Makan Nasi Kapau di Los Lambuang

Ke Bukittinggi  kurang lengkap jika tak mampir ke Los Lambuang ( perut) yang terletek di tepi Pasar Lereng yang sering longsor itu. Di lahan yang mengantong dari Bukit Kubangan Kabau  ini berdiri puluhan kios yang spesialisasinya menjual Nasi Kapau. Mereka menempati petak-petak segi empat, tak berdinding, bercat biru dengan meja dan bangku-bangku kayu merupakan rumah bagi amai-amai (ibu-ibu) penjual nasi Kapau asli.

Melangkah ke dalam kita disambut dengan sapaan-sapaan ramah khas Minangkabau. Maklumlah jualan masakan dengan menu yang sama, citra yang sama dan mungkin juga rasa yang kurang lebih  sama membuka persaingan amat ketat. ” Cari apa Buk? Singgah minum dulu” . Atau ” Singgalah sabanta (sebentar), Nak” Bahkan jika Anda adalah lelaki muda akan di panggil Minantu (menantu), “Singgah lah Minantu” 🙂

Kapau sendiri berasal dari nama sebuah kenagarian (kampung) yang letaknya tak jauh dari tanah kelahiran saya, Magek, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.Sama seperti kampung yang berjejer di sepanjang Bukit Barisan, sebagian besar penduduknya bertani. Jadi pedagang hanya sebagian kecil saja profesi yang ditekuni mereka. Cerita dari mulut ke telinga  rupanya telah menggemakan Nasi Kapau sebagai masakan asli dari sini. Akibatnya nagari yang paling kecil dari 6 kampung ini jadi terkenal kemana-mana.

Kalau berkunjung ke Pasar Lambuang saya melupakan bahwa diet termasuk asesoris yang perlu diakrabi perempuan. Apa artinya diet kalau terpaksa menahan titikan selera saat memandang hamparan panci-panci besar yang tersusun rapi dengan hidangan  macam-macam masakan lezat. Semua kenangan saya tentang masakan padang berkumpul disitu. Mau gulai tambusu yang terbuat dari campuran telur dan tepung yang dimasak dalam usu sapi, tinggal tunjuk. Mau dendeng, pangek ikan, gulai itiak, gulai ayam? Pokoknya apapun yang ada disitu boleh Minantu pilih. Etek pemilik warung yang sekaligus pelayannya akan mengambilkan dengan  sendok tempurung kelapa bergagang panjang.

Selain hidangan yang kita tunjuk, Ibu penjualnya akan menambahkan gulai kapau ke atas nasi. Itu berupa irisan rebung, nangka, kancang panjang, kol dll. Gulai ini lah sebagai ciri khas yang membedakan nasi kapau dari nasi padang lainnya. Selain itu dia juga akan menembahkan bubuk rendang dan sambel goreng.

Konan cikal bakal Nasi Kapau berawal  gulai ini. Ketika  ibu-ibu keliling kampung menawarkan dagangannya keliling kampung berpuluh tahun yang lalu. Saya ingat waktu kecil setiap hari kamis ada Amai penjual gulai yang lewat di jalan depan rumah kami. Diatas singgulung kepalanya terletak keranjang bambu yang di dalamnya terdapat periuk belanga hitam. Kalau dia membuka tutup belanga  keluarlah aroma semerbak dari kuah kuning yang berlinang bersama santan. Isinya campuran sayur mayurseperti yang saya ceritakan tadi. Jualan mereka hanya itu, campuran aneka sayur yg disebut sebagai Gulai Kapau.

Yang paling saya suka dari nasi kapau memang ciri khasnya itu. Terutama rebungnya yang kalau digigit krenyes-krenyes, saya pikir belum belum punya rival manapun di Indonesia. Kalaupun ada mungkin karena saya belum pernah mencobanya :). Setelah itu adalah pangek ikan paweh atau ikan nilem. Biasanya pangek paweh masih ada telur dalam perutnya. Rasanya gurih ambohai..Keistimewaan pangek ini karena  dimasak dalam periuk tanah liat dengan api kecil selama beberapa jam. Makanya semua bumbu terasa merasap dan di bagian tertentu dari ikan tulang-tulangnya melunak.

Profesi dagang terbuka untuk semua gender di Minangkabau. Rumah makan padang kebanyakan yang masak kaum lelaki. Namun saya belum pernah melihat yang jualan nasi kapau di Los Lambuang adalah bapak-bapak. Tidak tahu mengapa begitu. Mungkin itu sebab  mengapa semua nama kedai Nasi Kapau disini bersifat feminim: Uni Lis, Etek Ani, Uni Linda, Etek Sam dll. Entah ini  suatu kesepakatan atau kebetulan saja, emang perlu saya cari tahu kalau pulang kampung lagi nanti.

Nasi Kapau dengan Pangek Ikan Paweh

Dua Piring Nasi Kapau siap santap

Etek (tante) yang melayani kami

Salam,

–Evi

Bookmark the permalink.

28 Comments

  1. suka saya dengan tulisan seperti ini peninggalan nenek moyang kita tdk boleh dilupakan.

    • Terima kasih Mbah Wahyu…Mengumpulkan cerita2 seperti ini juga kesukaan saya..Buat dibaca nanti, jika sdh tua dan gak bisa jalan-jalan 🙂

  2. belum pernah makan ikan paweh mbak, kayak apa ya rasanya ?
    foto fotony abikin ngiler saja, dah lama ndak makan di warung seperti di atas 😀

  3. Uni, saya jadi nggak napsu baca tulisannya, saya malah jadi ngiler lihat gambar ikannya… Aduh, asam lambungku… Enak kayaknya…

    • Gambarnya gak sopan ya Falz…Maafkan aku ya. Ini sekalian promosi masakan nenek moyang, biar rumah makan padang makin terkenal ke seluruh dunia

  4. beneran, dhe nelen ludah ngeliat nasi kapau buk.. haduuhh, bener2 menggoda iman nasi kapau nya.. jadi pengen nyoba, sayang tak ada di sini..

  5. kemecer saya membaca dan melihat fotonya, hmm…. jadi lapperrrr….

    *kemecer: bahasa Jawa, semacam rasa ingin merasakan makanan tertentu yang sudah terasa di mulut…

  6. Bu Evi ini pandai sekali menyusun kata-kata sehingga sampai air liur saya hampir menetes, hmmm nasi kapau dengan segala lauk pauknya, mana tahan…

  7. Tahun depan, kayanya harus dijadwalkan ke sana nih … mantap bu.

  8. waaa kelihatannya enak….
    mau dong bunda…

  9. nelan ludah…

    aduuh…enak banget nampaknya, mbak….

    Di sini ada juga yang jualan nasi kapau, tapi gak tau gimana rasanya, soalnya belom pernah nyobain 😀

  10. Los Lambuang Bukit tinggi ini memang sangat terkenal …
    bagi petualang kuliner …

    yang jelas … setelah dari sana … harus rajin-rajin Olah raga …

    Lamak … tapi … Lemak …
    🙂 🙂 🙂

    Salam saya Bu Evi

  11. Kemana-mana kita bepergian maka satu hal yang tak terlupakan adalah kulinernya. itu sudah suatu tuntutan yang tak bisa dilewatkan bahkan sangat disayangkan kalau kemudian terlewatkan

  12. Saya salut dengan laki-laki yang bisa masak. Tapi saya sendiri nggak bisa 😳

    Kayaknya enak banget tuh Ikan Kapau. Pasti pedas ya, Mbak Evi?

  13. Nasi Kapau dari Bukik wow lezatnya …. Kunjungan ke tanah leluhur ya Uni, salam

  14. Ahhh…jadi lapar…
    Saya dua kali ke Bukittinggi, kota yang sangat indah….
    Sayang belum sempat ke Nasi Kapau yang terkenal ini.

  15. Aku jadi ingin nyobain, scara belum pernah juga ke Bukit Tinggi 😉

    #Gambar bungganya bagus Uni, hasil jebretan sendiri ya …

  16. onde-mande, lapa wak dek nyo
    tapi saya kok ga tau nama daerahnya yo, Ni?
    dima tu?

  17. tak boleh dilewatkan kalau ke Bukik ya ni, harus mampir di pasar Lambung

  18. Wah, kalau wisata kuliner, dietnya ditinggal di rumah saja. Sayang kalau dilewatkan.
    Saya penyuka masakan Padang, eh dapat suami dari sana juga, pas bgt. Hehe.

  19. Ni Made Sri Andani

    Aduuh enaknya.. jadi menitik air liur melihat Pangek Ikan Paweh itu. Nasi Kapau memang selalu enak. Apa ya rahasianya mengapa masakan Padang itu enak semua?
    Salut juga ya kalau pemda setempat ada menyiapkan tempat khusus bagi amai-amai untuk menjual Nasi Kapau asli begitu. Setidaknya setiap orang yang datang ke sana, bisa mencicipi masakan asli yang memag enak itu. Pengunjung bisa lebih mengenal kekayaan culiner nusantara, dan sebaliknya penduduk lokal pun lebih bangga lagi akan hasil karyanya..

  20. Nasi Kapau dengan Pangek Ikan Paweh-nya sungguh menggoda~ 😳
    kapan-kapan cicipi ah~

  21. Mbak…meskipun kurang lauknya…tapi kalau ada yang desebutkan rebung bambu mmmmmm saya pasti nambah…sayang istri saya ngak bisa masak rebung bambu,…tapi ibu saya jagonya…saya pesan ke ibu gini mbak…

    Bu…kalau ibu punya ikan panggang, ayam bakar, ngak usah tlp saya, tapi kalau ibu masak rebung bambur, sayur pare (goreng), terong goreng, sesegera mungkin harus tlp saya ya….

  22. Smester yang lau aku berusaha cewe dari Padang dia baik, sopan dan tentu yg aku suka dari orang padang adalah kerja kerasnya…

    di panggil minantu wah mau banget tuhh, hmmmm nyammi…

  23. huhuhu pingin makan nasi kapau juga

Leave a Reply