Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

My parents with their kids: One for all, all for one

Pada suatu ramadhan Bapak dan Ibu bikin pengumuman, siapa saja yang puasanya penuh  akan dibawa jalan-jalan  ke Panorama – Bukittinggi. Sebagai anak kampung yang mainnya cuma muter-muter di kampung, Bukittinggi itu tempat yang jauh, suatu tempat di belakang bukit dan awan,  yang hanya diakses oleh segelintir orang, termasuk yang puasanya full sebulan.

Maka persiapan menjelang piknik ke Panorama  itu seperti mau naik haji : Saya menerka-nerka kota itu seperti apa dan bagaimana rasanya menempuh perjalanan dengan delman yang hampir memakan waktu 2 jam. Akibatnya malam sebelum keberangkatan saya  gelisah, gak bisa tidur. Bolak-balik di kasur, berkali memeriksa baju, tas dan sendal yang akan dipakai besok  apakah masih berada di tempatnya. Karena rumah kami tak punya jam, patokan waktu berdasarkan suara adzan dari surau dan langgar, maka saya membangun ibu beberapa kali juga apakah sudah mendengar Inyiak Kalo (imam di surau kami) mengumandangkan adzan subuh? Saya takut kalau  ibu ketiduran lalu pikniknya batal, kan beda urusannya. Soalnya saya sudah cerita pada teman-teman tentang hari besar itu.

Pada hari itu Bapak-Ibu memanjakan kami semua. Baik yang puasanya full maupun yang tidak. Makan-makan di restoran bernama Sianok, jajan es lilin di kebun binatang dan masuk rumah adat yang ada di kebun itu. Rumah bergonjong itu menyimpan benda-benda pusaka Minangkabau selain juga tersimpan tulang ikan paus yang amat besar. Saya sampai pusing mikirin kok ya ada ikan sebesar itu. Terakhir kami main ke bekas peninggalan benteng Belanda bernama Fort de Kock dan berfoto di sana. Adik bungsu saya masih ngemut es saat di foto.

Coba tebak, dalam foto itu aku yang mana? 🙂

Tulisan ini disertakan pada Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433 H di Blog Dhila13

Bookmark the permalink.

27 Comments

  1. Pingback: Para Peserta TASBIH 1433 H | thePOWER ofWORDS

  2. wah…bukittinggi. itu kampung, eh…kota saya, ibu evi.
    senang bertemu & berkenalan dengan ibu di dunia maya.
    salam ska
    *skampuang 🙂
    assalaamu’alaikum wr.wb.

  3. waa… potonya klasiik..

    aku catat ya ibuu 😀

  4. asiknya masa kecil tamasya ke kota naik bendi..
    kalo sekarang dari Magek ke Bukik GPL dong ya.. 😀
    ***takanang jo Bukik, taragak dun sanak sadonyo….

  5. Bagamaimana pun foto hitam putih akan mempunyai kenangan manis tersendiri apabila mampu dirawat dengan baik. Foto diri Mbak Evi yang duduk dekat Bapak itu ya?

  6. 2 jam naiak bendi ka panorama dari ma tu ni ?

  7. Kenangan sangat manis Uni, berharap kitapun bijak meracik kebersamaan agar menjadi kenangan indah bagi anak-anak ya. Salam

  8. wajahnya hampir sama ya mbak, terus terang ndak bisa nebak, mbak Evi yg mana

  9. Satu untuk semua dan semua untuk satu…sungguh indah mbak yach…yang lebih mantep…fotonya masih terawat dengan baik mbak yach

  10. Ondeh.. sero yo jalan2 basamo keluarga 😀

  11. wah, ampun deh mba, aku ndak bisa nebak, ini aja baru mau kenalan. kunjungan perdana *salam kenal yo mbak 🙂

  12. photonya tahun berapa tu uni?

    coba saya tebak, kalau gak salah uni yang dekat ibu ya?

  13. Foto hitam putihnya kereen..
    Yang mana ya Mba Evi..*penasaran*

  14. Begitu saya perhatikan, tanpa melihat foto yg sekarang, menurut saya adalah yg sebelah kiri mbak. Betul gk?? hehehe … salah ya?

  15. salah satu kita melakukan sesuatu (seperti puasa) adalah karena adanya motivasi imbalan, entah apapun itu bentuknya

Leave a Reply