Menangguk Ikan

Menangguk Ikan bersama

Dapat ikan atau tidak yang penting bergembira

Sore kemarin, di depan rumah ibu, kali kecil yang berfungsi sebagai saluran irigasi yang di kampung saya disebut Banda tiba-tiba saja menyusut airnya. Tak hanya susut tapi keruh pula. Lumpur yang naik kepermukaan cukup pekat yang membuat air kehilangan oksigen. Akibatnya para ikan terpaksa mengapung ke permukaan, megap-megap mencari udara. Dan kesempatan ini tentu tak dibiarkan oleh penduduk. Ikan yang sedang panik ini langsung menemui nasib akhir, ditangguk dan ditangkap beramai-ramai oleh  masyarakat. Mereka serentak turun ke sungai. Tak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak.

Menangguk ikan di banda pinang balirik - Magek

Mana ikannyaaaa?

Manangguak dalam bahasa Minang, menangguk dalam bahasa Indonesia. Sebuah tradisi menangkap ikan di banda/kali atau di sawah. Usianya pasti lebih tua dari kakek-nenek saya.Tradisi yang juga saya akrabi kala kecil,  membuat aroma lumpur meninggalkan kenangan manis dalam benak. Rasa dan aroma dari ikan segar yang yang baru digoreng menjadi satu-satunya refrensi sebagai menu masakan ikan yang enak.

Banda itu atau sungai kecil itu bersama gelak para bocah membuat sore saya semakin romantis. Iya sungai kecil ini akan ramai tiap airnya susut. Entah  karena pintu air di hulu ditutup untuk memberi kesempatan irigasi lain lebih berair atau memang musim kemarau. Yang jelas begitu kesempatan itu datang anak-anak akan bergegas turun dengan membawa alat-alat penangkap ikan. Bahkan tidak sedikit dengan tangan kosong. Jejak kaki ramai-ramai ini tentu  membuat lumpur tentu semakin banyak naik ke permukaan. Dan air semakin  kehilangan oksigen. Ikan bertambah pusing dan panik. Dengan demikian semakin mudah di tangguk ataupun hanya di tangkap pakai tangan.

Mengintip ikan-ikan yang sedang merangap

Itu lah sedikit dari jejak masa lalu saya. Senang tiap kali memandangi seekor ikan menggelepar dalam tangguk sesaat diangkat dari air. Jenisnya  macam-macam. Mulai  dari ikan mas, paweh, belanak, sepat, mujair sampai bletok di sikat habis. Ikan-ikan kecil itu dikumpulkan dalam satu jala kecil. Nanti nenek yang akan membersihkan lalu di goreng atau di palai (pepes).

Kemarin karena ibu sudah tak punya cucu tinggal di kampung, saya pun cuma bisa melihat-lihat dari tepi banda. Amat terhibur mendengar cericau anak-anak itu yang bermain dalam air keruh bersama tangguknya. Tak banyak ikan yang bisa mereka kumpulkan. Mungkin karena terlalu sering di tangkap tanpa memperdulikan kelestariannya sungai kecil tersebut. Dan jenisnya juga tidak lagi beragam. Dalam jala seorang anak terlihat seekor ikan sapu. Dan sepertinya cuma itu tangkapan yang agak istimewa sore kemarin.

Gimana temans, apakah dikampungmu juga ada tradisi menangkap ikan ramai-ramai?

Salam,

–Evi

Bookmark the permalink.

29 Comments

  1. ah mbak evi bikin aku rindu masa kecil. dulu kami punya trdisi nankap ikan. sekarang sungai kami sudah tak berikan lagi. habis mereka selalu tak sabar menunggu ikan besar, masih kecil sudah dituba dengan peptisida. kalo dulu mereka menunggu ikan besar baru dituba dg pohon tuba.

  2. Di kalen depan rumah saat ini juga masih sering ada anak2 nyari ikan2 kecil…katanya sih dijual lagi untuk makan ikan hias mbak…tapi suasananya beda dengan keceriaan yg terlihat di foto mbak ini…

  3. Pemilik Restoran Surabaya

    Persis situasi di kampung halamanku di Jombang.
    Dulu senang sekali mencari ikan di sungai
    Sawahku juga sedang menghijau, katanya Maret akan panen.
    Terima makasih telah membuatku ingat masa kecil jeng.
    Salam hangat dari Surabaya

    • Hehehe..Banyak juga ternyata anak kampung yg sekarang jadi Blogger ya Pakde..Masa-masa indah yang tak mungkin kembali kecuali kita menghidupkannya dalam kenangan 🙂

  4. Wow ingat waktu kecil, begiku ‘kalen’ di depan rumah surut alamat mendapat ikan yang mengumpul di bagian berceruk, girangnya hati meski badan amis semua….

  5. Hihihi…di got juga ada ikannya, mbak, ikan yang kecil-kecil banget itu lho, gak tau namanya apa. Di got depan kantor juga banyak tuh karena air yang lewat situ nampak cukup jernih, gak keruh gitu jadi keliatan ikan2nya. Cuma aku gak pernah liat ada anak-anak yang nangkap ikan di situ…hehehe…pasti dimarahin ortunya 😀

    • Baru ingat sekarang, di got emang ada ikan2 kecil, hitam, perutnya gendut, tapi bukan cebong..Got di ibu kota mah kotor banget Jeng, racun mulu isinya. Makanya gak ada anak2 yg tertarik ngambil ikan2 tersebut 🙂

  6. Ketika zaman makin berlalu, sepertinya keanekaragaman ikan-ikan yang ada di kali makin berkurang ya Mba? Dulu sebelum tahun 2000, untuk mendapatkan ikan mas di kali dekat rumah masih cukup mudah, tapi memasuki 2005, ikan masnya makin sulit untuk didapat, paling banter cuma dapat ikan plentet (ikan baru netas dari telur)…

    Perlu lebih kita perhatikan lagi kelestarian lingkungan kita ya Mba? 🙂

    • Jaman berlalu, manusia kian sangar Mas Ipras..Makanya kalau dapat sesuatu dari alam dianggap hadiah yg tak perlu dikembalikan…Untuk sampai pada kesadaran lingkungan,kita emang butuh waktu yg panjang.Minimal merasa sejahtera dulu..

  7. Ada, mbak. Di kampungku ada tradisi menangkap ikan ramai-ramai jika terjadi ‘ngembak’. Ngembak itu adalah kondisi air sungai surut karena dialirkan ke laut. Warga sekampung akan beramai-ramai menangguk ikan, udang dan kepiting, tumpah ruah.

    Dan saat saya masih kecil, ngembak adalah salah satu peristiwa favorit saya. Sekarang aja masih rindu suasana ngembak itu.

  8. asyik sekali anak-anak itu…
    ingat waktu dulu dijeburin di sawah, takut sama lumpur tapi akhirnya senyam-senyum suka…

  9. pastinya di kampung dulu ada
    tapi kami terlalu dipingit
    jadi tak pernah boleh ikut2
    hiks … padahal jadi penonton ajapun seru kan ya
    wong cuma liat gambar aja seru kok 🙂

    • Berati dulu dirimu anak priyayi Mb Nique. Dulu waktu kecil aku juga punya teman pingitan seperti itu hehehe..Aku senang banget berteman dengannya. Namun orang tua anak tersebut kayaknya membatasi agar anaknya tak terlalu banyak gaul dengan anak kampung. Akhirnya temanannya di sekolah saja…

  10. wih anak-anak selalu tertawa yaaa, bahagia 🙂
    jalanan pinggir sawahnya asri banget ya, Uni 🙂

  11. ingat masa kecil dulu, waktu manangguak lauak di batang air.. 😀

  12. waah, seru ya bu nangkap ikan rame2,,
    tentunya banyak sekali sisi positif dari adanya kegiatan nangkap ikan rame2 itu, kebersamaan, keceriaan bersama teman-teman.

    dan sepertinya tradisi seperti itu tidak ada di lingkungan tempat tinggal saya 😀

    • Untuk masyarakatnya ini kegiatan positif Mas Mabruri..Bisa ramai-ramai cari tambahan lauk. Cuman untuk ikannya agak kasihan juga..Habis gimana yah..namanya dianggap ikan liar, yg kecil2 juga di tangkap, gak sempet berkembang biak deh..

  13. Ga pernah hihi ^^
    Tapi suka liatin sepupu ngambili ikan di got 😡 😡

Leave a Reply