Kampu/Kempu Durian

Kempu durian

Walau cerita tentang Lampung masih banyak, hari ini di tunda karena saya mau menceritakan tentang Kampu atau Kempu Durian yang saya temukan di Pasar Pusat Sovenir Pontianak beberapa waktu lalu. Ukiran buah durian dari kayu ini ada beberapa buah mejeng diatas lemari kaca pada sebuah toko. Bentuknya yang unik menarik perhatian saya. Karena sudah membeli beberapa kalung dan gelang etnis Dayak disini, bapak si pemilik toko tak keberatan saya minta ceritakan soal benda-benda etnografi yang banyak dijual di tokonya.

Kampu durian di gunakan suku Melayu Mempawah Kalimantan Barat sebagai wadah uang asap yaitu uang yang diserahkan calon pengantin lelaki kepada keluarga calon isterinya saat seserahan barang-barang setelah peminangan dan menjelang pernikahan. Selain untuk membantu pesta pernikahan, uang asap juga bertujuan sebagai bekal dalam memulai rumah tangga baru nanti.

Selain uang, Kampu atau Kempu Durian dan Biantang dalam bahasa aslinya, juga diisi oleh beras kuning, paku keminting, sirih seleka dan kunyit. Saya tak sempat bertanya soal paku keminting, begitu pula dengan sirih seleka. Yang jelas benda-benda tersebut digunakan tradisi Melayu Mempawah sebagai lambang kemakmuran. Maksudnya  agar supaya dalam mengarungi rumah tangga kelak, kedua mempelai cukup sandang, papan,  pangan dan memperoleh keturunan.

Sebetulnya banyak yang ingin saya tanyakan, seperti jenis kayu yang digunakan untuk membuat Siantang. Apakah selain kayu adakah yang terbuat dari logam, mengingat benda-benda upacara adat melayu memang banyak terbuat dari logam. Atau mengapa bentuknya durian, bukan semangka atau kelapa? Namun Bapak itu lebih tertarik menawarkan barang-barangnya yang lain ketimbang ngobrolin benda-benda budaya. Saya merasa tak enak mendesak pertanyaan yang tampaknya tak penting untuk dia 🙂

Ya sudah saya akhiri juga ceritanya sampai disini.

Salam,

— Evi

Bookmark the permalink.

24 Comments

  1. Bentuknya bagus, ya… Bikinnya bagaimana tuh ya Uni?

    • Kurang tahu juga. Kurang lebih pasti seperti bikin ukiran kayu lah. Tapi butuh kayu yg diameternya lebar sepertinya, kan di tengahnya mesti dikasih ceruk untuk memasukan uang

  2. Wow pengamatan yang jeli dari suvenir Kalbar nih, salam

  3. Baru tahu cerita disini, kalau kampu durian itu tempat uang dan diberikan kepada pengantin perempuan saat seserahan.
    Iya, ya…..zaman sekarang apakah masih menggunakan bentuk durian itu…atau bisa berbagai model seperti orang-orang di kota lain menyelanggarakan hajatan?

  4. penasaran sama paku keminthingnya mbak 🙂 .. baru tahu kalau mau lamaran bisa pakai ini sebagai wadah uang

    cantik juga ya kempu duriannya

  5. waduh baca ini jadi pengin keliling kemana-mana nih mbak…Indonesia memang luar biasa khasanah budaya dan alamnya..
    ditunggu kisah perjalanan selanjutnya.

    salam

    • Sekarang Indonesia berapa propinsi Maz Zen, saya tak ngapalin. Namun jika kita punya kesempatan menggali satu propinsi saja, seumur hidup tak akan habis cerita yg bisa di gali di dalamnya..Betapa kayanya kita 🙂

  6. saya dari Pontianak, nggak jauh dari Mempawah, memang banyak sekali peralatan adat yang digunakan saat pernikahan melayu 😀 saya aja kadang sampe bingung

  7. wah keren..baru tahu soal kempu durian ini..thanks for sharing yah mbak..:)
    wah jadi gigit jari neh mbak..banyak tertulis catatan perjalanan di blog…saya kok nggak pernah jalan jalan yah hehehehe

    • Kalau saya, jalan2 secara khusus juga gak pernah Mama Kinan. Biasanya jalan-jalan yg saya lakukan ini disambi. Pekerjaan saya dan suami mengharuskan kami banyak keluar. Biasanya kalau sdh selesai urusan utama saya ajak suami menikmati tempat yg sedang kami dikunjungi..Kan katanya menyelam rugi kalau tak minum air hehehe

  8. Ni Made Sri Andani

    Wah.. pengetahuan baru nih.. Aku tertarik pada kata “Kempu Durian”..tadinya kupikir semacam makanan..lempo durian atau titik-titik durian yang lainnya ..he he.

    Rupanya tempat uang buat acara pernikahan. Menarik juga ya dibuat dalam bentuk buah durian. Rapi lagi buatannya..
    Jika ada benda budayanya, tentu ada tradisi dan adat istiadat di belakangnya. Sayang tidak banyak orang yang merecord budaya ini ya..

    • Setuju Mbak Dani. Pasti ada filosofi tertentu mengapa mereka membuat bentuk durian dalam hantaran ini. Cuman kita ya kan begitu, tidak begitu abai pada tradisi nenek moyang sendiri..Aku curiga sudah berapa banyak tradisi nenek moyang kita diam-diam punah karena penyandang budayanya selain tak memakai lagi karena juga tak di rekam dalam perjalanan sejarah. Tradisi kita kan oral, bukan tulis..Begitu sepencerita pergi dibawa deh semua pengetahuan bersamanya. Tadi aku coba googling kempu durian atau uang asap. Gak ada yg nongol tuh selain isi blog ini dan sejumput catatan kecil yg membahas adat perkawinan suku melayu Mempawah..

  9. oh jadi tempat uang ya duriannya saya pikir pajangan saja trnyata ada fungsinya

    • Awal di buat benda ini ada fungsinya Sob..Tapi kalau di jual di toko sovenir, aku kira dimaksud sebagai benda hiasan. Benda hiasan etnis tepatnya 🙂

  10. Kempunya dibuat dg hati agar menyentuh hati pula. Kempu yg indah… 🙂

  11. Itulah hebatnya negeri kita mbak…pasti durian juga mempunyai makna tersendiri mbak yach…buktinya bukan buah yang lain digunakan…terima kasih sharnya mbak, langsung saya kopas

    • Khusus untuk Kalimantan, mungkin karena durian sangat banyak varietasnya dan berlimpah di hutan. Mereka menyebut durian dengan aneka nama, sesuai bentuk dan isinya. Dan durian tetap buah paling eksotis dan istimewa. Makanya aku kira mengapa mereka mengambil bentuk durian itu Bli 🙂

  12. ooh itu diisi uang ya bun

  13. Wuih, itu durian kayu besar banget, mbak Evi 😀 Ternyata kempu durian itu memiliki nilai tertentu dalam adat Kalimantan. Terima kasih atas sharing-nya, satu pengetahuan baru buat saya.

    • Kan biar muat uang banyak Bli. Apa lagi kalau uang asapnya sepuluh ribuan kan butuh space luas. Iya keaneka ragaman budaya Nusantara luar biasa. Kayaknya seumur hidup gak cukup waktu deh utk mempelajarinya 🙂

Leave a Reply