Mencari Mata Rantai

Dalam menulis saya punya satu kelemahan yaitu sering kehilangan mata rantai dalam menyambung berbagai ide yang ingin diungkap. Misalnya untuk menuliskan dua konsep dalam satu kalimat sederhana seperti kursi dan sebuah kota, saya amat kesulitan menemukan mata rantainya. Saya pasti akan berputar mencari rumah atau bangunan terlebih dahulu untuk mengatakan terdapat sebuah kursi di dalamnya. Padahal maksunya adalah kursi unik itu dibuat di kota itu.

Tapi itu masih sederhana. Dalam menulis, saat kita mengetuk keyboard untuk sebuah konsep, konsep lain akan muncul tiba-tiba yang saya pikir bagus diletakan untuk menekankan makna kalimat. Sayangnya saya  gelegapan menyambungkan mereka. Kalaupun dipaksa biasanya kalimat jadi kaku dan tak ramah baca.

Kesulitan itu mungkin datang dari ketidak mampuan berpikir runut. Berpikir dari A-B-C dan seterusnya, yang amat mudah dilakukan oleh para penulis terkenal. Cara yang membuat kita betah berlama-lama membaca karya tulis mereka.

Saya tidak tahu dari mana datangnya kesulitan ini. Mungkin kurang banyak latihan menulis atau membaca. Tapi saya yakin  ini akan berlalu sesuai jam terbang. Jika saya terus latihan dan tak menyerah mencari mata rantai itu mungkin tak sesulit sekarang.

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply