Resort Masa Depan yang Aduhai

A Road to Heaven

Sekarang lokasi pemakaman tidak harus bersuasana seram, magis dan merindingkan bulu kuduk. Bila sewaktu-waktu terdampar ke sana selagi hidup buang jauh-jauh bayangan tersebut. Walaupun tidak terlalu sering berkunjung ke tempat seperti itu, seperti ke Karet Bivak,  saat orang tua seorang teman meninggal, kesan saya kuburan disana tidak seseram yang ada di kampung saya di Bukittinggi. Orang Minang yang sudah meninggal kebanyakan memang di lupakan. Setidaknya terlihat lewat simbolis kuburan yang ditelantarkan dan akhirnya menghilang diantara semak-belukar. Kakek saya wafat sekitar 35 tahun lalu, namun sekarang sudah tak ada tanda-tanda dimana orang pernah mendirikan nisan untuknya. Lokasi pemakaman keluarganya mirip belantara tak terjamah ketimbang tempat peristirahatan terakhir.

Berbeda dengan di Pulau Jawa. Disini makam relatif terpelira. Itu karena minimal satu tahun sekali ada sanak-saudara atau kerabat datang menziarahi. Baik  menjelang Ramadhan maupun lebaran. Pada etnis Cina jangan di kata lagi.  Tiap tahun ada hari khusus yakni Ceng Beng  ( hari ziarah kubur) yaitu ketika anak-anak dan keturunan para leluhur datang bersembahyang ke makam orang tua yang mereka hormati. Dengan meletakan berjenis makanan sebagai persembahan dan tanda bakti, mereka berharap agar arwah para leluhur merestui hidup mereka. Makanya kalau tidak digusur, makam orang Cina bisa terpelihara sampai beberapa generasi.

Beberapa waktu lalu saya ikut mengantar kerabat seorang teman ke tempat peristirahatan terakhirnya di San Diego Hills, sebuah pemakaman mewah di Karawang. Disini konsep kuburan baik ala Indonesia maupun Cina tidak terlihat lagi. Sejauh mata memandang hanya ada bentangan rumput hijau yang melandai dari bukit-bukit kecil, tertata rapi mengelilingi danau sekitar 8 hectar. Di area kuburan Kristen ini ada gazebo-gazebo putih yang enak digunakan duduk-duduk dan memandang area sekitar. Saya tak tahu untuk siapa gazebo itu ditujukan, untuk yang  di bawah atau yang di atas tanah. Yang jelas gazebo itu  membuat landscape tampak seperti halaman belakang puri-puri yang ada di Eropa.

Itu saja belum cukup. Lokasi pemakaman tidak dirancang secara muram. Ada bentangan karpet hijau menuju tenda dimana almarhum akan dikebumikan. Tidak terlihat hamburan tanah bekas galian. Semua tertata,  tertutup karpet, rapi dan bersih. Saya menyempatkan diri melongok ke lubang dimana peti mati akan diturunkan. Membayangkan bahwa seseorang yang dihormati selama hidupnya akan disekap disitu untuk selamanya, membuat dada agak terguncang. Walau tidak persis seperti ini, suatu hari nanti saya juga akan berada di bawah tanah. Aiiihhh…sesuatu seperti menggenggam jantung saya 🙂

Keceriaan bahwa tempat ini adalah tempat terbaik membaringkan terakhir kalinya orang-orang tercinta di dibangkitkan dengan membuat tempat itu layak sebagai tujuan wisata. Ada jogging track, ada restoran, ada kolam renang dan ada gedung pertemuan yang sejuk ber AC dengan arsitekturnya dirancang secara apik. Saya perhatikan walaupun itu adalah peristiwa pemakaman tidak terlihat wajah kesedihan yang mendalam  dari mereka yang hadir. Pada makan siang setelah usai pemakaman, dalam gedung pertemuan, masih ada gelak tawa diantara obrolan. Tidak hanya pada keluarga yang saya ikuti tapi juga pada keluarga-keluarga lainnya yang duduk berkelompok tak jauh dari situ.

Setelah saya pikir keceriaan itu tidak di buat-buat. Dan tidak pula satu bentuk dari sikap kurang ajar. Ini adalah lokasi makam orang berduit. Orang berduit bisanya meninggal pada saat yang tepat  alias pada usia lanjut. Sebelum meninggal  pun biasanya mereka mendapat perawatan terbaik dari anak-anak. Jadi memang tak ada alasan bersedih untuk mereka.

Lagi pula ketika kita telah menuntaskan semua kewajiban dan mencapai sebutan tua dan pensiun, kematian adalah sebuah berkah? Dan kematian yang berkah bukan lah sesuatu yang perlu di tangisi, bukan?

Setelah peti mati turun, lubang ini ditutup diatasnya dengan beton berat. Untuk mencegah pencurian mayat kali yah..

— Evi

Bookmark the permalink.

29 Comments

  1. Wah ternyata Uni Evi urang Bukik ma…. 🙂

  2. wah….elit banget, thx infonya mba evi
    bisa pakai KPM (kredit pemilikan makam) ??
    kalau tidak bisa gpp….nyari yang gratisan, dimana yah…[jaman gini…]??

    • Eh disini kayaknya ada KPM deh Mas..Soalnya saya dengar ada cicilan segala kok..Tapi yang beli kavling disini gak semua untuk dipakai kok. Ada juga untuk investasi, maksudnya nanti kalau harga naik di jual lagi. Pemakaman itu masuk bisnis properti kelihatannya deh 🙂

  3. Oh ini toh San Diego Hills, sering melihat saja kalau lewat dari Jakarta, meski memang tempatnya sangat-sangat menarik tapi kalau hanya untuk dikubur di pemakaman umum saja deh.. Terima kasih atas postingan yang menarik Bu

    • Nama pemakaman ini sekarang sdh terkenal yah Pak Eman..Ya begitu lah keadaannya tempat ini memang bukan untuk semua orang. Saya juga Pak. Kita-kita rakyat jelata ini mending di TPU saja, biar gak nyusahan mereka yang masih hidup 🙂

  4. Kalo kami di Manado, biasanya setahun sekali pas malam pergantian tahun mengunjungi makam kerabat terdekat, mbak, bukan untuk berdoa minta berkat dari mereka tapi sekedar berkunjung mengingat mereka kembali dan mensyukuri hidup yang masih Tuhan berikan. Jadi kalo di kampung saya, pas malam pergantian tahun, di area pemakaman terlihat semarak oleh lilin-lilin yang banyak sekali dinyalakan, mbak 🙂

    • Wow, pas malam tahu baru di arena pemakaman pasti suasananya romantis magis dengan kerlap-kerlip lilin itu ya Mbak. Sebuah tradisi yang menarik. Kapan-kapan diceritakan dong di Blognya atuh Mbak 🙂

  5. kalau saya berpendapat kesan serem dan ngeri diperlukan untuk sebuah pemakaman. Biar yang masih hidup bisa bertafakur dan merenung jika giliran dia akan datang juga kelak.
    entahlah.. saya berpikir orang-orang berduit itu ada-ada aja cara menikmati hidupnya dengan uang. Padahal yang perlu kita pikirkan adalah “apa yang harus kita pertanggungjawabkan saat di liang lahat?”. bukan “seperti apa perayaan kita saat menuju liang lahat”

    salam kenal mbak 🙂

    • Setuju sih Mas Akbar bahwa kesam seram dan ngeri akan membuat orang tafakur. Tapi kayaknya sdh gak begitu mempan di Indonesia deh 🙂 Buktinya sdh berabad-abad kuburan berikut cerita-cerita mistisnya akrab dengan kita, buktinya di negara aneka kejahatan yg berhubungan dengan kekuasaan tetap terjadi. Kaayaknya kesan seram sdh gak mempan, mestinya dikasih lihat cerita seram benaran 🙂

      Salam kenal kembali Mas Akbar

  6. benar-benar jauh dari kesan serem ya bu
    bahkan anak-anak pun kayaknya senang bermain di sana

  7. Suasana yg hijau dan apik menenangkan keluarga yg ditinggalkan. Sebagian besar area pemakaman auranya serem n berantakan Mbak Vi.
    Wah, kalo pun saya makmur (aamiin), sepertinya saya berwasiat dikubur di TPU biasa saja. Dananya buat kesejahteraan anak-anak.
    *Hiks, ingat mati jadi melo*

    • San Diego Hills ini emangs spektakuler dalam budaya kita yang membengkalaikan tempat orang yg sudah tiada Mb Hiji..Membuatnya layak sebagai tempat piknik emang rada membalik cara berpikir kita tentang sebuah makam selama ini 🙂

  8. dari sini saya dapat mengambil pelajaran,
    menghargai orang itu tidak hanya di waktu hidup, tapi seseorang telah tiada, maka kita juga menghargai orang tersebut…
    benar gak uni?

    • Betul Jo..Menghargai yg orang tak hanya saat hidup (walau lebih bernilai saat mereka hidup), apa lagi sikap menghargai itu plus punya fulus pula, lebih sesuatu pastinya 🙂

  9. Sebelum saya baca tulisannya, saya sudah senang lihat gambarnya…
    Bagaimana rasanya kalau ‘sudah’ di sana ya? Pemakaman yang keren…

    • Pemakaman seperti ini hanya punya nilai bagi yg hidup Mas..Bagi yg sdh mati, apa gunanya yang beginian. Kalau masuk surga tempatnya pasti lebih indah. Kalau banyak dosa..Yah Mas Falz tahu sendirilah masuk kemana…

  10. kalau ndak baca postingan ini aku jg nggak tahu mbak ada pemakaman asri kayak gini 🙂
    lain drpd yg lain ya , pertama kali kubaca namanya tak kira di amrik deh , ternyata di tanah air

  11. waahh keren buk, pake karpet plus ada gajebo segala.. ckckckckck.. kok di tempat saya gk seperti ini yaa?? hehe 😀

  12. karawang jadi kota peristirahatan ya skr selain san diego ada juga tempat lainya kalau tidaj salah srntosa apa gitu mbak.waktu lewat saya baca

    • Artinya emang ada segmen di ceruk pasar ini Mb Lyd, maka pengembang membuka pemakaman mewah Taman Memorial Graha Sentosa ini selain San Diego Hills 🙂

  13. karawang jadi kota peristirahatan ya skr selain san diego ada juga tempat lainya kalau tidaj salah srntosa apa gitu bun.waktu lewat saya baca

  14. Wah baru tahu ada pemakaman seperti ini… Salam kenal ^_^

  15. Ni Made Sri Andani

    Pemandangan yang sangat indah ya… Mungkin tepatnya untuk dinikmati keluarga orang yang ditinggalkan..

    Saya pernah melihat developer “perumahan masa depan’ itu sedang pameran di mall dan saya digeret untuk mampir ( sst.. barangkali disangkanya saya kaya Mbak he he..). Jadi saya mau aja duduk sambil melihat-lihat. Wah harganya gile! Kavling kecil aja waktu itu ternyata harganya berkali-kali lipat rumah cicilan saya he he.. Tapi memang apik sih ya..

    • Begitu pula dengan aku Mb Dani, ketimbang buat beli tanah yg luasnya gak seberapa mending dimanfaatkan untuk kebutuhan yang masih hidup..Tapi kalau duit sudah berlebih, gak ada serinya lagi, mau lah pasti punya kavling disini. Minimal kalau anak cucu ziarah ada yg mereka lihat hehehe…

Leave a Reply