Piknik ke Gedung Sate dan Sekitarnya

Pelatakan batu pertama oleh Nona Johana Caaatherine Coops, putri sulung Walikota Bandung B. Coops ketika itu

Selesai urusan bisnis saya ngajakin suami untuk piknik ke Gedung Sate. Dia heran, untuk apa kan kami sudah puluhan kali lewat di sana?  Saya katakan dulu gedung sate hanya sebagai salah satu ikon kota Bandung, tapi sekarang saya pengen  jadi bagian dari sejarahnya  yang oleh Belanda disebut Gouvernements Bedrijven (GB) itu. Gak apa lah walau cuma sebagai pengamat dan  menuliskan di blog ala kadarnya 🙂

Sampai di lokasi magrib hampir tiba. Sisa hujan lebat yang diakhir rinai gerimis  satu-satu membuat jalan dan pohon di depan gedung yang sekarang jadi pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat ini tampak kuyup. Suasana teduh dengan udara segar amat terasa. Namun itu tak mengurangi fakta bahwa Bandung sudah berubah. Senja merah yang tak berangin di bekas Wilhelmina Boulevard ini tidak dingin sama sekali. Tanpa udara dingin, menurut saya, Bandung kehilangan sebutan Paris van Java-nya.

Selesai mematut-matut Gedung Sate dan bersay hello dengan Pak Satpam yang gardunya terletak di belakang gerbang besi tinggi  yang  sudah terkunci, kami  beranjak ke Jalan Cisangkuy. Di sebelah kanan terdapat Taman Lansia yang pada hari-hari libur  ada atraksi naik kuda bagi anak-anak untuk mengelilingi taman tersebut. Mengherankan juga disebutnya Taman Usia Lanjut. Mungkin sebagai dedikasi masyarakat Bandung pada  manula mereka. Yang jelas di sepanjang jalan Cisangkuy pengunjung bisa memanjakan selera. Ada resto Resep Eyang yang pada temaran senja tampilan dari luar  tampak cantik sekali. Ada kedai surabi, ada mobil yang berjualan keripik  dan tentu saja ada kedai Youghurt Cisangkuy yang terkenal itu.

Walau nama Youghurt Cisangkuy begitu terkenal bagi pelancong untuk menikmati susu asam, namun kedainya sendiri cukup sederhana. Sepetak ruangan dengan meja dan bangku kayu, menempel pada sebuah bangunan. Itu lah kehebatan word of mouth marketing, tak perlu bermewah-mewah, tak perlu promosi besar-besaran, hanya perlu rekomendasi teman atau ditulis dalam blog, maka mereka yang berkunjung di sekitar gedung sate pasti akan menyempatkan diri berkunjung kesini.

Selesai di kedai Cisangkuy, belok kanan dan masuk ke jalan yang Cikaliki,  eh bersua dengan bangunan Kantor Pos yang jadi bagian dari Gedung Sate. Dari jalan Diponegore gedung ini tadi tak terlihat. Jadi walau masih gerimis saya turun dari mobil untuk  memanjakan mata dan memainkan camera pocket saya sejenak 🙂

Salam,

Bookmark the permalink.

35 Comments

  1. Bandung euy…
    Gedung Sate memang arsitektur mengagumkan!!!
    saya punya foto peletakan batu pertamanya….dulunya memang sekitar gedung sate juga gersang…..tapi urang walanda…menciptakan hutan jalanan di sekitar gedung sate…..

    • Hebat nih Mas, punya foto peletakan batu pertamanya. Kelihatan gak si noni Belanda anak walikota itu? Kapan-kapan share dong Mas Nur. Tks sebelumnya 🙂

  2. Allisa Yustica Krones

    Saya beberapa kali ke Bandung gak pernah sempat menikmati apa-apa, mbak, ke sananya pagi, ngerjain tugas kantor, malam udah turun lagi ke jakarta, hampir selalu seperti itu. Jadi ya termasuk Gedung Sate ini, saya cuma numpang lewat aja 😀

  3. Ni Made Sri Andani

    Asyiknya jalan-jalan…Wah, jadi pengen main ke Gedung Sate juga.

    Tapi memang iya.. kenapa ya Bandung sekarang kok nggak dingin lagi? Aku juga ngerasa ” Paris Van Java” nya jadi berkurang banyak kalau udaranya nggak lagi dingin..

    • Banyak sebab pastinya Mbak Dani. Selain pemanasan global, pengalihan lahan hijau sampai kepadatan penduduk pasti berpengaruh terhadap iklim Bandung 🙂

  4. di belakang gedung sate , ada cuan kie yang enak banget, kalau makan disana , pasti bawa pulang ke jakarta juga ,Evi 🙂
    (komennya OOT yaaa… ) 😛
    salam

  5. ahhh fotonya menipu, membuat yang melihatnya rindu Bandung, membayangkan suasana tenang, jauh dari kemacetan, hiks. padahal selalu kena macet dan jauh dari ketenangan saban pergi ke Bandung

  6. Bu, sebetulnya dari samping museum Pos yang berada di jalan Cilaki itu ada jalan menerobos memasuki kompleks gedung sate, kita bisa melihat dari dekat betapa kokoh bangunan ini, ujung dan lekukan bangunan yang digarap secara detil, dan kuat sekali tidak ada yang rompal sedikitpun

    • Untuk bangun membangun, kita emang terpaksa angkat topi pada Belanda yah Pak Eman. Entah waktu itu belum ada korupsi atau jiwa mereka gak kenal itu, setiap bangunan yg mereka tinggalkan di wilayah Indonesia, kalau gak dirubuhkan secara paksa masih akan terlihat sampai sekarang. Kok kita gak bisa belajar dari sana yah?

  7. Ini yang disebut bisnis tanpa harus stres ya Bu …
    Semoga lancar jaya …

  8. duuuh mantaaap jadi kangen bandung 🙁 tapi bandung sekarang makin macet aja euy :(. apalagi sabtu minggu, ga hanya di bandungnya, jalan menuju bandungnya juga puarah macetnya…

    • Bandung sudah kakak adik dengan Jakarta Mas. Entah mana dari lalu lintasnya yg lebih macet dan lebih sembrawut. Tapi menurut orang Bandung sih itu ulah penduduk Jakarta yg datang menyerbu kota mereka..:)

  9. bandung jadi panas, ya mungkin itu salah satu dampak pemanasan global

  10. Cara beriklan yang efisien dan economis… lagi pula tidak diragukan lagi apabila yang merecomendasikan adalah teman dekat…

    • Betul Mas Choirun, orang lebih percaya apa kata teman dekatnya ketimbang mendapat gelontoron informasi dari iklan. Tempat2 hangout di Bandung sepertinya punya strategi marketing ketuk tular begitu..

  11. Uni, gedungnya tidak terlihat seperti sate…
    Sepertinya yogurt enak… (langsung laper)

  12. wah, si uni ke bandung diam2,
    kasih kabar donk ni, sekalian kopdar, 🙂

  13. kenapa ya gedung itu disebut gedung sate,? penasaran …

    • Karena ada sebentuk menara yang mirip sate dan lidinya diatas atapnya Mas. Nah mengapa tusuk sate itu nyantel disana dan untuk apa fungsinya, itu yg belum aku tahu 🙂

  14. yoguhrt nya menggoda buk.. sayang dah, dhe sama sekali belum pernah berkunjung ke Bandung.. tapi bakal diingat kalo ke Bandung berarti harus mampir ke gedung sate.. hehe 😀

  15. Gedung sate sering keluar setiap ujian di jaman saya…lama2 bumi bosan dengan tingkah kita ya….kita hanya mau menang sendiri….

    • Gak hanya gedung sate Mas Budi. Waktu sekolah dulu kita kan juga disuruh ngapalin nama-nama gubernur di Indonesia kan yah? Nah sampe sekarang aku ingat nama satu Gubernur Jabar yaitu Bapak Aang Kunaefi. Sekarang ditanya siapa nama menteru anu, gak tahu, jadi boro-boro hapal nama gubernur jabar saat ini. h Dede Yusuf wakil Gubernur atau wakil wali kota yah Mas hehehe…

  16. Yoghurt Cisangkuy favorit dari dulu itu Uni… pasti mampir ke situ kalau ke Bandung

  17. Benar Mbak Evi, Bandung sudah tidak sedingin dulu. Lahan terbuka hijau semakin sempit. Penduduk banyak, kendaraan membludak. Harus go green nie.
    Nice pict Mbak. 🙂

    • Bandung itu sekarang gak kalah sembraut dari Jakarta. Mo pergi ke Lembang, pas liburan, seperti mo naik ke puncak. Tol Cipularang dan FO membuat Bandung jadi metropolitan Mbak Hiji..Satu perubahan yg tak bisa dihindari. Semoga saja pemda jabar lebih waras yah, tdk merubah semua lahan hijau dan persawahan jadi perumahan dan mall 🙂

Leave a Reply