#Lampung 5 : Menikmati Pagi di Desa Nelayan Kuala Stabas

Pagi saya di Krui disambut hujan yang berlangsung dari subuh. Duduk di beranda Hotel Mulia Krui memandang sisa gerimis sambil memotret beberapa kuntum kamboja jepang dan bougenville  yang kuyup, samar-samar tercium aroma laut tak jauh dari sana. Rupanya angin pagi yang lembut membawanya kesana. Di seberang jalan terlihat bangunan tua compang-camping, tak punya pintu dan tembok belakang.  Itu memperlihatkan sejumput laut dari tempat saya berdiri. Walau masih gerimis, saya menyeberangi jalan meninggalkan suami dan anak-anak yang masih tidur, mencari tahu pantai yang sore kemarin tak tampak dari sana.

Setiba di tempat itu  mata  disergap hamparan laut dengan perahu-perahu yang bersandar, kesibukan beberapa nelayan, orang-orang di warung dan dermaga, serta anak-anak yang sedang bermain. Seketika saya merasa  seperti jadi salah satu anak Pevensie dalam seri The Chronicles of Narnia. Petualanan   Lucy dan Edmund Pevensi ke negeri Narnia selalu di mulia dari sebuah pintu dalam lemari. Saya masuk ke Desa Nelayan Kuala Stabas lewat pintu rusak dari sebuah gudang tua. Sebuah kesamaan yang mengharukan 🙂

Cepat-cepat  balik ke penginapan, membangunkan suami dan anak-anak untuk menceritakan penemuan tersebut.  Sebelumnya tak seorangpun diantara kami pernah melihat seperti apa desa nelayan sesungguhnya. Tentu saja ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk mengenalnya. Maka tak seorang yang keberatan saya angkut pagi itu ke kampung Kuala Stabas yang masuk lewat gudang rusak milik bekas orang kaya Lampung, seangkatan Pak Ahmad Bakri, ayahnya Abu Rizal.

Mengunjungi suatu daerah, satu-satunya cara untuk mengenal tempat tersebut dalam waktu cepat adalah  bertanya dan kalau bisa melebur bersama penduduknya. Alhamdulillah saya tak  kesulitan melakukan ini. Apa lagi sekarang lengkap dengan pasukan, jadi PD mendekati kedai dimana bapak-bapak berkumpul. Cuma berbekal salam dan senyum, apapun yang kami tanya  mereka jawab dengan ramah. Suasana langsung melumerkan batas antara orang asing dan penduduk asli. Keterbukaan seperti ini lah yang belum bisa tergantikan dari rakyat Indonesia, satu karakter menguntungkan sekaligus mengkuatirkan, menurut saya 🙂

Dermaga dan tempat pelelangan ikan Kuala Stabas ternyata di bangun oleh Belanda. Begitu pula batu-batu pemecah gelombang yang gompal sana-sini itu adalah peninggalan mereka. Menurut Bapak yang menemani kami, batu tersebut sudah berkali-kali di tambal Pemda. Namun dalam hitungan bulan jejaknya tak tampak lagi. Sementara yang peninggalan Belanda tetap setia mengendalikan energi gelombang agar pantai tak terabrasi dan perahu-perahu aman bersandar di pelabuhan. Mau tak mau sekali lagi saya memoejikan Belanda  :).

Perbincangan pagi itu berubah jadi pembelajaran yang menyenangkan. Saya jadi tahu bahwa nelayan tidak melaut pada malam hari, melainkan pagi sehabis subuh. Rupanya lebih mudah menangkap ikan yang baru bangun tidur. Tapi jenis ikan yang di dapat yang berasal dari laut dangkal seperti ekor kuning, kembung dll. Kalau melaut malam hari biasanya untuk menangkap ikan besar yang hidup di laut lebih dalam. Malampun haruslah pekat sekali agar ikan-ikan yang akan di jala atau dipancing  tak curiga. Sedang untuk menangkap udang dan cumi-cumi pada malam bulan purnama.

Ditempat itu berdiri beberapa koperasi . Koperasi lah yang membeli ikan dari kelompok nelayan lalu melelang atau mendistribusikannya ke pasar di sekitar Lampung atau di bawa ke Jakarta. Sayangnya saya tak sempat menunggu perahu-perahu yang pulang melaut. Biasanya sekitar pukul sebelas hasil tangkapan  baru naik dan di lelang di tempat. Saya membayangkan alangkah serunya melihat ikan-ikan segar  di naikan ke dermaga dan pasti sesuatu banget jika berhasil mengabadikan mereka dalalam camera. Namun karena hari itu rencanannya akan langsung balik ke Bandar Lampung sementara masih banyak tempat yang akan kami kunjungi terpaksa selesai sarapan kami meninggalkan Krui.

Perahu / Jukung yang sedang menuju dermaga

Jukung ini tengah meninggalkan dermaga. Entah menuju kemana

This slideshow requires JavaScript.

Salam,

–Evi

Bookmark the permalink.

33 Comments

  1. Sepertinya pagi yang indah, ya…
    Ternyata ikan-ikan yang tertangkap itu baru bangun tidur, ya? Saya juga baru tahu…

  2. Beberapa kali kemari, kadang hanya jalan-jalan saja menikmati alamnya tanpa motret kadang juga datang pingin motret. Semakin dijelajahi semakin penasaran 🙂

  3. Duta wisata pantai Barat Lampung, ulasannya memikat, berbagi keindahan penjuru tanah air nih. minimal mendorong saya buka peta Krui karena penasaran hehe. salam

  4. Walau orang Lampung, aku belum pernah ke Krui 🙁

    Indah lautnya ya Uni…

  5. Bu, ini perjalanan bisnis, atau memang lagi jalan-jalan …
    Enak ya bisnis sambil jalan-jalan, dan ngeblog … 🙂

    • Campur2 saja Mas Har, bisnis disempetin jalan2 atau jalan2 disempetin bisnis. Dan ngeblog saat ini curah rasa saya untuk menyeimbangkannya 🙂

  6. Saya selalu tertarik membaca tulisan tentang jalan-jalan. Tapi cuaca memang sepertinya kurang mendukung untuk menghasilkan gambar yang cerah khas lautan ya, Mbak…

    • Menurut saya, cuaca pagi paling bagus untuk menghasilkan foto Mbak Isnu. Namun karena aku belum gape memainkan lensa, diafragma dll, jadinya ya gitu deh, fotonya burem 🙂

  7. Senangnya ya bisa keliling .. he he banyak yang bisa diabadikan keindahannya 🙂
    Selain itu pengalaman dan pengetahuan secara langsung tentang kehidupan masyarakat menjadi bagian yang menarik.
    Trims … cerita dan fotonya menginspirasi.
    Salam hangat selalu 🙂

    • Betul Kang Yayat, banyak keindahan, setiap sudut banyak yg bisa dipotret. Dan saya emang paling suka melengkapi foto dengan tambahan cerita di belakangnya. Trims ya Kang 🙂

  8. Saya kebetulan tinggal di sebuah desa yang penduduknya berprofesi sebagai nelayan sekaligus petani. Kalau musim kemarau tiba dimana mereka tidak bisa bercocok tanam, maka mereka akan melaut.

    Sewaktu kecil, saya senang ikut ayah ke laut, naik jukung. Sekarang saya merindukan masa-masa itu. Membaca tulisan mbak Evi, saya jadi makin rindu. Terima kasih telah berbagi cerita 😀

    • Bli Budi beruntung nih masih bertempat tinggal di daerah yang masih dekat dengan alam. Membesarkan anak2 ditempat ini mestinya gak sesulit kalau di kota besar ya Bli..
      Kita selalu hidup dalam kenangan dan sepertinya itu yg membentuk kita sekarang 🙂

  9. makasih sudah berkunjung ke rumahku ya mbak..makasih banget. wah episode lampung nih..saya dulu pernah magang disana, di kotabumi tepatnya..lalu menjelajah ke pelosok yang jauh dari kota..ah jadi rindu..:)

    • Makasih sudah dikunjungi balik Mbak Ketty..Tulisan di blogmu emang cantik..Aku bakalan sering kesana kayaknya 🙂
      Jadi pernah tinggal sementara di Kota Bumi ya..Pastilah ngangeni karena tinggal disini sepertinya adem tentrem 🙂

  10. belum pernah ke lampunggggggggggggg

  11. kehidupan di kampung nelayan biasanya unik. biasanya tidak sana orang orangnya tidak homogen. dan foto foto itu sudah bicara banyak, hehe

    next trip kemana mbak, hehe

    • Sebetulnya kalau punya kesempatan, pengen deh tinggal barang seminggu dengan mereka Mas Wadi. Melihat dari dekat kehidupan mereka sebenarnya. Namun karena kita masing2 punya urusan hidu, yah, gak bisa…Cukup bersentuhan beberapa menit …

  12. Sukaa deh liat foto mbak Evi berdua sama suaminya itu 😀

  13. kami suka liburan di pinggir pantai mbak, memandang laut, kalau bisa memburu sunsetnya di sana

    foto fotonya indah sekali mbak … membiru …. jaid pengen langsung ke sana 😀

  14. Angin, nelayan, ombak…
    Sangat rindu laut…

  15. cakep…cakep….mau mba….!!!
    ngiri kalau bisa urusan pantai dan sekitarnya …..#jadi referensi 😀
    thx mba Evi

  16. masih edisi jalan-jalan ya bun, seru aja bacanya

    • Iya Mbak Lyd 🙂 Lagi butuh menulis, tapi gak tahu apa yg mo ditulis selain edisi jalan-jalan 🙂 Maaf ya komenmu di masukan sebagai spam oleh Askimet di blogku 🙂

  17. Setelah minum kopi di liwa terus ke Krui… Wah pengeennn..

  18. musim hujan begini.. laut sepertinya bergelombang ya mba?

Leave a Reply