untungnya kemudian pintu hati saya dibuka oleh Allah. Dari perspektif yang berlari jauh dari keegoisan saya sebagai pribadi tampak bahwa teman tersebut tidak bermaksud melukai saya sebetulnya.  Kekurangan wawasan dan pemahaman terhadap orang lain itu lah yang terlihat semacam tirani.

Terus saya juga belajar bahwa kita teramat mudah berasumsi kepada orang lain. Kadang pengalaman sendiri dibawa untuk mengukur sikap orang lain. Lewat kacamata sendiri kita katakan merah padahal bagi orang lain mungkin tampak biru. Parahnya lagi kita bersikukuh bahwa merah yang benar sementara biru salah. Dengan perangkat ego masing-masing, siapa yang bisa disalahkan kalau akhirnya terjadi friksi?

Memahami bahwa orang lain punya cara sendiri dan punya kebutuhan dengan cara mereka bisa jadi menyelamat dunia dari perang berikutnya. Pada intinya adalah menyemai cinta. Seperti belajar memenuhi hati dengan rasa welas asih akan  membuat kita lebih peka. Dengan kepekaan itu kita bisa membaca sesuatu yang tak diungka[ dan mengerti sesuatu yang tak dikatakan. Itu akan mengantar kita memahami orang lain semisal mengapa seorang sahabat berlaku tidak baik kepada kita.

Apakah menurutmu bahwa menyemai cinta di hati akan mengatasi segala perang di dunia ini, kawan?

Bookmark the permalink.

14 Comments

  1. nah ya bener. kadang kalau kita mau melihat ada apa di balik sebuah peristiwa, kita akan menemukan satu aspek positif yang bisa kita ambil hikmahnya…

    • Selalu begitu, dalam segala aspek masalah pasti banyak pelajarn yang bisa diambil, Mas. Tergantung wawasan dan kemauan kita saja untuk mengaplikasikannya..

  2. Betul mbak Evi, saat kita sedang tak suka dengan seseorang, rasanya gampaaang banget terhasut…. susah sekali menyadari kita tak pernah benar2 bersih sehingga berhak menghakimi orang lain… Selamat menyemai cinta, mbak Evi… semoga sukses di GA mbak Niken ini 🙂

    • Iya Mbak Mechta..Susah sekali menjadi jernih dalam menilai orang kalau kita tak suka padanya. Jadi cara terbaik mungkin adalah menghindari untuk menilai orang ya 🙂

  3. belalang cerewet

    Cinta selalu mampu menjadi penyegar segala kerontang jiwa. Sesekali memang perlu mencoba sudut pandang lain, agar kita tidak terjebak pada kooptasi pikiran pribadi semata dan bertindak memalukan karena menuruti amarah. Semoga berjaya di kontes Mbak Niken, Uni. Walau mepet banget waktunya hehe 🙂
    Salam dingin dari Kota Hujan

  4. Untuk memahami biasanya lebih sulit dari pada dipahami, karena seuanya akan berjalan dalam sebuah proses pendewasaan dalam perjalanan wsaktu dalam mebentuk suatu kepribadian yang matang.

    Semoga sukses untuk GA nya Mba.
    Salam wsiata,

    • Awalan me kita memberi, sementara awalan di kita diberi. Dan memberi selalu lebih sulit dari pada menerima, Pak Indra. Wkwkwkwk..

  5. Tiadak ada salahnya jika saling menghargai perbedaan, karena bisa jadi yang kita pahami benar tapi bisa jadi salah…

    • Benar dan salah itu datang dari berbagai sudut pandang, Mas Insan. Dengan meningkatkan saling pengertian akan tersemai cinta yang berbuah pada saling pengertian..

  6. Agustina DianSusanti (@moocensusan)

    ya, masing masing orang kadang berbeda prinsip dan pemikiran. benar2 harus hati hati menjaga perasaan 🙂

    • Betul Mbak Agustina. Bersahabat di kalangan emak-emak itu ibarat main surfing, harus pandai-pandai menjaga keseimbangan agar survive hehehe…

  7. niken kusumowardhani

    Kita memang harus bisa berpikir, bagaimana orang lain berpikir, sehingga kita bisa lebih memahami apa yang diinginkan oleh pasangan

    Terima kasin partisipasinya, tercatat sebagai peserta.

Leave a Reply