Mewek Dibawah Masjid Pintu Seribu

Gerbang sayap kanan, pintu masuk menuju ruang tasbih

Kemarin piknik lagi. Namun kali ini sedikit berbeda, ada sampiran  kata dibelakangnya: Piknik Spiritual :).  Itu bermula dari cerita  my sista  yang bersama teman-teman majelis taklimnya hendak memperingati maulid nabi dengan ziarah. Pilihan mereka dua tempat di Tangerang: Masjid Pintu Seribu dan Pulau Cangkir. Karena masih satu kabupaten dengan rumahku, walaupun dilakukan pada hari kerja, tidak ikut rasanya gimana gituh 🙂

Dengan satu bus, pukul setengah tujuh rombongan 30 orang berangkat dari Cimanggis-Jakarti Timur dengan tujuan utama Masjid Pintu Seribu. Karena ada tausiah selama perjalanan maka aku memutus bergabung dari sana.

Sesampai di halaman masjid baru sadar bahwa  tidak membawa lensa bukaan lebar ternyata suatu kesalahan. Masalahnya bangunan masjid terletak di perkampungan padat. Untuk membuat foto luar bangunan yang relatif utuh, dengan lensa yang kugunakan harus mundur beratus-ratus meter. Sesuatu yang mustahil dilakukan di gang  sempit Kampung Bayur ini.

Tapi sudahlah. Tujuan ke sini  kan ziarah, kok masih sempat-sempatnya berkeluh kesah mikirin lensa yang tak dibawa.

Nama asli masjid ini Nurul Yaqin namun lebih terkenal Pintu Seribu karena memang banyak sekali pintu yang terletak pada dinding luar maupun dalam bangunan. Karena banyaknya itu tak ada yang bisa menghitung jumlah pintu secara pasti. Biar lebih mudah disebut saja pintu seribu. Idenya mungkin seperti penamaan Lawang Sewu di Semarang.

Masjid Pintu seribu terdiri dari 2 bangunan. Peziarah disambut di bangunan pertama di sayap kanan. Masuk pintu gerbang aku sudah di buat takjub. Tempatnya gelap, diatas kanopi berkaligrafi arab berbanjar dengan  gambar-gambar orang suci di kiri kanan. Disitu juga ada silsilah keluarga kesultanan Banten.

Belok kanan ada ruang berhiaskan lampu, lukisan, pilar, dan lagi-lagi kaligrafi yang juga berfungsi  sebagai ruang tunggu. Sambil menunggu giliran berwudhu, sebelum masuk ke ruang tasbih, aku meninjau satu persatu pintu kecil yang menghubungkan ruang tunggu dengan ruang lebih  kecil di sebelahnya. Aneka corak gambar yang terlukis di dining menurutku tak melulu serius dan arab. Ada unsur kekanak-kanakan pada kekanakan yang ceria di dalamnya. Malah saat memandangi sebuah pilar pikiranku hanyut pada  buku cerita anak-anak Pocahontas. Menurut keterangan ruangan tersebut digunakan untuk berzikir.

Melihat aktivitasku yang tampak lebih asyik mengagumi efek  visulisasi ketimbang tujuan sebernarnya dari perjalanan ini kakakku tampaknya sedikit kuatir. Dia  manggil-manggil mulu. Mungkin takut adiknya hilang dan tersesat di lorong-lorong yang tampak sekilas seperti serba rahasia hehehe..

Sampai di ruang tasbih kami  duduk tertib mengikuti petugas masjid berdoa di dekat tasbih besar terbuat dari kayu. Disitu juga ada beduk yang tampaknya amat tua. Mungkin beduk pertama dari mesjid ini. Di halaman yang dipisahkan oleh tembok pilar batu kecil terdapat dua makam. Yang satu di kelambui yang satunya lagi tidak. Tapi dua-duanya di tutup kain putih. Tadinya kukira makam pendiri masjid yaitu Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al-Muqoddam atau senang menyebut dirinya dengan Al-Faqir saja. Eh setelah konsultasi pada Mbah Google ternyata bukan. Menurut cerita, setelah mesjid ini setengah jadi Al-Faqir menghilang begitu saja. Dan makam yang kemarin kulihat adalah milik anak-anaknya.

Jujur, sekalipun sangat ingin aku tak bertanya soal sejarah mesjid ini pada guide kami. Di tengah suasana khusuk berdoa begitu merasa tak pantas bertanya ini itu. Ayo disini engkau bukan wisatawan tapi penziarah, kendalaikan diri, jangan mikirin duniawi mulu. Itu perintahku pada diri sendiri.

Usai dari ruang tasbih, mas pengurus mesjid membawa kami ke bangunan sebelah. Masuk melalui pintu kecil, menelusuri labiran kelok-kelok labirin, sempit, lembab, gelap gulita menuju ruang I’tikaf. Kalau lampu senter dari belakang tak menyala, aku tak bisa melihat tangan sendiri. Disini cameraku ngambek pula gak mau kerja. Maklum lupa setel night mode. Tapi berhasil menyalakan lampu flash untuk menerangi jalan sesekali.

Di ruang i’tikaf ini ada lampu. Namun setelah semua duduk rapi, lelaki dan perempuan terpisah, mas petugas mematikan lampu. Alamak gulitanya benar-benar hitam pekat. Setelah beberapa saat kami dituntun membaca surah-surah pendek. Setelah itu disuruh bayangkan begitulah kira-kira suasana dalam kubur. Pengap, panas, gelap dan sendirian.

Jujur lagi, suasana tersebut tak berhasil membangkitkan sense my spirituality. Kalau bermaksud membuatku menangis seperti beberapa orang di ruang itu, buku-buku cerita yang pernah kubaca jauh lebih dahsyat menggambarkan kengerian dari rasa sepi, terjepit dan entah kepada siapa mengadu. Hanya setelah beberapa lama, ketika pendar-pendar ungu mirip bunga dan beruba-ubah bentuknya setiap aku mengedipkan mata,  sesuatu mulai bergolak di dalam sana. Ketika serat-serat benang ungu yang mirip  kepulan terakhir dari asap rokok diudara, hidungku mulai berlendir. Dan air mata pun menitik satu persatu.

Lantunan ayat-ayat Al Quran tertinggal di belakang. Begitu pula isak tangis penzirah lain. Aku menangis sambil tersenyum,  mengikuti  asap ungu yang menari kian kemari dengan latar belakang kegelapan yang maha luas itu. Rasanya ini lah air mata dan senyuman paling tidak memerlukan penjelasan yang pernah kulakukan. Rasanya Tuhan begitu dekat. Bahkan rasanya aku dapat menyentuh-Nya.

Aku tahu bahwa pertunjukan bunga ungu itu lahir dari halusinasi saat mata kita tak bisa menangkap bayangan apapun. Tapi kenapa harus bunga dan warnanya ungu pula? Tak hendak kucari jawabnya. Biarkan tertingal di ruang gelap di bawah mesjid pintu seribu, untuk di temukan penziarah berikutnya. Dan sungguh saat jiwa terasa plong dan batin begitu damai, tanpa beban, aku tak memerlukan penjelasan apapun. Seperti juga   aku tak membutuhkan alasan apapun untuk bahagia.

Salam,

— Evi

Bookmark the permalink.

57 Comments

  1. Bu ada yg salah nih cerita nya, pendiri mesjid Nurul yaqin meninggal pd tahun 2012 tpt nya di bln ramadhan dan ruangan tasbih berada di mesjid yg satunya lagi yg banyak pintunya yg jln nya gelap dan di tengah nya ada ruangan yg lumayan luas di situ dulunya pendiri mesjid Al- faqir suka itikaf, nah disitu yg lampu akan di matikan seolah2 kita berasa di kuburan nanti, nah disitu lah tmp 99 butir tasbih besar, besar nya sekitar kepala manusia

  2. mengingatkan perjalanan serupa ke astana gunung jati. baru wudlu (di dalam, berhadapan dengan salah satu pintu tertutup di balik makam sunan gunung jati) bendungan udah bobol. dan rasanya … plong sekali setelahnya.

    tapi kalau mendengar cerita lorong2 gelap itu aku malah ingat sapta siaga dan lima sekawan. harta karun!

    very nice writing and photographs.

  3. Minggu, 29 Juli 2012 siang saya mengunjungi Masjid Agung Pintu 1000. Terus terang prihatin, karena menjadi tak terurus. Lokasinya juga berada ditengah permukiman. Sayang sekali … semoga ada yang melanjutkan pembangunan, sehingga bisa terwujud spt yang diinginkan pendirinya

    • Awal berdiripun Masjid ini sudah berada di tengah pemukiman, mungkin kurang bijak bila ada penggusuran agar Masjid terlihat lebih rapi. Mengenai kurang terurus, itu pula yg saya tangkap saat berkunjung kemari. Selama ini pembangunan dan perbaikan sepertinya cuma mengandalkan wakaf dari pengunjung, jadi seperti tambahl sulam.

  4. kok kamaren blog ini sempet ngilang ya bunda evi? ❓ 😳 kirain dihapus..
    btw kayaknya pernah liat mesjid ini di tv. ternyata ada acara dzikir di gelap2an segala ya..

    • Kemarin sistem perlindungan otomatis dari WP, menganggap blog ini bermasalah. Namun setelah aku komplain dan mereka riview dengan cepat mereka minta maaf, akhirnya blogku OL kembali. Terima kasih atas perhatiannya Mas Ilham 🙂

  5. unik ya masjid seribu pintu ini. ada ruang i’tikaf yang gelap gulita. thanks infonya mbak evi. salam kenal ya 🙂

  6. Ke tempat2 seperti ini justru lebih penting, banyak pelajaran yg bisa dipetik …

  7. foto fotonya kurang banyak dan kurang besar mbak….kalo ada boleh donk di share di mari

  8. Mudah2an jamaahnya selalu bertambah 🙂

  9. Indahnya saat me-recharge relasi dengan Sang Pencipta ya Uni, trimakasih sharingnya, salam

  10. Menasehati diri sendiri itu luar biasa pasti mbak yach…antara ia dan tidak…pada akhirnya mbak mampu meliwatinya itu sungguh luar biasa pula.

    Penyerahan diri sepenuhnya itulah yang membuat kita menangis mbak yach…..terakhir asap ungunya itu bagaimana mbk?

    • Terima nasih dari orang perlu. Namun menasehati diri sendiri lebih perlu lagi Bli…
      Aku gak begitu yakin saat berada di kolong mesjid itu menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan Bli..Namun rasanya begitu dekat iya 🙂

  11. Yang terkesan dari kalimat bu evi “Jujur, sekalipun sangat ingin aku tak bertanya soal sejarah mesjid ini pada guide kami. Di tengah suasana khusuk berdoa begitu merasa tak pantas bertanya ini itu”.
    Kadangkala memang ada saat-saat kita gak banyak nanya hal keduniaan bu ya…
    Sukses untuk piknik spiritualnya bu…

    • Begitulah Pak Noer. Bertanya yang tepat diwaktu yg tepat kepada orang yg tepat, kayaknya lebih siiip dan bisa menjaga perdamaian dunia hehehe

  12. Indah banget masjidnya ya mbaaa…
    Jadi pengen kesonoh…

  13. ini ya bun yang dinamakan masjid pintu seribu…
    jelas engga seunik ini masjid yang waktu itu saya datangi, bikin haru saja…

  14. wah.. pengalaman spiritual yang indah ya bu.. 🙂

  15. wah berat banget hari ini blognya, sampe tulisan sama gambar nggak muncul, yang muncul cuman smiley -____-

  16. Indonesia memang lengkap, ada candi lawang sewu dan ada masjid pintu seribu 🙂

  17. kapan2 kesana ah, 🙂
    tarimo kasih infonyo uni, 🙂

  18. Terus terang saya belum bisa membayangkan eberapa besar masjid ini dan tahun berapa dibangunnya. Saya akan mencarinya di Google.

    Acara seperti ini sungguh sangat penting diantara seabreg kegiatan kita sehari-hari. Kita perlu dibawa ketempat seperti ini, diajak mendengarkan alunan ayat-ayat suci AlQur’an, mendengarkan tausiah, dll guna mengisi hati kita setelah berhari-hari mendengarkan radio, menonton TV , mendengarkan gosip dan lain-lainnya.

    Mudah-mudahan saya bisa juga melihat masjid ini, masjid kubah emas,dll.

    Terima kasih atas reportasenya jeng.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Setuju dengan Pakde, keluar sejenak dr rutinitas dan mencari penyegaran jiwa di tempat2 semestinya, heavenly banget. Aku jg pengen pakde, kalau punya kesempatan pengen menapak tilas sejarah penyebaran islam di nusantara. Gak tahu bisa terlaksana atau tidak. Tp berdoa agar dikabulkan hehe..

  19. pastinya pengalaman unik ya, jadi kepengen ikut merasakan sensasinya langsung ih.. ^^

  20. kadang emang perlu perjalanan spiritual gini ya bu… 🙂

  21. Wisata rohani yang menyenangkan dan tentu saja menentramkan jiwa…

    Salam kenal, ditunggu kunjungannya..

  22. Rasanya saya jadi mau crying beginih, sdh lama hati tdk disiram dg hal2 pengingat akan ke mana setelah mati….

    • Hehe Mb Lia crying baby yah..Ayu ah ntar ramadhan diniatin itikaf..aku kayaknya pengen mengulang kembali pengalaman itu nanti pas bulan puasa. Nikmat banget rasanya 🙂

  23. Kenapa keinget Pocahontas 😀
    (bagian anti biasanya disitu)

  24. malem mbak evi. . . . makasi ya tas motifasinya. . . . bolehkah aku kapan2 curhat sma mbak evi. . . klo berkenan nih aku kasi email ku sususegar_28@yahoo.com

    sapa tau mbak evi bisa kasih pencerahan, secara mbak evi dah lebih berpengalaman. . . . kirim message ke emailku ya mbak klo berkenan…. makasi sekali lagi mbak. . .

  25. Megah sekali mesjid ini. Arsitekturnya unik ya mbak?

  26. waaah pasti suasana seperti itu bisa jadi refleksi yang amat mengerikan …
    semoga jadi pemacu iman kita ya, Bun 🙂

    • Kayaknya ada hubungan dengan kesukaan pada bunga Jeng Lissa..Namun tak ada jawaban mengapa harus berwarna ungu..Sebab kalau sdh menyangkut bunga, fovoriteku adalah merah..:)

  27. wah mbak … ajdi pengen ke sana aku … memabyangkan berada di sana pasti aku akan mrebes mili

    • Kalau masuk ruang I’tikaf kayaknya kalau dapat moodnya, gak ada orang yg gak akan menangis deh Mbak..Saat kita pasrah terhadap apa yg terjadi, saat keleluasaan itu datang..Di bawah mesjid itu aku merasakan itu Mbak el…

Leave a Reply