Tak Tahu Malu!

Malu aku malu...

Barusan baca posting Mbak Mechta tentang rasa malu. Sebuah uangkapan emosi  yang sering juga dipakai untuk mengungkapkan rasa rendah diri. Seperti malu tampil di muka umum yang sebetulnya datang dari rasa diri tak berharga.

Malunya si Mbak Mechta membuat aku ingat rasa malu yang lain, rasa malu yang mestinya dipakai, yang menyebabkan mengapa lahir ungkapan itu, namun sering tak dipakai orang.

Kejadian di Bandar Internasional Minangkabau kemarin, sesaat hendak balik lagi ke Jakarta. Setelah membayar Airport Tax, di konter sebelah kiri aku perhatikan ada dua orang wanita muda memanggil ibu yang berbaris di depanku dan telah membayar duluan. Ibu yang menggendong balitanya yang sedang lelap tertidur dengan kain itu diminta membayar lagi. Tentu saja ibu yang berwajah lugu itu sejenak heran kok masih ada yang harus dibayar? Tapi walau ragu dia tetap membayar. Saya tak tahu berapa jumlah yang dibayarnya. Namun amat miris memandangi beberapa lembar uang lecek yang dikeluarkan dari dompet dan diterima wanita muda di belakang konter dengan penuh wibawa seakan ibu itu memang wajib bayar seperti kewajiban membayar airport tax bagi setiap penumpang kapal terbang.

Dan mereka tak memanggil aku!

Seperti tulisan yang tertera pada papan konter,mereka itu adalah perusahaan jasa asuransi jiwa perjalanan. Dan setiap orang tahu bahwa kita tak perlu membayar asuransi jiwa sebab saat membeli tiket, kita telah tercover oleh Jasa Raharja. Kalaupun perlu membeli asuransi tambahan, sebaiknya pilih yang ditawarkan maskapai penerbangan yang akan dinaiki. Kopi tiketnya dan tinggalkan kopi tersebut untuk orang rumah. Nah kalau membayar asuransi seperti yang dilakukan ibu tadi, kalaupun terjadi kecelakaan, emang siapa yang bisa mengklaim ganti rugi? Siapa yang tahu dan apa yang bisa jadi bukti bahwa kita telah membeli voucher asuransi? Bukankah bukti berupa slip kecil mirip struk airport tax itu ikut terbang bersama kita? Emang kalau kita celaka, tiket itu bisa terbang pada ahli waris?

Bukankah asuransi seperti itu tak lain dan tak bukan hanya suatu bentuk penipuan?

Sayangnya ibu yang jadi sumber keprihatinanku itu bukan satu-satunya korban kemarin. Setidaknya ada tiga lagi ibu yang sama lugunya dan seorang bapak yang saya kira juga lugu karena mau saja datang ke konter itu saat dipangggil dan disuruh membayar.

Dan yang lebih mengherankan lagi sahabat, jasa asuransi itu beroperasi secara legal, di tempat legal, dan pasti sudah dapat cap legal dari Perum Angkasa Pura.

Kemana ya rasa malu mereka?

Salam,

— Evi

Bookmark the permalink.

51 Comments

  1. dan, mengapa pula, pihak pengelola airport yang katanya internasional itu , membiarkan praktek ini tetap terus berlangsung ?
    perlu dipertanyakan pembiaran ini khan?

    salam

    • Nah itu dia yang mengherankan Bun..Gila emang, sudah tahu gak bermanfaat utk penumpang, masa pula dibiarkan begitu saja..Belakangan waktu aku pulang, itu sdh gak ada Bun..Mungkin mereka baca blogku ini hahaaha..kegeeran tingkat tinggi 🙂

  2. pernah juga bu kemaren waktu saya ke pekan baru, begitu tas2 kita selesai di scan, langsung ada mas-mas yang nyamperin kami dan bilang
    “ayo kesini dulu bu, yang mau pake bagasi barangnya kesini dulu”
    sambil bengong, kok ya kita merelakan kerdus2 dan koper kita berpindah tangan ke mereka, ternyata mereka mau “ngebungkus/ikat” barang2 kami dengan tali plastik mereka, trus kena charge 8000 per barang
    tapi ntah kenapa, saya manut aja diambil barang saya, setelah barang ke 5 yang mereka inget saya baru ngeh dan bilang ke mereka sisa barangnya ga usah diiket2 gitu
    kena deh 40rb 🙁

  3. sy jg prnh kena tipu sekali wktu masih awal2 naik pesawat tnpa didampingi ayah, lalu cerita ke ayah byr 10rb utk asuransi, kata ayah ga usah kita sdh diasuransi saat beli tiket. Untung wktu itu sy pilih asuransinya yg paling murah, 10 rb.

  4. Saya jadi bingung juga Mba Evi, Apakah sudah tidak ada lagi pekerjaan lain yang halal dilakukan selain dari menipu orang. Sepertinya mereka tidak punya keMALUan …^–^ Memang benar bahwa mereka perlu bekerja untuk paling tidak mengisi perut tapi jangan sampai menipu atau bahkan korupsi …
    Salam kenal…

  5. Hai Mbak, numpang komen ya.

    Share pengalaman: kadang yg jaga konter manggil-manggil dengan wajah garang, seolah-olah salah kalo sampe engga dibeli.

    Lumayan ngebingungin di airport kecil, dimana selain airport tax ada lagi retribusi Pemda, kalau ragu seperti ini, biasanya saya nanya sama yg jaga konter airport tax, mbak/mas konter yang sebelah sana apaan tuh, wajib apa engga? biasanya sih pada jujur jawabnya…

    Nah kalau udah ketahuan bakal ngelewatin konter asuransi seperti itu, keluar deh jurus jalan tegap mantap pandangan lurus kedepan dan belagak budeg :p

    post yang bagus…!

    • Iya taktik seakan wajib beli itu cukup ampuh diterapkan. Untung Expire bertanya pd yg lain. Yg tak tahu tp tak bertanya banyak lho, jd terpaksa keluar duit lagi

  6. Yang jadi korban penipuan jenis seperti ini kebanyakan justru mereka2 yang lugu, dan yang uangnya didapat dari hasil peras keringat. Mereka yg ditipu itu adalah mereka2 yang kalau tidak kerja tak dapat hasil apa2. Mereka bukan pegawai. Mereka adalah buruh yang tak dapat perlindungan apa2 dari siapa2…

    • Nah itu dia yg bikin mual melihatnya Pak Mars..Memanfaatkan keluguan orang lain. Lah kok tega ya..mengumpulkan rupiah dari mereka yg duit di dompet saja lecek-lecek? Kok tegak? Itu tuh yg berkumandang dalam kepalaku saat melihat peristiwa itu Pak Mars

  7. Perusahaan asuransi itu hanya nyewa tempat di bandara, mbak, sama aja dengan counter makanan biasa, statusnya sama hanya sebagai penyewa . Dan soal pembagian yang menguntungkan, aku yakin tidak ada mbak, aku bisa yakin soalnya papa ku pernah mimpin bandara juga 🙂 . Dan wajar aja kok mbak kalo di bandara disediakan jasa asuransi mengingat gak semua penumpang sudah memiliki asuransi jiwa walaupun harga tiket yang kita beli sudah termasuk asuransi juga.. Di bandara besar negara lain malah ada lho mbak yang nyediain pembelian asuransi pake mesin, jadi penumpangnya beli sendiri aja gitu asuransinya lewat mesin itu 🙂

    Memang banyak pihak asuransi yang melakukan hal yang tidak semestinya dengan memanfaatkan penumpang yang terlihat tidak begitu paham dan mengerti. Apalagi kalo di bandara besar yang mana praktek mereka agak sukar terkontrol oleh pihak pengelola bandara.

    Untuk keperluan klaimnya, seharusnya pihak penyedia jasa asuransi menerangkan kepada pembeli bahwa bukti pembayaran harus diserahkan ke saudara yang tidak berangkat/ pengantar. Sayang, tidak semua pihak asuransi memiliki itikad baik seperti ini 🙁

    • Jeng Lisa, bisnis ada yg dilakukan dengan ketentuan terang benderang, ada pula yg memanfaatkan kegelapan orang. Jenis asuransi seperti ini menurutku salah satunya. Aku gak tahu kalau di airport luar yg menjual voucher asuransi pada mesin otomatis..Apakah mereka diletakan di ruang tunggu sebelum chekin yg kalau orang membeli masih punya kesempatan memberikan struknya pada kerabat yang mengantar. Lagi pula kalau dijula melalui mesin, aturannya sdh jelas bahwa tidak akan ada yang merasa terpaksa membeli, dilakukan dengan secara sukarela. Beda dengan “dipanggil dan suruh bayar” dan konternya terletak dikawasan setelah checkin..Kapan pula kesempatan menyerahkan bukti pembelian kepada kerabat? 🙂

  8. yg di maksud putri tidur apakah koruptor , ,he
    Sepertinya Pangeran sedang mencari ilmu ,karena sampai sekarang blum menemukan caranya mba?

  9. suka jengkel kalau menerima tawaran asuransi, memang itu kerjaan mereka merayu, cerita entang mati dan kecelakaan, taoi ya jangan pakai nipu toh ya…

    • Nah penipuan2 kecil begini atau bahkan sedikit intimidasi yang bikin sales asuransi disebelin orang. Tapi masih banyak kok Tin, sales asuransi yg beretika..Mari kita doakan mereka agar tetap begitu, gak meninggalkan etikanya walau sedang dikejar target

  10. mungkin rasa malunya ,lg tidur mba ?
    Menunggu seseorang untuk membangunkanya ,
    He

    • Seperti putri tidur yg tengah menunggu ciuman seorang pangeran agar terbangun dari tidur panjang yah Mas..Untuk kasus malu di negara kita, kira-kira siapa pangerannya yah?

  11. Berati dia tebang pilih mbak yach…trus kok bisa ada di sana? memang pihak pengelola bandaranya tau ngak yach..atau pura2?

    • Mungkin karena dari jauh sdh melotot2 makanya aku terhindar dari panggilan Bli hehehe..
      Bandara pasti tahulah kegiatan ini, masa mereka gak tahu sih orang jualan dlm properti mereka?

  12. Dan itu banyak terdapat di bandara….hehehe….
    Dan anehnya memang dia tak berani menekan orang yang bandel kayak saya, mungkin takut ganti ditanya macam-macam…..hehehe.
    Kita wajib bertanya dong, apa maksudnya.

    • Haha.. iya, kita emang kudu banyak bertanya mbak Ratna. Kalau gak kebawa arus saja ngikutin kemauan orang dlm meraih keuntungan utk diri mereka sendiri

  13. ASURANSI……dari pengalaman pribadi, saya pernah merasa sakit hati dengan kata tersebut. Jikapun saat ini saya tercatat sebagai salah satu diantara banyak orang yang mendapat tanggungan asuransi, namun itu lebih disebakan karena perusahaan yang mengurusnya.

    Jika bicara dengan kata kasar : dalam bahasa jawa maka tiga huruf pertama dari kata ASURANSI artinya binatang yang sering menggongong ….apakah?????

    • Asuransi bagus sbg proteksi
      Kadang cara salesnya mendekati kita yg masalah mas Gy. Tipu2an agar kita membeli premi. Yah gak disesali kalau banyak orang akhirnya malah merasa jd korban sprt dirimu ini 🙂

  14. Di Bandara Husein Bandung juga ada tuh bu..di lantai 2. Kadang2 ini membingungkan penumpang

  15. Ni Made Sri Andani

    Oh ya.. aku juga pernah melihat ada counter yang menjual asuransi seperti itu di bandara di ujung pandang Mbak.. Saat itu juga sempat terpikir, kalau terjadi apa-apa memang siapa yang tahu bahwa kita telah membeli asuransi itu, tapi terus nggak sempat mencari tahu lagi hingga sekarang.

    • Dulu jg ada di Soetta Mbak Dani, di terminal keberangkatan dlm negeri. Namun krn banyaknya kritikan yg di Soetta skrg menghilang. Rupanya mereka gak dilarang habis, cuma pindah lokasi operasi

  16. wah..kasian ya mbak… ya kasian sama korban2 lugu itu ( yg tidak tahu klo itu pilihan & bkn wajib ), juga kasian setengah gemes sama pelakunya…kasian karena mereka sudah kehilangan rasa malu & belas kasih akibat dibutakan sedikit keuntungan…

    • Ruwet itu Mb Mechta. SPG dibelakang konter itu kok ya tega pula manggil2 orang suruh bayar. Semoga bapak ibu mrk gak pernah diperas atau ditipu orang di luaran

  17. Selama ini saya ga pernah beli Uni Evi, tapi benar juga ya gimana kalau dimanfaatkan seperti cerita di atas ?

  18. Jelly Gamat Gold G

    mungkin mereka joinan sma airportnya mbak,jadi mereka dibiarkan begitu saja

  19. akh, masih banyak yg rancu dlm ketentuan2 yg berlaku di bandara2 tanah air kita ya Vi
    ‘pembiaran’ yg dilakukan oleh pihak pengelola bandara pun, msh tdk kita mengerti,
    betapa rasa malu menjadi urutan ke sejuta bagi pelakunya ,
    hedeh hedeh …. haruskah ada UU diberlakukan utk melindungi konsumen ??
    salam

    • Mungkin datang dr cara berpikir dan karakter rancu pula Bunda. Rancu membedakan mana yg baik dan tidak. Aku pikir YLKI kalau tahu pasti akan menghimbau agar konter itu disuruh tutup

  20. ya, seringkali kita bingung, kemana menguapnya rasa malu itu….

  21. Saya nggak ngerti bagaimana ini, Uni. Gak ngerti sama sekali. Kalau dari yang saya baca, ini pemerasan.

  22. Oh? aku baru tau lho Uni. Untunglah pengalaman ke bandara yg cuma seuprit itu ga pernah ‘tertipu’ oleh para penjual asuransi legal ini. Dan kenapa legal ya? *bingung*

  23. aku juga sempat terkecih bun, sewaktu mau membayar airport tax salah mendatangi counter untung saja lgs sadar loh ini sih asuransi, pegawainya agak bete 🙂

  24. iya bener tuh… gak tau apa gunanya asuransi2 begitu.
    saya sih gak pernah mau kalo disuruh beli.

  25. wow
    saya memang kurang paham sama asuransi
    jadi setelah baca ini jadi paham dikit
    thank you mba shrenya
    semoga mereka rasa malunya ga di kelamin doang ya 🙂
    dan di bukakan pintu hatinya.
    aamiin 🙂

    • Menurutku cara cari rejeki tersebut tak halal Mas Ardian. Setidaknya jika memanfaatkan ketidak tahuan orang lain untuk mendapat keuntungan bisa dikategorikan tak halal 🙂 Terima kasih kembali. Senang bila infonya berguna

  26. Saya tidak mengerti Mbak Vi, mengapa hal ini terjadi secara terbuka, seolah ada pembiaran dari pihak bandara. Mungkinkah ada ‘pembagian’ yg menguntungkan? Jangankan tiket penerbangan senilai ratusan ribu bahkan mungkin jutaan rupiah. Jika saja hendak jujur dan terbuka, tiket travel atau bis yg murah meriah saja tercantum, harga sudah termasuk asuransi.

    Saya jadi diingatkan, termasuk hal penting untuk mengcopy bukti pembayaran tiket untuk kemudahan proses claim seandainya terjadi hal-hal yang tidak terduga.

    Selamat datang kembali ke Pulau Jawa. Maaf, kepanjangan dan selamat beristirahat. 🙂

    • Aku gak ngerti bagaimana proses klaim dari asuransi seperti ini Mbak Lia. Mungkin saja ada keuntungan dari membelinya. Namun asuransi jiwa adalah sebuah proteksi yg ditujukan kepada ahli waris. Jika sesuatu terjadi pada tertanggung, ahli warislah yg memperoleh manfaat dari proteksi tersebut. Dan klaim biasanya juga harus disertai bukti bayar premi. Nah jika sesuatu terjadi pada tertanggung, bukti bayar premi ada pada tertanggung, apa sih bukti yg bisa diajukan ahli waris terhadap hak tertanggung? Paling-paling cuma mengandalkan kebaikan hati perusahaan asuransi tersebut dengan memberi tahu keluarga tertanggung bahwa ada klaim asuransi bagi korban kecelakaan. Tapi melihat cara mencari nasabah saja sudah gak benar, dimana mereka berkata, ” bayar lagi sini, bu”, seperti sebuah kewajiban, aku kok meragukan “kebaikan” yg akan mereka lakukan ya?

      Terima kasih Mbak Lia, kembali ke Pulau Jawa ternyata asyik juga hehehe..

Leave a Reply