Jalan-Jalan Sore ke Taman Menteng

Air mancur

Suatu masa dan kesempatan (mungkin juga karena tekanan),  pemda DKI bisa juga berpikir waras. Kali ini mereka tak berpikir tentang pengembangan komersil terhadap bekas Stadion Menteng yang sudah dibangun Belanda sejak tahun 1921.  Nilai sejarah dari bangunan itu tak beralih fungsi jadi mall atau pelebaran kawasan elite perumahan Menteng. Sekali lagi untung Pemda DKI sesekali juga waras. Setelah merubuhkan bekas markas laihan Persija  yang terletak di jalan HOS Cokroaminoto, sekarang mereka membangun lahan hijau terbuka diatasnya. Tempat itu sekarang bernama Taman Menteng. Tak hanya berfungsi sebagai lahan resapan air tapi juga dapat dinikmati masyarakat sebagai tempat rekreasi terbuka.

Kemarin saya berkesempatan masuk kawasan ini. Dari pintu masuk, taman seluas 3.4 Ha ini cukup menyegarkan mata. Pohon tinggi dan palem-palem tertata rapi ditingkahi bakung merah yang sedang berbunga. Tak cantik-cantik amat dan gak bersih-bersih amat, namun di tengah kesumpekan ruang di DKI, kehadiran taman ini cukup melegakan. Masih ada sisi manusiawi ditengah kemewahan vs kemiskinan yang terjadi di kota yang didirikan oleh Fatahillah ini.

Jalan dari bundaran air mancur menju lapangan basket

Ada bangku-bangku taman  dari besi yang enak duduk sambil pacaran. Jika Anda telah melewati masa itu tentu bersama keluarga. Saya mengambil tempat dibawah kerindangan sebuah pohon mirip beringin (tak ada keterangan itu pohon apa), ikut nonton anak-anak main bola di lapangan rumput dengan kaki telanjang. Di lapangan berplester semen sekelompok remaja latihan basket. Dan dibelakang juga terdapat sarana permainan warna-warni.

Saya bertanya kepada seorang pedagang minuman yang berkeliling dengan sepeda, seputar lokasi berdirinya patung Obama kecil yang pernah membuat beberapa orang naik darah saat presiden AS itu akan berkunjung ke Jakarta. Si mas menunjuk suatu tempat. Dan sebagaimana seharusnya, memang sudah tak ada jejak Obama di sana. Syukurlah. Emang apa sih jasa Obama untuk Indonesia sampai perlu diberi penghormatan sedemikian rupa?

Puas mengamati pemain bola berbadan kerdil-kerdil itu, terutama kipernya yang mungil tapi tangkas, saya beranjak ke dekat air mancur. Gak lama datang sekelompok remaja yang dengan sopan meminta mereka akan ngamen di depan saya dalam rangka menggumpulkan dana untuk acara sekolah. Yah tentu saja, mengapa tidak, saya menyambut.

Akan tetapi Jakarta tetap Jakarta. Bergelimang kemewahan sekaligus  kemiskinan. Ditempat  umum seperti ini amat mudah menemukan anak-anak yang sudah terpaksa turun tangan ke lapangan mencari uang. Yang saya temukan kemarin, menawarkan buku mewarnai untuk balita 10.000/eksemplar dengan alasan uangnya untuk beli makan. Dalam hati saya ngomong, ini bocah dagang atau minta-minta sih? Tapi baik lah beli 2 lembar toh tidak akan membuat saya jatuh miskin. Sebenarnya pengen tak mengambil buku tersebut, tidak akan terpakai juga, alih-alih memberikan saja uangnya pada si buyung. Cuma  otak saya memperingatkan, ” jika anak ini nanti benaran jadi menggemis, engkau punya andil di dalamnya.” Dia mendekati saya dengan berdagang, maka selayaknya saya memperlakukannya  sebagai pedagang. Setelah membayar, buku mewarnai balita itu saya masukan tas.

Disini terdapat 2 rumah kaca yg designya lumayan cantik nangkring di Taman Menteng. Tadinya saya pikir untuk menaruh tanaman langka yang membutuhkan kondisi khusus. Ternyata tidak. Dengan menyewa pada pengelola, bangunan itu dapat digunakan sebagai ruang resepsi , pameran atau acara-acara khusus. Saya pikir kalau ada pengantin yg berniat menyelenggarakan resepsi pernikahan di tempat ini, dengan tata lampu khusus, pasti pestanya akan dramatik sekali. Cuma saja ruangannya yah tak terlalu besar, sepertinya hanya cocok untuk pesta-pesta kecil.

Puas disana saya beranjak pulang. Baru sadar, ternyata di sepanjang jalan keluar ada sederet warung makan yang tertata rapi di kiri-kanan bahu jalan. Semacam street cafe lah. Pengen mampir. Namun mobil sudah kelanjur keluar dari gedung parkir dan disana tak ada (tak boleh juga) tempat parkir, yah akhirnya capcus saja pulang.

Jadi kalau ada yang berminat ganti-ganti suasana, taman menteng yang terasa banget merakyatnya ini bisa juga dijadikan satu tempat kongkow alternatif.

Salam,

Bookmark the permalink.

37 Comments

  1. wah mbak keren …hanya sering dengar namanya dan lihat penampakannya di TV, jadi pingin ke TKP langsung neh..:) penasaran..dulu pas dijakarta belom pernah sekalipun mampir dan jalan ke taman Menteng ini..

  2. Absen kembali mbak…nunggu yang baru, selamat pagi dan sehat selalu

  3. mm..bisa gak yaa orang seperti saya ingin menikmati keindahan taman menteng,???

  4. wah baru tau aku. syukurlah pemerintah sekarang menggalakkan membuat taman2 kota di jakarta. Selain buat penghijauan, kurasa warga jakarta juga banyak yang mual kalau jalan2 ke mall. Dan ga semua juga yang seneng ke mall. kalau kantong kempes, mana enak jalan2 ke mall. nah taman kota ini bisa jadi alternatif yang menyenangkan buat rekreasi

    • Kalau gak punya duit main ke mall emang cuma ngedatangin pusing. Akhir2nya untuk sebagian orang malah akan memicu lahirnya berbagai keresahan dan bahkan ke jahatan. Tempat ini emang bisa di jadikan untuk menggali potensi, entah olah raga, entah hanya nyantai2 saja cari inspirasi. Begitu, Mbak 🙂

  5. Wah baru liat bentuk dalamnya taman menteng.. Biasanya cuma lewat2 aja di depannya.. Bagus dan bersih.. Semoga ga ada tangan2 jail yang ngerusak fasilitas disana dan semua terjaga bersih selalu.. Semakin banyak taman di Jakarta semakin baik kan? *aduuh serius banget komennya nih* hehehe

    btw, salam kenal ^__^

    • Asal gak ada yg kasih contoh satu aja dan dibiarkkan, insya allah taman menteng akan tetep asri seperti ini. Salam kenal kembali. Sesekali serius gak ada yg larang kan 🙂

  6. Jadi mau jalan2 ke sana Mba..

  7. Kata pembukanya sadis, Ni.. berfikir waras.. wkwkwkwk

    Kudu diperbanyak tempat beginian.. Taman terbuka berguna buat tanah serapan.

    Itu ada foto yang unik… yang ngamen buat acara sekolah.. tampangnya kayak anak2 orang kaya deh… plis deh.. masa’ harus saingain dengan anak jalanan sih 😀

    • Hehehe..Saya emang punya branding “cipeh” di kampung…
      Kalau saja, iyah kalau saja, pendapatan negara gak bocor kemana-mana, apa susahnya sih bikin taman-taman seperti itu. Penghasilan negara kita lebih dari cukup untuk membangun fasilitas umum. Masalahnya anggaran belanja, sudah di markup gede-gedean, transferannya sering salah nomor rekening pula. Yah boro-boro untuk bikin taman, buat ngegaji pegawai rendahan negara saja dientit mulu..

  8. Mbak Evi, seingatku hari Sabtu kemarin aku udah komentar di sini, apa nyasar ke Spam ya? 😀

    Walo kurang bersih, tapi setidaknya masih ada taman kota seperti itu ya mbak, ke depannya semoga semakin banyak lagi taman kota yang disediakan pemkot di seluruh kota dan semakin baik pula pemeliharaannya dan yang terpenting semoga dana untuk itu tidak dikorupsi 😀

    Saya juga setuju banget tentang komentarnya soal monumen Obama itu, ada-ada saja idenya, untung sekarang gak ada lagi jejaknya ya mbak..

    Btw, foto-fotonya bagus sekali 🙂

    • Terima kasih atas infonya Mbak Allisa. Ternyata banyak komen teman-teman yg masuk folder spam. kalau gak dibilangin saya gak ngeh, soalnya emang gak pernah longok2 folder spam…

      Iya mengenai, dana perawatan, mari kita doakan mudah2an gak ada yg dikorupsi sehingga taman ini tetap terawat dan ada dana untuk mengganti pohon2 yg mati dan fasilitas yang rusak.

      Jika dibiarkan Obama nangkring disana, nunjukin banget kalau kita bangsa rendah diri. Ungtunglah akhirnya mereka sadar heheeh…

  9. Berharap biaya perawatannya lancar saja mbak yach…kayaknya lokasinya memang nyaman untuk bermain yach

  10. Ni Made Sri Andani

    Wah lumayan bagus juga jadinya tempat itu sekarang ya. Kelihatan bersih dan terawat.Banyak aktifitas yang bsia dilakukan publik di sana.

    • Ya Mbak Dani, untuk anak2 sikitar, yg tak punya lahan bermain, taman ini sesuatu untuk mereka sini skrg. Kalau saja tiap kelurahan punya lahan terbuka sprt ini, mungkin angka kenakalan remaja bisa di tekan ya, krn disini mrk bisa menyalurkan energi secara positif

  11. salam kenal mbak…^^
    jd ingat waktu masih tinggal di taiwan..taman jadi tempat favorit orang2 bt kumpul..ya ngobrol, olahraga, bikin acara tertentu..sampe temen2 indo bikin pengajian segala disitu..hehe..
    smg indonesia tamannya jg bs dimanfaatin…;)

    • Sepertinya Taman Tebet ini lama-lama juga akan seperti di Taiwan deh Mb Yulla. Rendezvous umat. Sebab di bawah gedung parkir saya juga lihat beberapa anak muda latihan nari moderen dan drama. Mudah2an akan sehebat gelanggang ramaja bulungan nantinya 🙂

  12. Belum pernah ke Jakarta, 😥

  13. asal jangan buang sampah sembarangan aja ya, mba….

    • Iya Mbak, mudah2an gak ada yg tega buang sampah sembarangan disini. Lagi pula keranjang sampah tersedia di banyak tempat, kalau masih juga buang sampah tak pada tempatnya, pasti saklevel dengan orang utan 🙂

  14. Berarti selama ini Pemda terlalu banyak ‘miring’ ya Mbak. Hehe.

  15. wow .. tamannya cantik mbak, terlihat bersih dan terawat rapi , pinter yg motret 🙂

    sayang kalau orang2 lebih suka nongkrong di mall drpd di taman

    • Hehehe..Cuma pakai camera pocket kok Mb Ely. Tks ya. Iyah setuju banget, ketimbang bolak-balik di mall gak puguh menurut saya mending nongkrong di taman atau di perpustakaan. Mata, hati dan otak akan jauh lebih sehat. Peruntukan Mall sebagaimana dia seharusnya, tempat belanja. Jadi kalau gak belanja ngapain ke mall 🙂

  16. tamannya bagus, bersih lagi… sepertinya saya jarang lihat di tempat saya… (atau mungkin saya yang jarang jalan-jalan, ya?)

    • Membuat taman seperti ini tenti butuh dana yg besar mas Falzart, selain untuk membeli lahan, membangun dan merawatnya. Bila pemda di tempat tinggal Mas Falzart bahwa taman seperti itu cukup worth-ed utk diadakan mereka pasti membuatnya …:)

  17. Walopun gak bersih-bersih amat, tapi setidaknya sudah ada ya mbak taman kota seperti itu dan semoga akan semakin banyak dan semakin terpelihara 🙂

    Foto-fotonya bagus2 sekali, mbak, dan saya setuju banget soal komentarnya ttg Obama, kadang memang kita berlebihan memandang sesuatu, hanya karena Obama pernah tinggal di Jakarta bukan berarti harus dibuatkan monumen seperti itu, masih banyak pahlawan kita yang lebih berhak mendapatkan pengormatan seperti itu 🙂

  18. semoga taman dan sekitarnya bisa terpelihara ya supaya lbh asri

    • Semoga biaya perawatannya gak disunat sana-sini Mb Lidya, jadi benaran dananya terkucur untuk merawat taman ini. Sayang saja kalau sampai rusak, terus berbagai kriminalistas pasti terjadi di dalam, yang akan membuat taman itu tak nyaman lagi untuk bermain 🙂

Leave a Reply