Sudah Numpang Kentut Lagi

image

Saya ingat banyolan Warkop dengan logat batak seperti judul notes ini, sudah numpang kentut lagi. Banyolan sarkas untuk mencubit perangai orang tak tahu diri. Ingatan itu dipicu saat melintas di jalan Raya Serpong. Saya kira banyolan Warkop dalam menggambarkan sebutan tak tahu diri juga pantas di alamatkan pada sekelompok anak yang menumpang truk terbuka seperti foto di atas.

Tadinya saya tidak begitu menaruh perhatian hubungan antara motor yang sedang berjalan di belakang truk dengan para penumpang diatasnya. Kecuali  concern pada keselamatan mereka yang duduk di lidah bak. Kalau mobilnya ngerem mendadak atau bersenggolan dengan kendaraan lain, apa yg akan terjadi coba? Pasti yang duduk-duduk manja itu seketika akan terjungkal ke bawah.

Di tengah mengomel dalam hati itu tiba-tiba  tampak pengendara motor di bawah melemparkan sekaleng pilox ke atas. ” Coret2 nih!” Teriak saya pada suami yang sedang mengemudi.

Dugaan saya tepat! Si topi merah langsung mengocok-ngocok kaleng di tangannya dan mulai menjalankan aksi. Ia jongkok sedikit. Sepertinya menuliskan kalimat tak jelas yang diiringi hore-hore oleh teman-temannya. Gemas sekali saya melihat kelakuan mereka. Sayangnya saya hanya punya  camera ponsel dan tidak bervideo( tahun 2011 belum lazim menggunakan video ponsel –edit 23-8-2016). Walau sangat ingin merekam, gambaran kelakuan mereka hanya tersimpan di benak saya.

Dinding truk itu berwarna hitam dan bersih dari coretan sebelumnya. Gara2 penumpang gelap dan tak tahu aturan ini sekarang  dindingnya berubah jadi papan grafiti liar.

Tak habis pikir oleh kelakuan mereka. Apa yang membuat anak-anak  ini merasa berhak mencoreti barang yang bukan milik mereka? Mengapa sudah diberi tumpangan tak terbit rasa terima kasih tapi malah merusak?

Anak-anak tanggung ini pulang sekolah. Terlihat dari seragam yang dikenakan. Namun saya kira ada yang kurang dalam pendidikan dasar mereka yaitu kurang terasah dalam budi pekerti.

Salam dalam perjalanan menuju Bandung.

— Evi

From WordPress Mobile

Bookmark the permalink.

16 Comments

  1. dulu sekolah kita masih ada pelajaran budi pekerti , dan insyaAllah, anak2 sebayaku gak ada yang nekat dan gak tau diri kayak gini …. 🙁

    gak tau kenapa kok ya pelajaran budi pekerti ini dihilangkan?
    lalu, peran ortu dirumah utk mengajarkan budi pekerti seperti nya tererosi oleh lingkungan anak2 ini bermain 🙁
    menyedihkan ………….
    salam

    • Bunda, katanya pelajaran budi pekerti sdh terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Makanya gak ada pelajaran khusus. Tp sebagaimana halnya semua yg samar2 jarang di perhatikan, aku pikir gak ada murid yg menaruh perhatian khusus pada budi pekerti saat pelajaran matematika. Saat kita belajar bahasa, pikiran kita tertuju pd pelajaran tsb, bukan pd budi pekertinya. Kalau tidak dibicarakan jelas, kalau gak fokus, siapa yg akan memperhatikan yah Bun? Apa lagi rentang perhatian kita terbatass, mana yg mau di utamakan matematika atau budi pekertinya? Belum lg syarat etika guru, tidak ada jaminan semua memiliki budi pekerti seharusnya.
      Aku pikir, agar lbh efisien dan mencegah kian carut marutnya karakter bangsa lebih baik budi pekerti dimasukan lg secara khusus dalam kurilulum. 🙂

  2. salut sama mbak Evi bisa ngambil foto spt di atas

    membayangkan kelakuan anak anak itu .. aduh … mikir kalau jadi ortunya gimana ya ?

    • Buru-buru sangat agar tak kehilangan momen Mbak Ely, makanya gak sempat ngambil camera pocket yang selalu saya bawa kemana-mana.
      Yah kelakuan seperti ini memprihatinkan

  3. wah… itu memang tidak sopan…

  4. Mereka ingin eksis tapi tidak etis. Sangat disayangkan generasi muda yang tidak tahu etika..

    • Mb Hiji, saya tuh pendukung utama kalau pelajaran budi pekerti dan etika di masukan lg sbg mata pelajaran khusus di sekolah. Budi pekerti sbg mata pelajaran dihapus, katanya sdh terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Tapi setelah melihat dekade terakhir dari generasi kita dan dibawahnya kok ya saya gak yakin efektifitas keintegrasian tersebut 🙂

  5. Bener banget, mbak, itu menandakan ada yang salah dalam pendidikan budi pekerti mereka, dan kalo soal budi pekerti seperti ini saya lebih condong melihat bahwa tanggung jawab terbesar adalah pada orang tua…

    • Saya juga setuju mb Allisa sebagai orang terdekat dan guru pertama anak, orang tua lah yg memberi dasar pertama karakter anak. Faktor kenakalan seperti ini, mungkin, ada dr faktor ikut2an, peer presure dan semacamnya. Namun bila fondasi budi pekerti kuat dari rumah, aku pikir yg beginian gak perlu terjadi. Apa ubtungnya coba, rugi iya..

  6. Bu, pernah nongton film “Si Kabayan” dimana mertuanya selalu menyebutkan mantunya dengan panggilan -Si Borokokok-. “Borokokok” adalah perilaku tidak terpuji dan jangan sampai ditiru oleh orang-orang yang mengerti tentang budi pekerti. Mencoret-coret bangunan, tempat rekreasi, patung di taman, bahkan merusak fasilitas umum adalah perilaku Si Borokokok.

    • Waktu peran Kabayan masih di sandang almarhum Kang Ibing, saya sering nonton di TV P Eman. Sambil muter sirih di mulutnya, mertua nyi Iteng yg bawel emang sering menyebut Barokokok. Karena gak ngerti yah melupakanntmya begitu saja. Jadi barokokok adalah sifat tak terpuji ya. Tks atas pengetahuannya Pak 🙂

  7. sayang sekali ya tindakan tidak terpuji dilakujan oleh anak sekolah

  8. Prihatin ya lihat orang tak bertanggungjawab dan berterimakasih. Di hutan, air terjun, tempat wisata lain pun tak luput dari aksi coret-coret seperti ini 🙁

    • Begitulah Mas Yopie, aku td sampe ngomong begini : ” ini anak otaknya ditaruh dimana ya”. Habis nakalnya yang kagak2 begitu. Apa saja dicoret. Lagian beli pilox kan pake duit, kok gak sayang ya belanja utk yg gak ada manfaatnya

Leave a Reply