Tarian Hujan

Hujan lebat di halaman tetangga

Hujan adalah musim favoritku. Tidak saja karena omset bisnis gula aren meningkat, hujan membuat udara sekeliling jadi bersih dan segar. Selalu menunggu kedatangan hujan lebat kemudian  teduh. Sebab setelahnya bisa duduk di halaman belakang rumah (biar tak kelihatan tetangga), menghirup aroma yang muncul dalam-dalam. Sensasinya hebat. Seperti menyusu pada bunda alam, menghisap lahap gizi kehidupan.

Desember-Januari, ketika hujan merata senusantara, mungkin jadi masalah bagi sebagian orang semisal ombak besar, banjir, kesulitan menanami sawah dan ladang. Namun untukku sendiri inilah musim paling paten untuk bermanja dengan alam. Entah di mobil dalam suatu perjalanan, entah di rumah, hujan ibarat simponi yang meliuk-liuk menyajikan pertunjukan alam di depan mata. Dari ruang kerjaku yang kecil di kamar belakang, misalnya,  sambil menulis bisa memandangi mereka. Mulai dari mendung, saat ritmik halus dari kejauhan, menetes kecil sampai curah air yang meluncur deras  dari genteng. Dari ruang kerjaku hujan terawasi dengan baik.

Kalau sudah begitu jadi lebay deh. Menimbulkan aneka perasaan romantis. Menumbuhkan angan-angan. Dan kangen sangat pada masa lari-lari dalam hujan semasa kecil dulu.

Beberapa hari lalu hujan besar di sertai angin kencang tiba di tempat tinggalku. Setengah jam sebelum curah pertama, suasana gelap, di langit tampak awan kelabu bergulung-gulung. Setelah membereskan cucian ke tempat aman aku siap menunggu kedatangannya dengan camera.

Mula-mula kecil. Tapi halaman tetangga langsung tampak kuyup. Tak lama berhembus  angin yang membawa air bersamanya. Dan curahan air deraspun akhirnya tiba. Terhempas diatas mobil dan jalan beraspal. Udara berkabut seolah ada dinding yang memisahkan rumahku dan rumah tetangga.

Waktu kecil hujan menurutku  adalah air mata bidadari. Mereka  nangis bareng untuk membasahi tanah  dan tanaman di bumi . Namun kemarin aku pikir tempayan para dewa langit sedang pecah.

Amboiiiii…..Alam kalau bikin pertunjukan memang gak tanggung-tanggung. Habis deh halaman, kebun, pohon, dan genteng milik tetangga jadi objek foto. Mudah-mudahan tak ada diantara mereka yang baca blog ini sehingga gak ada yang tahu aku  motoin properti mereka tanpa ijin 🙂

Salam,

–Evi

Bookmark the permalink.

28 Comments

  1. saya termasuk pecinta hujan mbak …

  2. Coba perhatikan Mbak? Jika hujan sudah berhenti. Hirup bau tanah yang tersiram air hujan. Pasti akan menimbulkan sensasi bau tanah basah yang akan membuat indera penciuman ini bagaikan mencium sesuatu yang asing.
    Lekat dalam pikiran dan susah dihilangkan. Apalagi kalau air hujan ini yang pertama jatuh ke tanah setelah kemarau panjang berlalu dan masuk awal musim penghujan.

    • Oh begitu penjelasannya. Mungkin aroma itu yang aku cium waktu kecil Mbak Arum..Terekam erat dalam memory sampai sekarang. Waktu itu aku pasti sangat menikmatinya. Kalau sekarang suka huja dan baua-bauan yg ditimbulkannya, mungkin alam bawah sadarku sedang membimbingku kemabali ke masa-masa indah tersebut. Terima kasih sudah memercikan ini pada ingatanku Mbak 🙂

  3. Sepertinya saya suka dengan musim hujan kali ini.
    Besar …. tetapi hanya beberapa menit kemudian berhenti.
    Dan saya lihat sudah terjadi beberapa kali. Dan belum pernah berlama-lama.
    Semoga saja tidak. Sebab dipastikan Jakarta kelelep. 🙁

    • Oh saya juga baru nyadar. Emang hujan lebat belakangan ini gak pernah lama-lama. Semoga tetap begitu sampai musimnya habis sehingga mereka tak perlu membenamkan jakarta Mas Har 🙂

  4. mensyukuri musim hujan Uni, jaga kesehatan ya. Salam

  5. Idiiiih mbak, keren banget!
    Saat nulis komen ini, di luar juga sedang hujan. Masih gerimis, tapi gelapnya sudah merata di seantero rumah.
    Kebetulan saya juga termasuk orang uang senang dengan suasana hujan…apalagi kalau malam hari, duuuh, bawaannya pengen baca buku sambil duduk di depan TV yang suaranya dikecilkan 😉

    • Begitu juga saya Mbak Bintang, kalau malam-malam hujan, cari cemilan, cari buku hehehe..Rasanya kayak bangsawan deh baca buku di rintik hujan, tapi minus perapian hahaha…

  6. Tulisannya bikin perasaan ku juga jadi ikut romantis, mbak…

    Hujan memang asik kok apalagi kalo kita ada di tempat yang terlindung. Suasananya enak, apalagi kalo lagi di rumah, ngumpul sama orang2 tercinta, udara yang dingin justru bikin hangat hati 😀

    • Mungkin karena itu aku menyukai hujan Jeng Lissa. Menimbulkan perasaan hangat, baik sedang berkumpul maupun berjauhan dengan mereka yang aku cintai. Cinta mereka seperti rumah yang memayungiku dari curah huja di luar ..Hahaha..tambah lebay..jadi tambah aneh ini kalimatku…

  7. Musim hujan adalah saat saya paling banyak berada di rumah bersama keluarga.
    Acara rutinnya duduk di teras beraroma tanah dan rumput basah 🙂
    Ya bu Evi, kasian para nelayan yang tak bisa melaut. Pendapatan mereka menurun. Ikan langka di pasar dan mahal.

    • Para petulang balik ke rumah di musim hujan ya Mas Yopie hehehe..
      Iya ini lah musim yg tak menguntungkan bagi saudara kita para nelayan. Maka senang juga jika setelah hujan, musim panas kembali datang 🙂

      • Berpetualang di rumah pun tak kalah mengasikkan bu Evi.
        Mencoba menemukan hal-hal kecil dan remeh yang dekat di sekitar kita tapi bisa menarik saat difoto.
        Atau juga mencoba menularkan hobi ke orang2 tersayang, sama susahnya seperti berpetualang 😀

        • Sepertinya berpetulang itu lebih kepada yang terjadi di dalam ketimbang hal-hal yg terjadi di luar ya Mas Yopie..Yah, hobbi mungkin bukan sesuatu yg perlu diwariskan kali mas..hehehe..Jadi jangan kecil hati kalau yg ingin ditulari gak ketularan ya

  8. Aha,…. Mbak Evi ternyata pencinta hujan ya? Jadi inget lagunya Endang S. Taurina; Hujan datang lagi…. http://www.4shared.com/mp3/TjlaojVs/endang_s_taurina_-_hujan_datan.html

  9. bandung akhir tahun kemarin juga sering hujan uni,.
    dan memaksa saya untuk ke laundry, 🙁

    #fotonya menarik uni, apalagi yang mangganya, 🙂

    • Nasib bujangan Jo, diterima saja karena gak ada yg jagain panas yg cuma sesekali muncul di musim hujan..
      Terima kasih Jo..Pohon mangga tetangga sedang berbuah lebat..Yg punya belum tahu kalau sering aku potret hehehe..

  10. Bagaimana dengan suasana lembab sehabis hujan ni? kalau aku suka jalan2 setelah hujan. 😀

  11. Ni Made Sri Andani

    bahasa yang sangat menawan,Mbak Evi. Tapi aku sekarang jadi memikirkan secangkir coklat panas dengan gula aren…

  12. Aroma dan nuansa hujan itu sangat genit, menggoda hati berada di dalamnya…

  13. Uni….Tt selalu suka hujan, apalagi kalo lg rindu, jd ngepas2in suasana… 😉

    …aku, kamu, dan hujan terangkum rapi dalam kotak berlabel rindu…. 😉

Leave a Reply