Kenalan dengan Fangsheng Tradisi Agama Buddha

Biksu pertama yang melarung ikan

Sub judul blogku ini : ” All journeys have secret destinations of wich the traveller is unware “ sebuah kutipan yang ditemukan di internet tapi lupa kucantumkan nama penulisnya. Nantilah akan dicari. Yang jelas seiring berjalannya waktu mulai sadar bahwa kebenaran dari ucapan tersebut tak terbantahkan. Dengan kata lain aku mulai membangun kepercayaan atas beberapa fakta kebetulan yang ditemukan selama mendalami hobbi jalan-jalan. Sama seperti Sabtu pagi tanggal 28 Januari ketika ke Tangerang untuk sebuah keperluan lalu melihat kerumunan orang  ramai di seberang sungai Cisadane, yang membuatku berhenti sejenak.

Apa lagi dari seberang satu lagi, yakni dari tepi jalan yang dilewati berkerumun pula  orang menonton keramaian tersebut. Itu pasti bukan Festival Cisadane karena perayaan Cap Gomeh yang menandai  festival tersebut baru baru akan tiba tanggal 6 Februari nanti. Pasti ada sesuatu, pikirku.

Untung  “Pak Supir”  tak keberatan berhenti. Mengijinkan aku mencari tahu peristiawa apakah yang tengah berlangsung di seberang sana? Untuk mempersingkat waktu aku dekati saja  seorang Bapak yang sedang duduk mancing di tembok sungai.

Menonton lebih dekat dari perahu

Rupanya keramaian itu dilakukan oleh umat Buddha. Mereka sedang melakukan upacara melepas hewan. Menurut Si Bapak yang hampir tiap hari libur mancing disitu, menjelang dan sesudah imlek hal itu pemandangan biasa, karena hampir tiap minggu ada saja yang melakukannya. Oh kemana saja aku selama ini? Ketahuan deh kalau kurang pikinik, padahal itu di kampung sendiri.

Apa saja yang mereka lepas Pak? Dari mujair, kura-kura sampai   lele. Sapu-sapu juga kah? Sebab ingat bahwa sapu-sapu merupakan makhluk lumpur akan paling betah hidup di lumpur Cisadane. Si Bapak tak yakin. Yang jelas mereka juga melepas ratusan burung pipit ke udara.

Aku manggut-manggu sambil jepret-jepret. Wah mereka ramah sekali pada lingkungan. Seandainya lebih banyak orang berbuat serupa, Cisadane ini pasti kaya sebagai sumber ikan pagi para pemancing. Toh alam semesta ini memang begitu hukumnya, ada yang memberi, ada yang mengambil.

Sayangnya aku cuma membawa camera pocket yang zoomingnya terbatas. Jadi tidak jelas benar yang saja yang mereka lakukan di seberang sana. Setelah menunggu beberapa lama muncul biksu berjubah coklat lalu melepaskan sesuatu ke atas air. Di susul oleh biksu berikutnya. Lama-lama-lama terlihat benda-benda seperti lampion merah mulai berhanyutan di sungai menuju muara.

Karena tak mungkin menunggu mereka sampai selesai, aku pamit pada nara sumber dengan tak lupa mengucapkan terima kasih.

Barusan konsultasi di pada tante  Google. Oh rupanya di agama Buddha ada sebuah kepercayaan yang disebut Fangsheng. Setelah beberapa kali baca baru sedikit paham apa makna dibalik pelepasan hewan-hewan tersebut. Namun bukan kapasitasku untuk menjelaskan apa Fangsheng dan filosofi di dalamnya. Jika ada yang ingi tahu silah baca disini dan disini. Rupanya ritual ini juga dilakukan umat  Konghucu tapi namanya Ciswak. Coba deh baca disini beritanya 🙂

Btw, sesampai di mobil suami senyum-senyum penuh kemanangan. ” Nyeselkan kalau tadi gak ikut..” Memang dari rumah aku ogah-ogahan berangkat, habis jalan-jalannya TLT sih (Tangerang lagi Tangerang) 🙂

Salam,

— Evi

Bookmark the permalink.

37 Comments

  1. telinga saya jadi merah mbak..saya bilang…ngak tau padahal kampung sendiri, saya pernah merasakan hal itu heeeee..kegiatannya sungguh luar biasa mbak yach…menjaga kelestarian alam, saya kita mengambilnya kita mengembalikan kembali ke alam, sehingga kita saling menghargai satu sama lainnya

    • Kita emang suka begitu Bli, mentang2 kampung sendiri take for granted saja, merasa tahu semua. Padahal enggak semua hal yang dekat kita ketahui..:)

  2. kadang sesuatu terjadi di dekat kita bisa terlewat dari pengetahuan kita, justru di sinilah asyiknya bagi kita untuk terus senang mengamati, memotret, dan menuliskan, dan berbagi…. asyik mbak Evi liputannya, senang saya membaca dan melihat-lihat fotonya…

  3. seumur idup kayaknya baru ini aku tau tentang fangsheng mbak. . . . unik juga ya ternyata sejarahnya

    • Kayaknya tradisi fangsheng tidak terlalu banyak di ekspose ya Mas? Mungkin ada kaitannya dengan ajaran Buddha agar penganutnya selalu rendah hati 🙂

  4. saya cuma nganga… oh, ini Fengsheng ya?
    Nggak pernah lihat… Jadi hewan-hewannya dilepas gitu, Uni?

  5. silakan cek email konfirmasi dari warung blogger, akun bu evi sudah terdaftar menjadi kontributor penulis di warung blogger
    salam warung

  6. Mancing sambil ngeliat acara fangsheng, jadi kayak menyelam minum air bu…

  7. Ternyata suaminya tau bener kesukaan mbak Evi 😀

  8. aku malah baru lihat disini kalau ada Fensheng, yang aku tahu itu fengshui hehe..
    salam saya..

  9. oh fang sheng, setidaknya mereka mempunyai niat baik dengan lingkungan dengan tindakan pelepasan hewan, hehe

    berbicara tentang kebetulan. pada tahun 2011 sampai sekarang ada banyak peristiwa kebetulan yang menghampiri kehidupan saya.

    aku degdegan juga dengan tiap tipa kebetulan. hanya bisa berdoa semoga kebetulan yang baik (keberuntungan) yang terjadi 🙂

    • Mas Jar, konon katanya di dunia ini gak ada peristiwa kebetulan. Kalau kita merasa menemukan sesuatu yg kebetulan, itu kan hanya permukaan dari kesadaran kita saja. Di belakang kesadaran itu ada suatu sistem maha besar yang berotasi mengikuti hukum2nya. Kata orang untuk menemukan kebetulan-kebetulan yg baik, fokuskan pikiran pada hal2 yg baik saja. Jadi aku doakan deh semoga Mas Jar dapat kebetulan2 yg baik2 saja 🙂

  10. TLT juga seru qo. Hehe…
    Mengembalikan ke alamnya, wahh hewan2nya pasti seneng bgt Mbak Vi…

    • Sudah pasti hewan-hewan tersebut amat berterima kasih Mbak Lia..Kayak kita aja, kalau diberi kesempatan hidup di habitat sendiri kan emang luar biasa 🙂

  11. kemarin kemarin beberapa kali ke sini, nggak ada blognya mbak Evi deh, tahu knp

    aku baru tahu ada melarung ikan mbak …. pastinya rame sekali di sana ya
    di sini kalau mau mancing hrs punya SIM, surat ijin mancing

    • Sempat di suspend oleh anti spam otomatis wp, mb El, gak tahu kenapa.
      Di Jerman negaranya sdh teratur banget ya, mancing saja kudu punya SIM. Tentunya tempat mancing jg dibatasi ya?

  12. tujuannya apa melarung ikan-ikan itu bunda? setelah dilarung masih dirawat tidak?

  13. hehe…ramai ya? sepertinya perayaan serupa pernah saya liat, tapi lupa dimana.. 😀 apa cuman mimpi ya? hehe

  14. saya suka foto mancingnya uni, 🙂

  15. Kemarin kok ada pemberitahuan suspend ya ? Untung, sekarang bisa masuk lagi.

    Uni, ini kebetulan yg mengasyikkan banget. Rasa ingin tahu melihat keramaian ternyata berujung pada peristiwa langka.
    Uni jeli sekali. Terima kasih ya. kita jadi nambah wawasan.

    • Ya tuh Mb Mon, alhamdulillah sekarang dpt ol lagi. Kemarin sistem anti spamming wp salah mengidentifikasi blogku.

      Hehe…tks jg Mb Mon, tiap jalan skrg aku belajar buka mata, telinga dan mulut utk bertanya..

  16. Ni Made Sri Andani

    Aduuh Mbak Evi, akhirnya ….Syukurlah. Aku senang banget bisa masuk dan comment ke sini lagi.
    Tentang FengSheng.. aku belum pernah lihat acaranya. Ajaran welas asih pada sesama mahluk hidup dengan berusaha membebaskannya dari penderitaan akibat ulah manusia yang kurang bertangggungjawab sungguh sangat mulia.. Namun memang, kadang ada saja orang lain yang memanfaatkan kewelas asihan orang lain. dengan justru sengaja menangkapi hewan dan menjualnya kepada orang yang bersedia membeli untuk dilepaskan kembali..

    • Alhamdullah Mb Dani, reaksi WP atas complain kita ternyata cepat. Menurut mereka blogku terkena flag anti spam otomatis. Mungkin karena ada term BUDDHA pada posting ini barangkali, yang biasanya gak pernah, terus di curigai sbg penghinaan thd agama.

      • Ni Made Sri Andani

        Ooh..gitu.Padahal itu isinya justru appresiasi ya, Mbak Evi. ..Tapi yang namanya automatic mesin, ya nggak bisa memahami keseluruhan konten dan konteks-nya.
        Setahu saya WP memang memberi respon yang cepat dan sangat membantu. Pernah suatu kali tiba-tiba saya tidak bisa mengupload foto-foto. Saya tulis surat ke mereka dan minta tolong dibantu karena saya tidak tahu problemnya dimana, Nggak beberapa saat kemudian dia ngasih tahu bahwa problemnya sudah difix sama mereka dan saya bisa upload foto saya kembali.
        Yang penting kan kita tidak melakukan hal-hal yang aneh dan mengganggu ketertiban dunia – mereka pasti bantu kalau kita kasih tahu mereka.

    • Oh iya Mb Dani, membeli burung yg ditangkapi dr tempat hidupnya terus di lepas lg, cuma sprt siklus ekonomi doang ya. Tapi walau begitu ritual ini tetap saja menguntungkan lingkungan. Misalnya sebelum di tangkap lagi burung2 tersebut sempat kawin, bertelur dan berkembang biak 🙂

      • Ni Made Sri Andani

        iya.. paling tidak ada kesempatan berkembang di alam ya, Mbak. Seorang teman saya dulu ada yg bekerja di pusat penangkaran satwa liar (yang ditangkap dari penduduk yg memelihara binatang yang dilindungi tanpa ijin/ atau yang sengaja menyerahkannya krn tidak bisa mengurus), memeriksa kesehatannya, mengawasi dan melatihnya terlebih dahulu sebelum dilepaskan kembali ke alam bebas agar bisa surfive..

        • Hewan liar yg didomestikasi akan kehilangan skill yg dia perlukan di alam bebas. Kalau dibiarkan beberapa generasi, suatu saat macan yg dipelihara akan berubah jadi kucing rumah biasa. Dan sifat posesif kita dpt membelokan jalan evolusi..

Leave a Reply