Tugu Khatulistiwa Pontianak

Tugu Khatulistiwa

Tugu ini letaknya sekitar 3 kilometer arah utara kota Pontianak, tepatnya di jalan raya khatulistiwa arah Mempawah. Ini adalah monumen yang didirikan oleh sekelompok peneliti yang dipimpin seorang ahli geografi dari Belanda pada tahun 1928. Empat buah tonggak yang menyangga bulatan bumi dengan garis-garis ekuator itu terbuat dari kayu ulin, sejenis kayu keras yang tumbuh di tanah Borneo.

Bangunan Kubah untuk melindungi tugu asli dibawahnya

Nah pada tahun tahun 1990  Tugu Khatulistiwa dibuatkan kubah untuk melindungi tugu asli di bawahnya. Duplikat  tugu yang terdapat diatas kubah  itu ukurannya lima kali lebih besar dari tugu yang asli.

Titik Nol yang baru berjarak 117 meter dari tugu sekarang

Tahun 2005 sebuah tim dari BPPT menemukan bahwa posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata tidak ditempat dimana tugu khatulistiwa berada sekarang. Titik kulminasi tersebut setelah dihitung kembali ternyata berada pada posisi 117 meter ke arah Sungai Kapuas. Sementara posisi  Tugu Khatulistiwa Pontianak  saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur –Wiki

Menjejakan kaki di titik nol

Menghadap ke Sungai Kapuas yang terbuka, walau penandanya sangat sederhana, namun dua kali dalam setahun yakni 21-23 Maret dan 21-23 wisatawan dan orang-orang berkepentingan akan berduyun-duyun datang kesini. Mereka akan menyaksikan  terjadinya titik kulminasi  yaitu ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan “menghilang” beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu. –wiki

Bookmark the permalink.

34 Comments

  1. eaaa… aku pernah kesini. mungkin 14 tahun lalu (lupa). Sayangnya, belum pernah lihat fenomena kulminasi 🙁
    maybe next time.

  2. Jadi kepengen yang mau ke Pontianak… 🙂

  3. Hallo Uni Evi, maaf bila tadi ngetuk pintunya via jendela rumah Jeng Ade/Dani. Wow cantiknya gambar2nya meski sudah berkunjung tetap saja senang membaca tuklisan kekayaan geografis kita. Salam

  4. Uni fotonya glowing white… Keren… itu efek titik kulminasi juga?

  5. Ni Made Sri Andani

    Wah.. saya dulu ke sana tapi lupa mengabadikan diri saya bahwa saya pernah ada di sana. Hik hik.. Suatu saat saya harus ke sana lagi ah. Tulisan ini membuat kangen untuk menjelajahi nusantara lagi.

    • Dulu mungkin karena kita belum nge-blog kali yah Mbak Dani..Jadi membiarkan begitu saja pengalaman hidup yg ditempuh lewat. Kalau saya rajin potret diri sejak ada facebook. Terus rajin mengabadikan pengalaman sejak rajin nulis blog..akhir2 ini. Jadi ntar kalau keliling nusantara jangan lupa bawa memor card yg gede yah

  6. kalo gak salah ini pernah masuk si bolang, hehehe..
    bagus, kota yang masuk daftar yang harus ku kunjungi, entah kapan itu, hihi

  7. Ingin rasanya datang kesana 🙂
    Semoga saya bisa jalan2 ke Pontianak 😀
    Naik pesawat dari Balikpapan ke Pontianak agak ribet, karena mesti transit dulu ke Cengkareng 🙂

    • Waduh Borneo itu terlalu lebar makanya boros di ongkos ya Kakak Akin..Gile aje, dari Balik Papan ke Ponti mesti nyeberangi laut dulu..Semoga pemerintah keingatan bukan jalan trans Kalimantan yah, biar penduduknya lebih mobile antar daerah 🙂

  8. Ruang dalam tugu, waktu saya datang ke tempat ini tahun 2010 lalu sedang di renovasi dan di cat. Jadi banyak bambu-bambu yang diikatkan berguna untuk memudahkan para pekerja memanjat dan mencat dinding ruangan ini. Wah sekarang sudah kelihatan sangat bersih ya Mb. 🙂

  9. sensaisonal rasanya mungkin ya bisa berdiri tepat di titik nol..

    gambar yang sangat cantik mbak..

  10. Jangan-jangan hitungan yang dulu itu bukan karena salah, tapi karena mengalami pergeseran ya mbak.. hihihi..ini sih dugaan orang yang gak ngerti kayak ginian 😀

    Fotonya keren, mbak, beruntung bisa berdiri pas di titik nol gitu, mudah2an ada kesempatan bisa berdiri di situ pas titik kulminasi ya mbak 🙂

    • Kemungkinan itu ada Jeng Allisa. Saya pernah baca kemiringan ellips bumi saat mengelilingi jg berubah ya. Wah pengetahuan menarik nih kalau dieksplorasi. Amin. Terimakasih doanya Jeng 🙂

  11. Ooooo bulattt …. ya iyalah “O” bulat … klo “I” … ya lurus …hehehe
    baru ku tahu bahwa yg dilihat seja SD dulu itu gambar duplikat (bangunan qubah) kirain itu yg aslinya … 😛

    • waaa …. bukan pulak di titik NOL … piye toh? 🙁

      • Saya jg gak tahu alasannya mengapa titik nol berubah mas Omman, belum menyelidiki lewat litetature. Tp yg beginian biasa aja kok dlm ilmu pengetahuan. Dulu orang mengatakan matahari yg mengelilingi bumi. Waktu galileo bilang sebaliknya ( eh kalau namanya gak salah) bahwa bumi lah yg mengelilingi matahari, sudut pandang itu kita terima sampai sekarang 🙂

    • Iya Mas Omman yg luar utk melindungi yg asli yg bawah

  12. Kalau kita melihat map pulau Borneo atau Kalimantan, garis khayal khatulistiwa juga melewati Kalimantan Timur makanya di salah satu titik di kota Bontang Kaltim juga ada tugu khatulistiwa. Karena dulu sepuluh tahun yang lalu saya sering lewat ke lokasi itu, rasanya biasa saja tidak ada yang aneh, he he he sekarang menyesal deh tidak ada bukti saya pernah ke sana. Ibu benar mengenai kayu ulin, kayu ini betul-betul kuat dan di sana tiang-tiang yang dipancang di pelabuan, juga lantainya dibuat dari kayu ulin semua.

    • Saya waktu muda jg tak merekam tempat2 yg pernah saya datangi P Eman. Namun dng bergesernya umur, bergeser jg perspektif saya dlm memandang segala sesuatu. Skrg lbh menghargai hal2 yg sederhana, tak hanya yg exiting saja.

      Mengenai kayu ulin, sy punya hubungan emosi dngnya. Waktu kuliah punya dosen bule yg peneliti suku2 dayak di Borneo. Dia banyak menceritakan rmh panjang dan kayu ulin. Jadi begitu masuk ke Bumi Kalimantan, mata saya langsung searching kayu2 tsb. Dan ketemulah di rumah betang dan tugu khatulistiwa ini

  13. Kebahagian luar biasa..kalau bisa berdiri di sana yach…mmmm ternyata sudah berubah mbak ya..apa dulu salah hitung, atau memang sudah terjadi pergeseran? kayaknya bergeser mbak yach

    • Perhitungan yg lalu kan dilakukan jaman Belanda, Mas Budi. Waktu itu alat ukur mungkin masih lbh sederhana dr yg digunakan oleh ilmuwan kita sekarang 🙂

  14. waaaa….pingin pas disana pas menyaksikan matahari di titik kulminasinya …. 🙂
    salam

  15. salah satu tempat yang ingin saya kunjungi uni,
    tapi di bonjol, di daerah pasaman ada kan uni?

  16. wah .. jadi pengen ke sana mbak pas terjadi titik kulminasi, pasti menyennagkan bisa menyaksikan langsung …
    btw, fotonya cantik mbak 🙂

Leave a Reply