Mencoba Mengakrabi Tradisi

Bingkisan berupa beras, kue, masakan dan sirih lengkap

Hadiah dari Bako untuk pengantin baru

Saat kemarin Mbak Dani menulis tentang arak-arakan pengantin Bugis, aku ingat pada tradisi serupa yang terjadi di Minangkabau.  Kalau tuliskan seluruh rangkaian acara ribet banget. Lagi pula sudah ada yang menuliskan lengkap disitus lain. Yang kutulis berikut  dua arakan wajib saja yaitu :

  • Garis keturunan di Minangkabau di tarik lewat garis  ibu (matrilineal) dan sistem perkawinan yang berlaku adalah  matri-lokal atau uxori-local. Artinya setelah menikah pria akan pindah ke rumah istrinya. Tapi walau sudah mengucapkan ijab-kabul yang dilakukan entah di Mesji, di Balai Adat atau di KUA, pengantin pria (disebut marapulai) tak boleh langsung pulang ke rumah istri. Dia akan kembali pulang ke rumah orang tua untuk menunggu jemputan resmi keluarga istri pada sore harinya. Tapi dia tidak merangkat sendiri. Kerabatnya juga akan ikut mengantar. Dengan pakaian adat lengkap dua rombongan bersatu dalam barisan lalu diarak diiringi tabuhan rebana dan nyanyian bernafaskan religi dari belakang.
  • ——
  • 2. Keesokan hari bersama sang suami, pengantin wanita akan diarak oleh penjemput dari kerabat suami menuju rumah mertua.

Itu perarakan inti yang bila ritual perkawinan di lakukan dikampung dan terjadi antar mereka yang tak berjauhan letak kampungnya. Arak-arakan  ini pasti akan dilakukan.

Tapi ada lagi arakan ke-3 atau ke-4 yang biasanya tergantung status sosial dari masing-masing mempelai. Umumnya  pihak bako (saudara ayah dari ke-2 pengantin) juga akan mengundang pasangan suami-istri baru tersebut untuk makan di rumah mereka. Makanya pengantin Minang  disarankan tidak makan banyak-banyak hari itu :). Sejumput saja. Bayangkan jika misalnya ada 3 rumah yang mengundangm, mereka semua menyambut dengan hidangan lengkap. Masa sih tak coba walau sedikit?

Arakan cukup panjang dan dikawal polisi

 

 

Setelah kenyang makan pengantin tidak dibiarkan pulang dengan tangan kosong. Mereka akan kembali di arak disertai berbagai hadiah dari bako untuk bekal memulai hidup baru.

Saat ponakan menikah di Padang 3 tahun lalu, beruntung banget aku berkesempatan ikut arak-arakan tersebut. Karena besar di rantau yang tiap kawinan gak ada arak-arakannya, maka pengen banget merasakan bagaimana berada dalam rombongan seperti itu. Maka jauh-jauh hari sudah pesan kepada calon mempelai, kalau ada arak-arakan aku mau ikut dengan memakai baju adat.

Ponakan ini sangat mencintai etek atau tantenya (gr lah dikit). Tentu saja yang beginian bukan hal sukar dikabulkan. Hanya saja saat berada rumah keluarga bako pengantin perempuan, dimana arak-arakan akan dimulai, aku kaget, ternyata awak sendirian yang berpakaian adat selain kedua mempelai. Yah ribet bin rikuh dunk. Untung si ponakan dua2nya mengatakan tak apa dan menenangkan. Lagi pula kelihatanya  semua orang menyambut gembira kok bahwa ada ibu-ibu ganjen ikut berpayah-payah dandan di hari istimewa itu.

Ohya ternyata setelah aku di dandani ibu pengantin pria juga terinspirasi pengen pakai baju adat. Tapi berhubung mintanya dadakan, tak ada baju yang pas  untuk dikenakan :). # Moral of the story : Persiapkan keinginanmu jauh2 hari 🙂

Salam,

–Evi

Bookmark the permalink.

25 Comments

  1. wow … kayak arak arakan pengantin raja ya mbak .. pakaiannya itu lho cantik sekali

  2. Dulu saya tidak suka dengan tradisi dan berpikir itu membosankan. Tetapi setelah mencoba tahu sedikit, akhirnya justru banyak tertarik dengan tradisi. Banyak pesan moral yang bisa kita petik atau paling tidak, menarik buat dipotret 🙂
    Apalagi tradisi yang masih bertahan di pedesaan dan jarang saya lihat di perkotaan, sangat mengesankan.

    • Mas Yopie, kadang kita tak suka pada tradisi karena itu sudah jadi kebiasaan, merasa gak ada istimewanya dan kadang kuno..Namun seiring banyaknya yang dilihat dan dirasa, banyaknya pengalaman bersinggungan dengan tradisi lain, kita akan cenderung menengok lebih ke dalam, ke tradisi yg membesarkan kita. Setidaknya begitu yang aku alami Mas 🙂

  3. Jadi yang pake baju adat di samping pengantin pria itu mbak Evi ya? Cantik banget lho mbak, gak heran kalo ibu si pengantin juga jadi kepengen 😀

    Aku sejak kecil sukaa banget sama acara adat pernikahan mbak, tapi aku juga suka kalo menikah di gereja pake gaun pengantin lengkap dengan slayer panjang. Dulu sih berpikir, karena aku lahir dan besar di manado, jadi paling menikah yang bakal tercapai cuma gaun dengan slayer panjang itu.

    Tapi ternyata, Tuhan baik banget, aku ternyata dapat jodoh orang batak. Jadinya waktu menikah aku ngerasain nikmatnya diberkati di gereja dengan gaun berslayer panjang dan juga berkebaya ria lengkap dengan segala asesoris adatnya waktu pernikahan kami diadatin. Seneeengg banget rasanya :D. Btw, aku pernah juga menulis mengenai prosesi pernikahan adat Batak di blog ku 😀

    • Hehehe..Makasih. Sedang menikmati bernarsis ria..
      Artinya mimpi jadi kenyataan dunk ya saat menikah dengan Mr. Samosir. Disamping memakai slayer panjang terus baju adat batak..Menuliskan di blog juga cara dirimu mengenang saat2 indah itu ya Jeng Lissa…:)

  4. Suami saya dari Padang besar di Jakarta. Ketika menikah dulu, menggunakan adat Sunda. Untuk kasus seperti saya ini, apakah rangkaian upacara adatnya sama seperti di atas?

    • Mbak Lia, setahuku upaca adat lengkap begini diadakan hanya jika pasangan pengantin 2-nya Minang. Sebab utk menjemput Marapulai (penganten pria) itu dilakukan oleh ninik mamak penganten wanita. Sedang suku sunda kan gak punya ninik mamak? Hanya om atau paman. Konsep Mamang atau Om dalam suku sunda sedikit berbeda dari Minangkabau. Om di sunda kan tak punya pepatah begini: ” anak dipangku kemenakan di bimbing, orang kampung dipertenggangkan. Jadi secara adat mamak di kampung bertanggung jawab baik secara moril maupun materi kepada anak2 dari saudara perempuannya. Walau sekarang sudah banyak berubah, misalnya tak lagi bertanggung jawab secara materi, secara adat mamak tetap bertanggung jawab kepada para kemenakan tersebut. Dalam pernikahan Mamaklah yang bertanggung jawab jalannya jalur adat yang berlaku 🙂

      • Sayanya yg salah tidak banyak bertanya tentang adat istiadat Minang. Kepikirannya yg penting halal. Hahaha…
        Terima kasih banyak atas uraiannya, seneng bgt… 🙂

        • Yah, jangankan Mbak Lia, orang Minang sendiri banyak yg gak tahu tentang adat istiadat mereka sendiri kok. Jangan kuatir, bila berniat mendalaminya kan di internet sekarang bertaburan website atau blog yang membahasnya. Tengok cimbuak dot com deh, disitu banyak membahas adat istiadat Minangkabau 🙂

  5. Mbak…JuTretnya yach? ijin mengcopas artikelnya mbak…untuk bahan ajaran…

  6. mudah2ha nanti saya juga di arak seperti itu,
    menarik uni, 🙂

  7. Ni Made Sri Andani

    Senang banget ada tambahan cerita arakan adat Minangkabau. Coba andai saja semua blogger yang berasal dari berbagai etnik di tanah air menceritakan adatnya masing-masing, barangkali kita akan mengenal adat istiadat dan budaya kita yang kaya raya ini dengan jauh lebih baik.

    Suka banget dengan pakaian adatnya yang cerah, terlihat mewah dan sumringah. Glory the wedding. Etek Evi-nya cantik banget dengan pakaian adatnya sendiri. Tak heran ibu pengantin pria pun mendadak jadi pengen ikut didandanin he he..
    Moral positive-nya – jadilah trendsetter pencinta busana adat ..sehingga orang lain ikut terinspirasi pengen memakai juga ha ha

    • Mungkin beberapa saat lagi ada kontes beginian. Mudah2an dibuat Pakde Cholik, bukan aku. Sebab aku gak bakal sabaran menilai satu persatu tulisan perserta Mbak Dani 🙂
      Hehehe..Menjadi trendsetter pengguna busana adat, nah ini aku mau…Minimal dipakai kondangan..Mudah2an tempat persewaan baju adat bisnisnya lebih maju karena banyak pelanggan

  8. Tambahan sedikit bundo evi…
    Ditempat saya, kalau laki-laki pergi arak-arakan ke rumah mempelai perempuan disebut dengan basumandan… Kalau perempuan pergi ke rumah mempelai laki-laki disebut dengan manjalang…
    Jika di padang, arak-arakan diiringi dengan rabana, musik teromper dan kadang drum band..
    Di pariaman, biasanya diarak dengan gendang tasa atau gendang tabuik..

  9. Mbaaaak, bapak saya asli orang Minangkabau lo, tapi karena lahir dan besar di tanah Jawa saya kurang paham adat istiadat disana.
    Trima kasih sudah memberikan saya wawasan tentang nagari tercinta yang baru saya datangi sekitar 4 atau 5 kali ini. Tapi sungguh, pemandangan alam disana itu, bener-bener bikin saya terpesona…apalagi sate padangnya…hehe, enaaaaak!
    😀

    • Oh berdarah Minang ternyata Mbak Bintang. Tidak mengenal budaya nenek sendiri dilema anak2 yg lahir di rantau. Anak2 saya kalau ditanya adat Minang juga plongok2. Dan saya mengenalnya sedikit lebih dalam malah lewat bacaan. Saya juga meninggalkan kampung masih kecil. Untungnya berkesempatan pulang agak sering, jadi masih lumyan jugalah rasanya besar di tengah adat istiadat itu 🙂

  10. Wah lagi parade budaya pernikahan nih, dari rumah Jeng Ade disuguhi budaya Bugis, di rumah Uni Evi bidaya Minang, kayanya budaya negeri kita. Tarimokasih Uni, salam

  11. beberapa hal berkebalikan dengan adat jawa yogyakarta ya hehe

    terimakasih postingnya, siapa tahu entar dapat cewe Minangkabau, negeri “sengsara membawa nikmat” hihi

Leave a Reply