Kemeriahan Angkot di Padang

Si Jablay sedang cari penumpang

Yang saya maksud tidak seperti Bogor yang di juluki kota sejuta Angkot, yang angkotnya membuat macet jalan-jalan. Yang saya maksud kalau berkunjung ke Padang jangan lupa amati angkot-angkot  yang melintas di jalan raya. Itu seni sendiri dalam menikmati ibu kota Sumbar ini. Sebab sebanyak mata memandang tak satupun angkot yang bersih dari hiasan. Dengan warna body yang mencolok, digambar dengan lukisan atau karakter cartoon, angkutan itu mirip mobil karnaval alih-alih angkutan umum.

Entah dari mana idenya dan entah siapa pula yang memulai, bagi saya warna-warna dan lukisan itu kekanakan, mengundang senyum dan menimbulkan perasaan riang. Mungkin kreativitas corat-coret itu lahir dari kebiasaan orang Minang yang terbiasa dengan ukiran di rumah gadang atau corak motif dan warna tekstil pada pakaian adat. Jadi “gak banget” kalau membiarkan angkutan yang berfungsi sebagai sumber ekonomi dibiarkan polos begitu saja.

Satu yang jelas bahwa angkot berlukis ditambah aneka asesoris dengan lampu-lampu anehnya  diniatkan menarik hati penumpang. Tambah cantik angkotnya tambah banyak penumpang yang naik.

Untuk memanjakan pelanggan di dalam  juga  dipasangi tape atau CD dengan speaker bervolume tinggi. Kalau disetel suaranya berdentam-dentam.  Pernah mendengar musik yang amat kencang yang rasanya bisa terdengar sampai satu kilo meter. Angkotnya belum tampak (karena masih di pengkolan) tapi suara dan kelap-kelip lampunya sudah sampai.Bagi yang kelamaan hidup dirantau atau pendatang yang tak terbiasa suara  hingar-bingar di kendaraan,  lagu-lagu dangdut,  pop Inonesia atau Minang yang terdengar bisa bikin sakit kepala.

Tapi dimana-mana saya selalu berusaha menikmati setiap suasana, apa lagi disuguhkan  hiburan gratis, tak pernah keberatan dengan festival mata dan telinga 🙂

Orang Padang berkarakter egaliter dan terbuka. Namun kalau sudah menyangkut uang sama saja dengan orang Indonesia kebanyakan, jarang ngomong langsung. Maka untuk mengutip ongkos biasanya kenek berkata begini : ” Permisi Pak, Buk, Uda atau Uni, tolong untuk pembeli minyaknya “. Dalam bahasa Minang  ” Untuak pambali minyak” berarti untuk beli bensin. Saya yang suka mikiran hal tak penting pernah komentar dalam hati, ” lah untuk beli bensin kok ya gak habis-habis, ngomong saja ongkos gitu..”

Bila aneka asesoris tersebut dimaksud memberi service pada penumpang, tetap saja naik angkot di Padang jauh dari nyaman. Memang sih angkot beda dengan taxi. Terutama jika Anda bertubuh besar dan berkaki panjang dan angkotnya kebetulan penuh pula, berpergian bisa jadi sebuah siksaan. Pasalnya jok standar yang diberikan pabrik biasanya di modifikasi, susunannya diubah dan diselipkan jok baru untuk menaikan kapasitas penumpang. Rasa persatuan ” awak samo awak” (perasaan senasib) muncul dengan sendirinya dalam situasi seperti ini. Jadi penumpang yang duduk dekat pintu keluar harus bersedia turun-naik saat penumpang di bangku belakang mau turun terlebih dulu.

Yang menarik yang lahir dari perasaan senasib itu adalah toleransi terhadap bagasi sesama. Jarang ada yang komplain bila kita membawa barang sedikit berlebih. Diletakan dibawah kaki atau disurukan ke bawah jok, asal bilang permisi-permisi dengan sopan penumpang lain akan memaklumi. Begitu pula sepanjang tidak di letakan dibangku penumpang, biasanya sopir juga tak mengutip ongkos tambahan terhadap bagasi tersebut.

Salam,

Bookmark the permalink.

28 Comments

  1. saya selaku sopir angkot d padang sumatera barat sangat bangga dengan adanya mobil angkot seperti itu…..

    • Iya angkotnya meriah sekali Pak Hendra. Mengingat tema gambarnya yg beragam, aku kira ini Satu bentuk ekspresi dlm mengeluarkan pendapat 🙂

  2. semangat dan kreativitasnya boleh juga…

    hayo…. ada yang mau jadi sponsor “kontes kecantikan dan modifikasi angkot… 🙂 “

  3. Angkot ini pasti full music, dari ujung Banda Atjeh hingga Liwa di Lampung setahu Ane semua full music… .Asyiik… .

  4. ada nggak ya penumpang pilih angkot karena lukisannya bagus… he..he..
    meriah banget ya

  5. kunjungan balik,
    wah anakq pasti senang klo liat angkot full colour dan bgambar kartun 🙂

  6. Dinding angkot, mini bus dipenuhi dengan corat-coret tulisan. Sungguh kreatif pelukisnya. Kalau tembok rumah orang sering tidak dicorat-coret Mbak?

  7. bagus bagus ya uni….kelihatannya bukan angkot klo dimodif kya gitu
    salam kenal

  8. Begitu meriahnya, saya asli kliung-kliung begitu turun dari angkot. Berisik sangattt.

  9. di tempat saya gak jauh berbeda mbak. supir angkotnya kreatif dalam hal sound system. siilakan berkunjung ke Ternate dan Tidore, Maluku Utara. 😀

  10. meriah sangat dengan segala warna warninya si angkot ini ya Vi 🙂
    yang gak tahan suara musiknya itu lho…
    untung mereka mau sedikit mengecilkan suaranya kalau kita minta ya… 🙂
    salam

    • Iya Bunda. Biasanya kalau ibu2 atau bapak2 yang naik dan kalau diminta mereka akan kecilkan suaranya. Customer tetap sebagai raja disana, walau gak selalu heheeh…

  11. uni,
    saya ingat waktu kuliah di padang,
    3 tahun saya menikmati angkot padang, 🙂

  12. Corak angkotnya ekstrem, Mbak…
    Keren pasti… tapi yang saya tidak suka barangkali adalah ‘musik’-nya… Itu bisa bikin muntah (*saya membayangkan kalau suaranya sudah bisa terdengar sampai jarak 1 km)

  13. kreatif bgt ya mbak yg bikin angkot jadi warna warni bgt, jarang lihat di sini 🙂

  14. Berarti saya bakal susah naik angkot ini kalau penuh, badan dan kaki harus dilipat rapat 😀
    Duduk di bangku samping pak supir sepertinya kalau mau agak nyaman.

    • Masalahnya bangku di sebelah supir cuma dua Mas Yopie? Kalau naik dari halte gak masalah, pasti dapat tempat duduk, minimal tunggu mobil berikutnya. Yang repot kan yg nunggu di tepi jalan 🙂

Leave a Reply