Naik Kapal Ro-Ro Merak-Bakauheni

Jalur lalu lintas naik dan turun dari kapal

Tak begitu pasti kapan saya pertama kali naik kapal Ro-Ro (roll on-roll off) yang menghubungakn Pulau Jawa- Sumatera lewat pelabuhan Merak-Bakauheni ini. Kalau tak salah saat sekolah di Padang dan pulang kampung ke Jakarta saat pas liburan. Saya katakan pulang kampung sebab kelas dua SD saya resmi jadi penduduk Jakarta dan hanya kembali ke tempat kelahiran setamat SLTA.

Dari Soekarno-Hatta ke Minangkabau International Airport kita cuma butuh waktu 1.5 Jam. Tapi di jaman saya muda mana ada penerbangan murah seperti sekarang. Walau sekarang Garuda masih elit, jaman itu penerbangan BUMN itu tak terkira elit dan mahalnya. Imposible lah bila untuk melepas rasa rindu pada ibu-bapak dmsaya harus naik pesawat. Maka seperti semua orang saya naik bus dari Bukittinggi, menyusuri punggung Bukit Barisan, menyeberang dari Bakauheni-Merak yang totalnya butuh waktu  2-hari 2-malam, baru lah sampai di Terminal Rawa Mangun.

Saya ingat pengalaman lucu pertama kali naik kapal Ro-Ro. Saat bus pelan-pelan meninggalkan dermaga apung lalu naik jembatan yg bisa bergerak menuju geladak,  saya mengamati pintu kapal yang terbuka lebar. Mirip masuk ke dalam perut ikan besar. Setelah itu bolak-balik melongok keluar. Saat itu hari sudah lewat senja. Namun dari  tempat duduk saya masih dapat melihat  bagaimana  air laut memukul-mukul tepian dermaga. Seketika saya panik, bagaimana nanti kalau tiba-tiba datang ombak besar lalu kapalnya terbalik. Aduh saya kan tidak bisa berenang…

Perasaan takut mati memaku saya di tempat duduk, lengkap dengan keringat dingin segala. Ketika semua penumpang di suruh turun, saya menggeleng dan minta ijin agar pak kondektur memperbolehkan tinggal di mobil. pertimbangannya kalau nanti kapal terbalik, saya kan terlindung dalam mobil. Begok? Emang! Nah teman saya yang disamping, yang pintaran, (biarpun teman enggak jaminan gak sadis), ngomong begini : ” Halah mati cuma sekali, kalau mau mati bisa dimana saja. Ayo turun!”

Setelah menikah saya jadi banyak urusan dengan orang Lampung. Maka frekwensi penyeberangan Merak-Bakauheni meningkat. Orang mengatakan alah bisa karena biasa. Gara-gara sering mondar-mandir di atas Selat Sunda, walau masih takut mati dan tetap tidak gape berenang,  sekarang kekuatan syaraf saya lumayan. Trauma pertama naik Ro-Ro pelan-pelan melenyap dengan bisa menikmati selat yang airnya membiru dengan lalu lintasnya yang padat. Bahkan kemarin insting eksplorasi saya ditumbuhkan dengan ikut naik ke buritan saat anak buah kapal melepas sauh.

Pengalamam lumayan lah. Jadi tahu bahwa mengoperasikan kapal mirip dengan menjalankan rumah tangga. Pekerjaan team yang hanya bisa dikepalai satu kapten tapi tanpa kerja keras crew kapal bisa saja tenggelam di samudera.

 

 

 

Bookmark the permalink.

26 Comments

  1. melengkapi kenyamanan perjalanan kan Uni, darat-laut-darat atau darat – udara – darat, saya ngaku baru setangkep maksudya pergi dan pulang saat ke Lampung via darat menikmati jeng roro. oh Roro kukira tadi roro mendut ternyata bukan ya, salam

  2. pengalaman bunda ketika naik kapal roro ini thn ’97, waktu pulkam ke bukik, Evi
    dan……. itulah utk yg pertama dan terakhir….. 🙁
    karena….
    diriku mabuk laut….hiks… 🙁
    salam

    • Wah kalo naik kapal pulang kampung emang agak berat Bun. Dari Tanjung Priuk sampai Tl Bayur itu sekitar tiga hari. Meski kapalnya besar macam KM Kerinci, aku juga merasa hal sama, 3 hari nginjak tanah lagi bumi serasa gempa terus. Perasaan msh melayang2 diatas ombak 🙂

  3. Saya belum pernah naik kapal ro-ro. Atau mungkin pernah tapi tidak ingat, Uni… Hehehehe… yang saya baru tahu dari postingan ini, ternyata ro-ro itu kepanjangan dari roll on-roll off…

  4. Aku suka naik kapal begini Uni, merayap, mengalun perlahan, hehe…
    Tapi aku baru tahu ini namanya kapal Ro- Ro 😉

  5. saya baru naik tiga kali uni,
    nah, lebaran idul fitri kemaren saya naik lagi,
    seperti biasa, setiap tahun mahasiwa minang di bandung mengadakan pulang basamo, saya di bus juga 2 malam 2 hari, tapi asyik uni,
    naik bus itu asyik, asalkan sama teman-teman, 🙂

    • Setuju Jo, jalan menelusiri punggung dan kaki Bukit Barisan ini lebih seru kalau di lakukan ramai-ramai. Apa lagi kalau masih muda dan teman sebaya..Wah, apa sih yg gak indah di masa-masa ini 🙂

  6. Sekarang kapal Ro Ro nya semakin banyak ya Mbak, pindahan dari Surabaya.
    Saya kepengen banget menelusuri jalan-jalan di Sumatra, cuma koq masih belum berani ya … Apa sekarnag masih butuh waktu 2 hari 2 malam gitu?

    • Pak Harja, sepertinya sedikit lebih cepat..Apa lagi kalau dengan kendaraan pribadi, kita bisa ngatur kecepatan dan gak perlu sering2 berhenti. Tapi kalau menelusuri Trans Jakarta, yah sebaiknya di lakukan dengan convoy..agar merasa lebih safe. Sedang jalnnya sendiri, di beberapa daerah memang ada yg rusak..Cuma dimana saja, emang saya gak punya data. Tapi menyusuri Trans Sumatera menurut saya benar-benar pengalaman yang menantang. Atraksinya tidak melulu hutan-hutan lebat di kiri kanan, tapi juga jembatang, sungai, sawah, kebun dan bentuk-bentuk rumah penduduk 🙂

  7. Ni Made Sri Andani

    Pengalamannya kok mirip banget sama aku yah.. persis!. Cuma selatnya yang berbeda. Aku nyebrang selat Bali.. ya gitu juga begitu bisa masuk kapal, aku juga mikir kok perasaan kaya masuk ke dalam mulut ikan paus dan aku juga awalnya nggak mau turun dari bus.. sampai dimarahin.

  8. masih sering lewat jalur ini,
    lama2 sampai hafal kapal mana yang nyaman he..he…

  9. saya belum pernah naik kapal roro di merak, kalau diketapang-gilimanuk sudah

  10. wuii .. 2 hari 2 malam naik bus, terbayang capeknya duduk terus

    tiket garuda sekarang juga masih lumyan mahal ya mbak
    aku belum pernah naik kapal besar dlm waktu yg lama mbak, kalau cuma menyeberang kayak waktu mau ke bali sih pernah, emang kayka mau masuk ke perut ikan ya mbak, gede sekali

  11. Iya ya mbak, jaman dulu jangankan Garuda, Bouraq, Merpati, sama Sempati Air aja mahallll harga tiketnya. Tapi beruntunglah kami, karena orang tua kerja di Angkasa Pura jadi suka dapat diskon gitu mbak terutama dari Garuda sama Bouraq kalo pas liburan anak sekolah 😀

    Saya belum pernah ngerasain nyebrang dari Bakauheni – Merak, nih 😀

    • Enak yah yang orangtuanya kerja diangkasa pura Jeng Allisa. Jd bakat jalan2 terasah sejak kecil hehe..Kapan2 mesti di coba tuh naik kapal laut, romantismenya beda dr naik pesawat 🙂

  12. sampai sekarang saya belum pernah naik kapal laut, takuuuttt 😀
    selain itu saya juga mabuk laut, berdiri di pinggiran laut aja saya bisa muntahmuntah *kampungan*
    Bu evi blog yg satu lagi bandwith-nya habis ya?

    • Wah untunglah ternyata ada yg lbh parah dr saya hehe..Gak ngerti tuh kenapa blog itu kehabisan bandwidth, padahal upload gambarnya sdh di hemat. Entah karena kunjungan kesana mulai meningkat. Lg diurus anakku Miss Titi biar dpt mengudara lagi. Tks atas perhatiannya ya 🙂

  13. Jadi ingat penyeberangan perdana saya menuju Payakumbuh, kota asal suami. Di Buritan, saya berpose ala Kate Winslet Titanic, merasakan hembusan angin. Haha, norak abis.

Leave a Reply